MATAHARI pagi baru saja menyapa saat enam mahasiswa dari universitas di Denpasar berkumpul di kaki Gunung Batukaru, Bali. Mereka adalah Dewa, Ayu, Made, Putu, Sari, dan Wayan. Rencana mereka sederhana: mendaki gunung yang terkenal suci ini, menikmati alam, dan belajar menjaga kelestariannya.
“Siap semua? Ingat, ini bukan sekadar pendakian biasa. Gunung ini sakral bagi masyarakat Bali,” kata Dewa, sang ketua kelompok, sambil memeriksa perlengkapan.
Ayu tersenyum, “Iya, aku sudah baca tentang aturan adatnya. Kita harus hormati dan jaga kebersihan sepanjang jalur.”
Mereka mulai menapaki jalan setapak yang berkelok di antara pepohonan rimbun. Suara burung dan gemericik air sungai kecil menemani langkah mereka. Namun, yang paling menarik perhatian adalah tanda-tanda kecil yang dipasang di sepanjang jalur, bertuliskan pesan-pesan seperti “Jaga Kebersihan, Jaga Kesucian” dan “Gunung Ini Rumah Para Dewa.”
Saat istirahat di sebuah dataran kecil, Made membuka tasnya dan mengeluarkan kantong plastik. “Ayo, kita kumpulkan sampah yang kita temukan di jalan. Jangan sampai merusak keindahan dan kesucian tempat ini.”
Putu mengangguk, “Betul. Aku juga dengar dari pendaki sebelumnya, kalau kita membuang sampah sembarangan, itu dianggap tidak menghormati leluhur dan roh penjaga gunung.”
Sari yang dari awal tampak diam, tiba-tiba berkata, “Aku merasa ada energi berbeda di sini. Seperti gunung ini hidup dan memerhatikan kita.”
Wayan tersenyum, “Itulah yang membuat pendakian ini bukan sekadar olahraga, tapi juga pengalaman spiritual.”
Mereka melanjutkan perjalanan, sambil sesekali berhenti membersihkan sampah yang tercecer. Di sebuah tikungan, mereka bertemu seorang penduduk lokal yang sedang membersihkan area sekitar pura kecil di lereng gunung.
“Pak, kami ingin belajar bagaimana menjaga kesucian gunung ini,” kata Ayu sopan.
Pria tua itu tersenyum ramah, “Bagus sekali. Gunung Batukaru adalah tempat suci. Setiap pendaki harus menjaga kebersihan dan menghormati aturan adat. Jangan mengambil apapun dari hutan, dan jangan membuat suara keras yang bisa mengganggu roh penjaga.”
Dewa bertanya, “Apakah ada ritual khusus yang harus kami lakukan?”
“Biasanya, sebelum mendaki, pendaki melakukan persembahyangan kecil di pura bawah. Itu tanda hormat kepada para dewa dan penjaga gunung,” jawab pria itu.
Mendengar itu, kelompok mahasiswa itu sepakat untuk kembali ke pura di kaki gunung sebelum pulang. Mereka merasa perjalanan ini bukan hanya tentang menaklukkan puncak, tapi juga belajar menghargai budaya dan alam.
Di puncak, pemandangan Bali terbentang luas. Angin sepoi-sepoi membawa aroma hutan yang segar. Ayu memandang Dewa dan berkata, “Aku senang kita bisa melakukan ini bersama. Selain petualangan, aku merasa kita jadi lebih dekat dengan alam dan satu sama lain.”
Dewa tersenyum, “Aku juga. Ini pengalaman yang tak terlupakan. Dan aku bangga kita bisa menjaga gunung ini tetap suci dan bersih.”
Saat turun, mereka berhenti di pura kecil itu. Dengan khidmat, mereka melakukan persembahyangan bersama, memohon agar gunung dan alam Bali selalu dilindungi.
Sari berbisik, “Aku rasa, gunung ini mengajarkan kita banyak hal tentang hidup, cinta, dan tanggung jawab.”
Wayan menimpali, “Dan tentang bagaimana kita harus menjaga warisan budaya dan alam untuk generasi mendatang.”
Malam itu, di bawah langit penuh bintang, mereka duduk bersama di tenda, berbagi cerita dan tawa. Petualangan mereka di Gunung Batukaru bukan hanya soal mendaki, tapi juga soal menjaga kesucian, kebersihan, dan menghormati nilai-nilai luhur masyarakat Bali. (*)







