Mengenal Lebih Dekat 5 Satwa Unik dan Favorit Bali

satwa favorit Bali
Ilustrasi beberapa satwa unik dan favorit Bali. (Image: Dibuat dengan AI/Nusaweek)
banner 468x60

PULAU Dewata atau Bali dikenal sebagai destinasi favorit karena keragaman budaya beserta atraksi wisatanya. Salah satu atraksi wisata menarik adalah kekayaan fauna yang menjadi harta karun fauna yang langka dan unik. Dari sekian kekayaan fauna itu ada yang bersifat endemik dan khas yang menjadi simbol keunikan ekosistem Bali.

Berikut ini pembaca akan diajak menelusuri keunikan lima satwa ikonik Bali: yaitu si elegan Jalak Bali, si setia Anjing Kintamani, si mistis Sapi Putih Taro, si Harimau Bali dan satu lagi primata langka yang menghuni hutan Bali.

Bacaan Lainnya
  1. Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) – Si Putih yang Terancam Punah

Jalak Bali, atau sering disebut Bali Starling, adalah bintang utama dari satwa endemik pulau ini. Burung ini adalah satu-satunya spesies endemik Bali yang terancam punah dan kini bisa ditemukan di habitat aslinya di Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Nusa Penida, Taman Burung dan Kebun Binatang di Bali.

Keunikan: Jalak Bali mudah dikenali dari warna bulunya yang didominasi putih bersih dengan hiasan warna biru kehitaman di sekitar mata dan jambul yang menjuntai di kepala. Kombinasi warna yang mencolok ini memberinya julukan “Si Ksatria dari Barat”.

Statusnya yang Kritis (Critically Endangered) menjadikannya salah satu burung paling langka di dunia. Upaya konservasi yang intensif, termasuk penangkaran dan program pelepasliaran, terus dilakukan oleh pemerintah dan lembaga konservasi untuk memastikan kelangsungan hidupnya. Melihat Jalak Bali terbang bebas di habitatnya adalah pengalaman langka dan berharga, menegaskan betapa rapuhnya keindahan alam Bali.

  1. Anjing Kintamani Bali – Simbol Kesetiaan dari Dataran Tinggi

Bukan sekadar anjing lokal biasa, Anjing Kintamani telah diakui secara internasional sebagai ras anjing tersendiri. Anjing ini berasal dari dataran tinggi Kintamani, khususnya di wilayah pegunungan Kabupaten Bangli.

Keunikan: Anjing Kintamani memiliki ciri fisik yang khas: berbulu tebal dan lebat seperti singa, telinga tegak, dan memiliki sifat yang menyerupai serigala. Warna bulu yang paling umum adalah putih, meskipun ada juga yang berwarna hitam, cokelat, dan belang.

Anjing Kintamani dikenal karena sifatnya yang setia, cerdas, dan sangat protektif terhadap pemiliknya, tetapi juga menunjukkan kemandirian dan keberanian. Pada tahun 2019, ras ini secara resmi diakui oleh Federation Cynologique Internationale (FCI), organisasi anjing terbesar di dunia. Pengakuan ini tidak hanya membanggakan, tetapi juga menjadikannya aset genetik Bali yang wajib dilestarikan.

  1. Sapi Putih Taro – Penjaga Tradisi di Gianyar

Di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, terdapat populasi sapi yang sangat unik dan langka: Sapi Putih Taro. Berbeda dengan sapi-sapi Bali pada umumnya yang berwarna merah kecokelatan, sapi di desa ini memiliki ciri genetik yang sangat spesifik.

Keunikan: Sapi Putih Taro dikenal memiliki bulu berwarna putih murni dengan beberapa bagian tubuh, seperti di sekitar mata dan kaki, yang sedikit kemerahan atau abu-abu pucat. Sapi ini dipercaya memiliki nilai spiritual yang tinggi oleh masyarakat setempat, dan kehadirannya sering dikaitkan dengan tradisi dan mitologi Bali kuno.

Meskipun secara genetik masih termasuk dalam spesies Bos sondaicus (Sapi Bali), isolasi genetik di Desa Taro telah menciptakan varian unik ini. Keunikan warna dan status budayanya menjadikan sapi ini tidak hanya sebagai ternak, tetapi juga sebagai bagian integral dari warisan Desa Taro.

  1. Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) – Primata Paling Ikonik

Meskipun Monyet Ekor Panjang tidak endemik hanya di Bali (mereka tersebar di Asia Tenggara), populasi mereka di Bali—khususnya yang berada di Hutan Kera Ubud, Sangeh, Alas Kedaton  dan Uluwatu—telah mengembangkan perilaku unik dan menjadi daya tarik satwa liar yang tak terpisahkan dari identitas Bali.

Keunikan: Di Bali, monyet-monyet ini menunjukkan interaksi yang sangat tinggi dengan manusia dan lingkungan Pura yang sakral. Kadang mereka berperilaku unik mereka yang mencuri barang-barang turis (kacamata, sandal, topi) dan menukarnya kembali dengan makanan, sebuah perilaku yang menarik bagi peneliti primata karena menunjukkan kecerdasan sosial dan kemampuan barter. Meskipun lucu, perilaku ini adalah hasil dari adaptasi lingkungan di mana interaksi manusia dan satwa sangat intensif.

  1. Harimau Bali (Panthera tigris balica): Satwa ini pernah ada, tetapi sayangnya, saat

ini Harimau Bali sudah dinyatakan punah. Harimau Bali adalah subspesies harimau endemik yang dulunya hanya dapat ditemukan di Pulau Bali.

Secara resmi, spesies ini dinyatakan sudah punah sejak tahun 1937. Dari segi ukuran: Harimau Bali adalah subspesies harimau terkecil di antara semua harimau yang ada.

Penyebab utama kepunahannya adalah perburuan intensif dan hilangnya habitat akibat pembukaan lahan besar-besaran untuk permukiman dan pertanian pada awal abad ke-20. Adapun penampakan terakhir dari Harimau Bali terakhir tercatat ditembak pada tahun 1937 di Bali Barat.

Saat ini, tidak ada satu pun Harimau Bali yang masih hidup, baik di alam liar maupun di penangkaran. Bukti keberadaan mereka saat ini hanya berupa beberapa kulit, tulang, dan tengkorak yang tersimpan di museum, terutama di Eropa.

Harimau Bali merupakan satu dari tiga subspesies harimau yang pernah menghuni Indonesia, bersama dengan Harimau Jawa (juga punah) dan Harimau Sumatera (saat ini terancam kritis).

Perlindungan Warisan Fauna Bali

Kelima satwa ini—dari si elegan Jalak Bali hingga si cerdas Monyet Ekor Panjang—mewakili kekayaan biologi Bali. Namun, mereka juga menghadapi tantangan besar akibat perambahan habitat dan ancaman perburuan liar (khususnya Jalak Bali).

Pelestarian satwa-satwa unik ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kesadaran bagi setiap pengunjung Pulau Dewata. Menjaga habitat mereka tetap lestari adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa permata-permata fauna ini akan terus menghiasi Pulau Bali untuk generasi yang akan datang. (*)

banner 300x250

Pos terkait