Badai Demi Badai Pun Berlalu, Vanaloka Kini Kembali Damai

  • Whatsapp
Ilustrasi memancing
Ilustrasi memancing di pantai. (Ilustrasi: Nusaweek)
banner 468x60

PENGUASA Kerajaan Vanaloka, Raja Vira Kunjara, memerintah dengan bijaksana dan dicintai oleh rakyatnya. Namun, suatu hari, ada kabar buruk yang mengejutkan seantero kerajaan. Raja Vira Kunjara dinyatakan mengidap penyakit langka yang memerlukan pengobatan serius.

Adipa Anjarwida, seorang punggawa kerajaan yang ambisius, berpikir keras setelah mendengar kabar tersebut. Dia melihat ada kesempatan untuk memperkaya dirinya sendiri dan mencari nama sehingga lebih dekat dengan takhta kerajaan. Dengan cerdik, ia mulai menyebarluaskan isu mengenai penyakit Raja dan urgensi pengobatan yang mahal dari tabib ternama. Rakyat, yang mencintai Raja mereka, merasa bersimpati dan bersemangat ingin membantu.

Read More

Adipa Anjarwida memutuskan untuk berperan sebagai pemimpin yang peduli. Dengan senyum manis, dia mulai mengumpulkan sumbangan dari rakyat dengan dalih untuk biaya pengobatan sang Raja. Dia berbicara dengan penuh semangat tentang kewajiban moral untuk membantu Raja mereka dan berjanji untuk menyerahkan dana tersebut.

“Pengumuman … pengumuman! Saat ini Baginda Raja sedang sakit. Karena dalam kondisi sakit serius dan biaya tabib mahal, Baginda membutuhkah uluran tangan kalian. Bagi kalian yang masih mencintai sang Raja, silakan salurkan bantuan kalian lewat aku. Nanti biar kuteruskan kepada Baginda. Semoga Baginda lekas sembuh!!! Demikianlah pengumuman yang disebarkan oleh Adipa Anjarwida di tempat-tempat umum, seperti pasar, alun-alun dan lain-lain, ditemani oleh para sahabatnya.

“Tuan…..tuan, hamba membantu pengobatan Baginda. Ini sekadar bantuan dari kami, rakyat yang mencintai Baginda!” kata seorang lelaki tua yang mewakili teman-tamannya di pasar rakyat.

Demikianlah, dalam waktu singkat berita kondisi Baginda cepat menyebar di tengah-tengah  masyarakat. Tentu saja mendapat sambutan positif dan simpati dari mereka yang sangat mengkhawatirkan kondisi Baginda.

*******

Namun, keinginan untuk kekayaan menguasai hati Adipa Anjarwida. Seiring dengan berjalannya waktu, dia mulai mengambil sebagian besar sumbangan untuk dirinya sendiri. Sebagai tanda ketidakjujuran, rakyat mulai mencurigai tindakan sang adipati. Mereka melihatnya hidup dalam kemewahan dan kemakmuran yang jelas-jelas bertentangan dengan tujuannya mengumpulkan uang untuk Baginda Raja yang sakit.

Penampilannya banyak berubah. Di samping itu, ia suka minum-minum bersama para sahabatnya. Ini adalah karakter yang tidak biasa, sebagaimana ia pada keadaan sebelum memungut sumbangan.

“Lihat…lihat itu, Adipa kita kini berubah drastis,” kata seorang warga yang kebetulan minum di sebuah warung.

“Jangan…jangan ini ada kaitannya dengan sumbangan yang kita titipkan untuk Baginda raja yang sedang sakit ya?” sahut temannya.

“Aku juga menangkap seperti itu.”

“Lebih baik nanti kita sampaikan kepada sahabat kita yang bekerja sebagai bendahara kerajaan itu.”

“Waahh….bagus….bagus idemu daripada kita ribut di sini.”

*******

Salah seorang punggawa kerajaan, bendahara kerajaan, Vide Argawa, setelah mendapat informasi dari kedua sahabatnya itu, segera menindaklanjuti.

Ia pun merasa curiga karena sumbangan dari kadipaten itu biasanya dalam jumlah yang cukup besar. Tidak seperti pernah dilakukan sebelumnya. Karena itulah, ia lalu memutuskan untuk menyelidiki ulah Adipa Anjarwida.

Setelah menyelidiki dengan cermat bersama punggawa kerajaan terkait, Bendahara Vide menemukan bukti bahwa Adipa Anjarwida telah menggelapkan sebagian besar dana sumbangan dari masyarakat untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya.

Bendahara Vide segera melaporkan dugaan penggelapan itu kepada Raja Vira Kunjara. Sang Raja, meskipun masih dalam kondisi lemah karena penyakitnya, masih memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Dia memutuskan untuk memanggil Adipa Anjarwida.

“Maaf Baginda….menurut hemat hamba, Adipa Anjarwida sebaiknya ditangkap saja agar tak melarikan diri,” kata patih Rabhima, yang sudah bebas murni dari tahanan atas tuduhan fitnah bebarapa waktu sebelumnya.

“Benar…Paman! Punggawa Adipa harus segera ditangkap agar tak melarikan diri. Sudah banyak penilep uang rakyat yang tak diketahui rimbanya kini tanpa melalui proses peradilan. Mulai saat ini kita harus bersikap tegas. Kita usut dan perintahkan prajurit kerajaan untuk menangkap yang bersangkutan,” kata Baginda.

Saat dihadapkan dengan bukti-bukti, Adipa Anjarwida merasa teropojok dan tak bisa mengelak. Rakyat yang awalnya berpikir dia adalah sosok pahlawan, sekarang melihatnya sebagai penipu yang licik. Raja Vira Kunjara, dengan bijaksana, menghukum Adipa Anjarwida dan memerintahkan untuk mengembalikan uang sumbangan tersebut untuk diteruskan kepada bendahara kerajaan

******.

Dua hari berikutnya, Adipa Anjarwida ditemukan tewas mengambang di pantai dekat pemancingan. Menurut kabar yang beredar dan bendahara kerajaan, punggawa Adipa sudah menyelesaikan tanggung jawabnya untuk menyetorkan kekurangan uang sumbangan rakyat kepada bendahara kerajaan.

“Menjelang siang tadi, aku melihat punggawa Adipa diantar oleh dua orang memancing ke pantai itu. Entahlah apa yang terjadi kemudian!” kata seorang pemancing kepada temannya.

“Beliau memang orangnya agak ambisius. Tapi, itu lho….!!”

“Itu…….apa maksudmu?” tanya temannya penuh penasaran.

“Maksudku,…..teman-teman di sekelilingnya itu. Mungkin saja mata mereka hijau setelah melihat tumpukan uang begitu banyak. Dulunya, ia orang yang baik.”

“Nah….kalau yang itu bisa jadi. Karena aku juga melihat perubahan drastis pada diri Adipa akhir-akhir ini.”

“Apakah kamu yakin ini sebuah kecelakaan?”

“Kenapa kamu berkata demikian?”

“Begini. Adipa kan sudah bertanggung jawab untuk mengembalikan kekurangan setoran ke kas kerajaan. Artinya, tanggung jawabnya kan sudah selesai. Dia kan tidak ada beban lagi?”

“Lalu…ini apa artinya?”

“Bisa saja dia mendapat tekanan dari pihak lain atau teman-temannya yang juga turut menikmati uang hasil sumbangan rakyat itu.”

“Berarti…kan gampang, tanyai saja teman-teman mereka tentang peristiwa itu. Kan mereka yang mengantar Adipa.”

“Adakah teman-temanya masih di tempat kejadian?”

“Tak ada.”

“Itu artinya bisa jadi mereka terlibat. Dan itu berarti bukan kecelakaan murni atau terpleset. Malah Adipa  sengaja dijorokin ke laut itu. Itu bisa saja terjadi!”

“Waaduhh….berat ini jadinya. Kirain uangnya sudah dilunasi, masalahnya selesai?”

“Masalah uangnya sih sudah selesai. Tapi kecelakaan yang Adipa alami itu perlu diselidiki agar rasa ingin tahu rakyatnya yang mencintai dia bisa dijawab dengan jujur dan adil. Dan siapa di balik ini semua.”

********

Setelah dirawat intensif selam kurang lebih tiga mingguan oleh tabib kerajaan, kondisi kesehatan Raja Vira Kunjara berangsur-angsur pulih. Dia tak lupa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kecintaan dan kepedulian rakyatnya. Kerajaan Vanaloka pun kembali tenang dan damai.

Di sini kita mendapatkan pelajaran yang berharga tentang tanggung jawab dan integritas yang saling menguatkan antara kerajaan dan rakyatnya.

Sementara itu, Adipa Anjarwida harus menghadapi konsekuensi fatal yang berakhir tragis hingga merenggut nyawanya. Konon, dia ternyata sengaja dijorokin ke laut oleh dua temannya atas suruhan temannya yang lain yang juga turut menikmati uang sumbangan untuk baginda. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan jejak karena mereka tak berani bertanggung jawab. Adipa yang ambisius namun bertanggung jawab itu akhirnya dikorbankan oleh teman-temannya untuk menutupi keserakahan mereka.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60