HUJAN di luar kamar villa bukan sekadar air yang turun, melainkan tembok air yang menghantam kaca-kaca besar Villa Sunyi Riverside. Kilat menyambar setiap sepuluh detik, menerangi wajah tegang Reza dan Amara yang duduk di ujung sofa yang berlawanan.
Ini seharusnya menjadi anniversary trip kelima mereka. Upaya terakhir untuk menyelamatkan pernikahan yang sudah terasa seperti mesin tua: berisik namun tak bergerak ke mana-mana. Namun, sejak tiba sore tadi, Reza sibuk dengan panggilan konferensi, dan Amara sibuk menahan tangis di kamar mandi.
“Bisa tolong kecilkan suaranya?” sindir Amara tanpa menoleh dari jendela. “Aku sedang mencoba membaca.”
Reza mendengus, menunjuk headset di telinganya. “Ini klien penting, Ra. Proyek ratusan juta. Kamu pikir villa semewah ini bayarnya pakai daun?”
Amara menutup bukunya dengan kasar. Baru saja ia hendak membalas, suara blam yang keras terdengar dari gardu listrik di kejauhan. Detik berikutnya, Villa Sunyi Riverside mati total.
Kegelapan menyergap seketika. Dengung pendingin ruangan mati, digantikan oleh deru hujan yang memekakkan telinga. Sinyal Wi-Fi di ponsel Reza lenyap. Lampu kolam renang padam. Villa kaca yang tadinya tampak estetik kini berubah menjadi gua hitam yang mengintimidasi.
“Sialan!” Reza memukul paha. Ia mengangkat ponselnya. “No signal. Gila, benar-benar nol bar.”
“Nyalakan senter HP-mu,” suara Amara terdengar bergetar.
Cahaya putih dari ponsel Reza menyayat kegelapan. Mereka berjalan ke arah saklar. Nihil. Reza mencoba membuka pintu utama yang menggunakan sistem smart lock. Kunci elektronik itu mati, membeku dalam posisi terkunci. Gerbang depan yang menjulang tinggi juga macet.
“Kita terjebak,” gumam Reza, mencoba menekan panik. Ia berlari ke dapur, memutar keran wastafel. Hanya desis angin yang keluar. “Pompa airnya mati. Great. Listrik mati, air mati, terkunci di dalam, dan sinyal hilang.”
“Reza…” panggil Amara dari dapur. Cahaya senternya menyorot ke kulkas yang kini tak lagi berdengung. “Kita punya masalah lain. Kamu beli dua kilo Wagyu A5 dan seafood beku kan? Kalau ini tidak dimasak sekarang, besok pagi semuanya busuk. Kulkas ini tidak akan tahan dingin lama di suhu tropis begini.”
Reza menatap istrinya, lalu menatap daging mahal di dalam kulkas. Ironis. Di tengah kemewahan marmer dan kaca ini, uang dan statusnya tidak berguna. Mereka lapar, haus, dan terisolasi.
“Oke,” Reza menghela napas panjang, meletakkan ponsel mahalnya yang kini tak lebih dari sekadar senter mahal di atas meja. Egonya sebagai penyedia segala fasilitas runtuh. “Kita harus masak. Pakai apa? Kompornya listrik.”
“Ada portable stove bekas BBQ kemarin di gudang belakang. Tapi gasnya tinggal setengah kaleng,” jawab Amara, insting bertahan hidupnya mulai muncul. “Kita bagi tugas. Aku urus makanan, kamu cari cara menampung air hujan. Kita butuh air untuk cuci tangan dan minum kalau galon habis.”
“Nampung air hujan? Serius, Ra? Aku?” Reza menunjuk dadanya.
“Pilihannya cuma itu atau kamu mau mati kehausan sambil memeluk proyek ratusan jutamu itu,” balas Amara tajam, namun kali ini tanpa nada merajuk. Itu nada seorang rekan satu tim.
Reza terdiam. Ia melihat ketegasan di mata istrinya yang sudah lama tak dilihatnya. Tanpa membantah, ia mengangguk.
Satu jam berikutnya adalah kekacauan yang sunyi. Reza, dengan kemeja linen yang basah kuyup, menyeret panci-panci besar ke teras belakang, menampung air talang yang deras. Ia yang biasa jijik melihat noda sedikit saja, kini tidak peduli kakinya berlumpur.
Sementara itu, di dapur yang hanya diterangi dua batang lilin aromaterapi, Amara berjuang dengan kompor portable kecil.
“Apinya hampir mati, Za! Dagingnya belum matang semua!” seru Amara panik.
Reza berlari masuk membawa ember berisi air hujan. “Pakai ini buat cuci piring kotor nanti. Sini, biar aku yang jaga apinya, kamu potong dagingnya kecil-kecil biar cepat matang.”
Mereka bekerja bahu-membahu. Tidak ada lagi “aku bayar, kamu nikmati”. Yang ada hanya dua manusia yang berusaha menyelamatkan makan malam mereka. Reza meniup-niup api yang mengecil, wajahnya cemong terkena arang dari sisa pembakaran sebelumnya. Amara tertawa kecil melihatnya.
“Kenapa?” tanya Reza, menyeka keringat.
“Kamu,” Amara tersenyum, senyum tulus pertamanya hari itu. “Muka kamu hitam semua. Direktur utama yang disegani jadi tukang kipas sate.”
Reza terkekeh, suara yang asing bagi telinganya sendiri. “Dan kamu, Nyonya Sosialita, memotong Wagyu seharga lima juta pakai pisau buah di atas talenan plastik.”
Malam itu, mereka makan di lantai ruang tengah, beralaskan karpet tebal. Menunya mewah: Steak Wagyu dan udang bakar, tapi disajikan di piring kertas sisa pesta, dimakan dengan tangan karena malas mencuci sendok dengan air hujan yang terbatas.
Di luar badai masih mengamuk, tapi di dalam, keheningan terasa hangat. Tanpa notifikasi email, tanpa Instagram, tanpa distraksi.
“Enak,” gumam Reza, menjilat jarinya. “Jauh lebih enak daripada fine dining bulan lalu di Senopati.”
“Karena kita masaknya pakai perjuangan,” sahut Amara. Ia menatap lilin yang hampir habis. “Tahu nggak? Awalnya aku pikir badai ini bencana. Aku takut setengah mati.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku sadar,” Amara menatap Reza lekat. “Ternyata kita masih bisa kerja sama. Aku pikir kita sudah nggak cocok dalam segala hal.”
Reza meletakkan piring kertasnya. Ia menatap Amara dalam remang cahaya. Tanpa makeup, rambut berantakan, dan bau asap. Istrinya terlihat lebih cantik daripada saat pesta gala manapun. Kemewahan villa ini telah dilucuti, menyisakan pondasi hubungan mereka yang ternyata masih ada.
“Maafkan aku, Ra,” bisik Reza. “Aku terlalu sibuk membangun fasilitas hidup kita, sampai lupa merawat hidup kita sendiri.”
Amara menggeser duduknya mendekat, menyandarkan kepala di bahu Reza yang lembap. “Listriknya jangan nyala dulu, ya. Aku masih ingin begini sebentar lagi.”
“Setuju,” jawab Reza, memeluk bahu istrinya.
Di tengah badai, tanpa listrik dan air bersih, di dalam villa yang berubah menjadi gua gelap, mereka justru menemukan kembali apa yang sempat hilang: satu sama lain. Kemewahan sesungguhnya malam itu bukanlah villa atau daging wagyu, melainkan percakapan jujur di bawah nyala lilin yang redup. (*)








