Ziarah Estetis Pameran Kanda Rupa Rna Atman Rta di Pesta Kesenian Bali 2026

Atma Wedana
Salah satu lukisan dalam Pameran Kanda Rupa dalam rangka PKB XLVIII tahun 2026 di Gedung Kriya Taman Budaya Bali, berjudul Rangkaian Ritual Atma Wedana di Pura Dalem oleh I Wayan Kaler. (Foto: Nusaweek)
banner 468x60

BAGI penjelajah kultural yang mendambakan kedalaman rasa, Bali selalu punya cara tersendiri untuk menyingkap tabir magisnya. Musim panas 2026 ini, riuh rendah pesona pesisir Pulau Dewata seolah merunduk hormat, memberikan jalan bagi sebuah perayaan spiritual yang jauh lebih hening namun megah di jantung kota Denpasar.

Selama hampir sebulan (13 Juni hingga 11 Juli 2026), Gedung Kriya Taman Budaya Bali (Art Center) menjelma menjadi sebuah sanctuari estetis. Di ruang-ruang pamer yang temaram dan anggun, perhelatan akbar Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 mempersembahkan pameran seni rupa bergengsi, Kanda Rupa.

Bacaan Lainnya

Tahun ini, PKB mengusung tema besar Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha—sebuah konsep luhur yang bermakna penyucian jiwa secara paripurna. Selaras dengan payung besar tersebut, Pameran Kanda Rupa 2026 memanifestasikan dirinya melalui sub-tema yang menggetarkan sukma: Rna Atman Rta (Derma Jiwa Daku). Ini bukan sekadar pameran visual; ini adalah sebuah undangan terbuka bagi para penikmat seni premium untuk merenungi hakikat kepulangan, menebus utang eksistensial roh, dan merayakan keindahan siklus kosmis yang abadi.

Kurasi Agung di Bawah Lentera Dua Maestro

Melangkah masuk ke Gedung Kriya, atmosfer premium langsung menyergap indra. Penataan ruang yang apik berpadu dengan pencahayaan dramatis, mengarahkan pandangan pengunjung pada jajaran karya yang telah disaring secara ketat. Di balik kemegahan visual ini, ada tangan dingin dua kurator ternama Bali yang bertindak sebagai pemandu arah narasi spiritual: Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana dan Warih Wisatsana.

Kombinasi akademisi-perupa dan penyair-kritikus seni ini berhasil merajut untaian filosofi Hindu yang rumit ke dalam bahasa rupa yang universal dan menyentuh. Pameran Kanda Rupa tahun ini menjadi panggung kolosal yang diikuti oleh 108 seniman. Keberagaman perspektif terasa sangat kental, mengingat kurator membuka pintu lebar-lebar melalui jalur undangan terbuka (open call). Dari total 81 pendaftar yang antusias, terpilihlah 43 peserta terpilih untuk bersanding dengan para seniman undangan utama. Proses seleksi yang rigid ini memastikan bahwa setiap kanvas atau karya seni yang tergantung dan setiap pahatan yang dipajang memiliki resonansi yang kuat terhadap tema kepulangan jiwa.

Kanvas Transendental: Dari Api Ngaben hingga Nyegara Gunung

Beranjak ke bagian lukis, dinding-dinding Gedung Kriya dipenuhi oleh narasi visual yang megah mengenai upacara ritus kematian Bali—sebuah prosesi yang tidak dipandang sebagai akhir yang meratap, melainkan sebuah festival pembebasan jiwa dari belenggu keduniawian.

Lukisan monumental karya I Made Kartika yang berjudul Upacara Ngaben (70 x 50 cm, cat akrilik di atas kanvas, 2026) menyuguhkan sebuah visual perjalanan yang luar biasa megah dan mendalam. Kartika dengan sangat piawai menangkap dinamika estetik dari ritual pembakaran jenazah tersebut, dimulai dengan penggambaran detail prosesi ritual yang mengusung bade, kemegahan patung lembu, serta bale upacara.

Di atas kanvas ini, denyut tulus masyarakat terlihat jelas saat bergotong-royong, saling bahu-membahu dengan riang mengantarkan sang palatra (almarhum) menuju setra untuk melangsungkan prosesi pembakaran suci. Menariknya, suasana sama sekali tidak menampilkan sedikit pun gundah kedukaan yang meratap. Kanvas seni ini justru dipenuhi oleh riak warna yang sangat hangat, berpadu mesra dengan vibrasi komunal yang amat kuat di setiap jengkal ruangnya.

Lewat sapuan warna akrilik yang genius, Kartika berhasil menegaskan bahwa ritual kematian di Bali adalah perayaan pembebasan jiwa menuju keabadian alam semesta yang damai, suci, dan penuh dengan keindahan spiritual luhur.

Bergerak lebih dalam ke fase berikutnya, I Wayan Kaler menghadirkan keheningan yang magis lewat karyanya, Rangkaian Ritual Atma Wedana di Pura Dalem (60 x 50 cm, cat minyak di kanvas, 2026). Dengan medium cat minyak yang memberikan tekstur mendalam dan dramatis, Kaler melukiskan kekusyukan ritual penyucian roh tingkat lanjut. Suasana Pura Dalem yang sakral dibangun melalui permainan bayangan dan pendaran cahaya dupa yang lembut.

Lukisan ini seolah membawa penonton ikut bersimpuh, merasakan getaran mantra, dan menyaksikan bagaimana doa-doa keluarga menjadi jembatan mistis bagi leluhur untuk mencapai dimensi kedamaian yang lebih tinggi, bersih dari noda dengki dan iri hati.

Sebagai puncak dari ziarah rupa ini, lukisan Nyegara Gunung (60 x 50 cm, cat akrilik di kanvas, 2026) karya I Wayan Sumendra merangkum seluruh esensi filosofi Rna Atman Rta. Konsep Nyegara Gunung (Laut dan Gunung) adalah hulu-huaning dari siklus kehidupan spiritual Bali. Sumendra memvisualisasikan harmoni kosmis ini dengan transisi warna yang sangat halus dan menenangkan.

Gunung sebagai simbol kesucian tempat bersemayamnya para dewa, dan laut sebagai pelebur segala kekotoran duniawi, bersatu dalam satu lingkaran ekosistem spiritual. Lukisan ini menjadi penutup narasi yang sempurna: jiwa yang telah disucikan kini telah kembali ke keteraturan semesta, mencapai kebahagiaan abadi tanpa menyisakan kerakusan atau dendam masa lalu.

Wajah-Wajah Penjaga Gerbang Keabadian

Salah satu daya tarik paling magis dalam pameran ini adalah kehadiran deretan topeng tradisional yang sarat akan nilai sakral. Dalam kosmologi Hindu Bali, roh pasca-kematian tidak berjalan sendirian; mereka melintasi labirin alam astral yang dijaga oleh berbagai manifestasi energi Tuhan.

Topeng bukan sekadar penutup wajah, ia adalah medium transendental yang meminjam rupa duniawi untuk menjelaskan misteri yang tak kasat mata.

Sorot lampu eksklusif jatuh pada karya Cokorda Alit Artawan yang berjudul Jogor Manik (2026). Topeng berukuran 23,5 x 22,5 cm ini dipahat dari Kayu Pule—jenis kayu yang secara tradisional dipercaya memiliki energi magis penyembuh—dan dibalur dengan cat akrilik yang tegas. Jogor Manik, sang admin karma sekaligus penjaga alam roh dalam mitologi Bali, digambarkan dengan ekspresi yang berwibawa namun mengintimidasi. Sapuan kuas Artawan berhasil menangkap esensi keadilan absolut; sebuah pengingat bahwa keangkuhan hidup akan melebur di hadapan pengadilan akhir sang jiwa.

Di sebelahnya, pengunjung akan terpaku pada misteri yang dipancarkan oleh Bhuta Cuil (2026) karya I Komang Bagus Meghartana. Menggunakan material dasar yang sama, yakni Kayu Pule, topeng berukuran 22 x 16 cm ini tampil begitu mewah sekaligus mistis berkat kombinasi apik antara akrilik dan Prada.

Bhuta Cuil atau roh gentayangan yang belum diupacarai merepresentasikan gejolak negatif dan ujian yang harus dihadapi roh. Namun, keberadaan aksen Prada Mas pada lekuk-lekuk wajah sang monster bermata tunggal ini seolah membisikkan pesan terselubung: bahwa di dalam kegelapan ujian pasca-kematian sekalipun, selalu ada percik cahaya dewata (Atman) yang menuntun menuju pemurnian.

Refleksi Akhir bagi Sang Pengelana Jiwa

Pameran Seni Kanda Rupa Rna Atman Rta di Pesta Kesenian Bali 2026 bukan sekadar destinasi liburan musiman. Bagi kalangan discerning traveller atau wisatawan berkesadaran atau pelancong arif, eksibisi ini adalah ruang kontemplasi yang langka. Ketika dunia luar bergerak begitu cepat dan penuh kepenatan, melangkah ke dalam Gedung Kriya Art Center memberikan efek penyembuhan (healing) yang instan bagi batin.

Setiap coretan warna dari para seniman Bali ini bertindak bagai cermin besar. Mereka tidak hanya memamerkan kepiawaian teknis arsitektur rupa atau eksotisme ritual, melainkan mengetuk pintu kesadaran kita yang paling dalam. Melalui dialog intens antara topeng-topeng penjaga roh dan kanvas ritus kematian, kita dipaksa untuk bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita melestarikan harmoni dengan alam? Sudahkah kita mengikis keangkuhan dan kerakusan demi kedamaian bersama?

Ketika pameran resmi berakhir pada 11 Juli 2026, ia tidak benar-benar selesai. Pesan perdamaian untuk semesta beserta isinya, vibrasi Tri Hita Karana yang termanifestasi dalam estetika tingkat tinggi ini, akan terus menggema di kepala para pengunjungnya, dibawa pulang melintasi benua sebagai buah tangan spiritual paling berharga dari Pulau Dewata. (*)

banner 300x250

Pos terkait