Motif Geringsing Menghiasi Uang Baru Pecahan Rp 75.000

  • Whatsapp
Ilustrasi pawai PKB yang menggunakan kain Geringsing.
Ilustrasi penggunaan kain Geringsing pada sebuah Pawai Budaya PKB. (Dok. Nusaweek)
banner 468x60
  • Geringsing, kain khas Desa Tenganan, Karangasem, tidak hanya indah untuk dikenakan, namun juga diyakini memiliki kualitas perlindungan yang baik bagi pemakainya
  • Warisan budaya ini kini diabadikan pada lembaran uang kertas baru 75,000 rupiah dan diluncurkan serangkaian Peringatan Kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia

Peringatan Hari Kemerdekaan yang ke-75 Republik Indonesia tanggal 17 Agustus tahun 2020 ini mendapat kado istimewa. Nah, hal yang istimewa tersebut adalah peluncuran uang kertas baru pecahan Rp 75.000.

Secara sekilas, uang baru tersebut mengabadikan gambar Bapak Proklamator RI Soekarno dan Muhamad Hatta pada bagian depan. Kemudian di bagian belakangnya ada beberapa hasil pembangunan prasarana seperti Jembatan Youtefa Papua, MRT Jakarta dan Tol Trans-Jawa. Ada juga ditampilkan sembilan anak berpakaian adat yang masing-masing mewakili Indonesia bagian Barat, Tengah dan Timur. Kemudian ada juga motif tenun nusantara seperti geringsing Bali, batik kawung Jawa dan songket asal Sumatera Selatan.

Seperti dikutip dari laman Humas Pemprov Bali, Gubernur Bali Wayan Koster sangat mengapresiasi pemilihan simbol-simbol pada mata uang ini yang mengedepankan Bhinneka Tunggal Ika sebagai falsafah pemersatu bangsa. Hal itu bisa dilihat dari berbagai kesenian serta kebudayaan dari masing-masing daerah dipadukan dalam lembar uang kertas tersebut.

Tentang Kain Geringsing

Urs Ramseyer (1984) dalam tulisannya yang berjudul Clothing, Ritual and Society in Tenganan Pegeringsingan Bali, memperkirakan masyarakat Tenganan sebagai sesama penganut Dewa Indra adalah imigran dari India kuno. Ada kemungkinan mereka membawa tehnik tenun dobel ikat melalui pelayaran dari Orrisa atau Andhra Pradesh. Kemudian mereka mengembangkan sendiri tehnik ini di Tenganan.

Kemudian kain mereka dinamai kain geringsing. Secara harfiah, geringsing memiliki makna filosofis, dimana kata gerinsing berasal dari kata Bahasa Bali gering yang berarti ‘sakit’ dan sing berarti ‘tidak.’ Jadi secara keseluruhan dapat diartikan bahwa mereka berharap ketika menggunakan kain tersebut mereka ‘tidak sakit’ atau ‘dijauhkan dari penyakit’ mengingat pembuatannya sudah melalui serangkaian prosesi ritual yang sakral dan dalam waktu yang lama. Karena itu, masyarakat setempat memandang kain geringsing memiliki kesakralan, makna filosofi dan mitos yang mendalam.

Secara umum, kain geringsing digunakan pada saat menghadiri berbagai upacara keagamaan. Bahkan konon, kain ini dikatakan menemani masyarakat Tenganan sepanjang hidup mereka mulai dari buaian hingga liang kubur. Mereka meyakini kain geringsing memiliki kualitas perlindungan yang baik, sekecil apa pun ukurannya, dari penyakit, ilmu hitam dan kejahatan sejenis lainnya.

Dari segi bahan, semuanya dibuat dari bahan-bahan alami. Benangnya dibuat dari kapuk berbiji tunggal yang kemudian dipintal secara tradisional. Sementara warna yang digunakan juga alami yang terdiri dari tiga macam warna yaitu merah, kuning dan hitam. Kelopak kayu kepundung putih dicampur akar mengkudu untuk menghasilkan warna merah, minyak kemiri dan serbuk kayu (kuning) dan pohon taum (hitam).

Kain tenun geringsing sangat kaya akan ragam motif, empat di antaranya adalah Lubeng (bunga kalajengking), Sanan Empeg (kotak-kotak/poleng), Cecempakaan (bunga cempaka) dan Cemplong (bunga besar dikelilingi bunga-bunga kecil).

Kain geringsing ini tergolong langka. Proses pengerjaan yang demikian rumit kemudian  menghasilkan produk bermutu tinggi. Sehingga tidak mengherankan, banyak kolektor dalam negeri dan manca negara memburunya, kendati harga yang ditawarkan mencapai jutaan rupiah.

Selain kain geringsing, daya tarik Desa Tenganan adalah adanya tradisi perang pandan, tata letak desa yang unik serta ayunan tradisionalnya. Bila ingin melihat secara langsung cara pembuatannya, sempatkan diri mampir di desa wisata ini ketika berlibur di Pulau Bali.

 

 

banner 300x250

Related posts

banner 468x60