Gerbang Batu Lebar: Di Mana Rindu Menembus Dimensi  

Gerbang batu lebar
Ilustrasi gubuk sawah di pinggir sungai. (Image: Dibuat dengan AI/Nusaweek)
banner 468x60

MADE PASEK, seorang petani bersahaja, terjerat asmara mistis dengan Sari, sosok Wong Samar dari balik tebing sungai. Meski telah beristri, Made nekat menikah di alam gaib hingga dikaruniai tiga anak. Akibat melanggar janji menetap, jiwanya disandera kemurkaan mertua gaib. Lewat ritual di Batu Lebar, Made harus bernegosiasi demi menyeimbangkan hidup di dua dunia yang berbeda.

———

Matahari tepat berada di ubun-ubun, membakar permukaan sawah di pinggiran desa yang sunyi. Made Pasek, seorang pria paruh baya dengan tubuh kekar dan kulit legam terbakar sinar matahari, menyeka keringat di keningnya dengan caping. Suara gemericik air sungai yang mengalir di bawah tebing menjadi satu-satunya musik yang menemaninya setiap hari.

Di hadapan sawahnya, sebuah dinding tebing menjulang tinggi, tertutup rapat oleh belukar perdu dan akar gantung yang menjuntai. Penduduk desa mengenalnya sebagai tempat yang “tenget”—angker. Namun bagi Made Pasek, tempat itu adalah rumah kedua. Karena jarak rumahnya yang jauh di pusat desa, ia lebih sering menghabiskan siang hingga sore di gubuk kecilnya yang reyot.

Pertemuan di Ambang Kesadaran

Siang itu, udara terasa sangat berat. Made merebahkan tubuhnya di balai-balai bambu. Semilir angin membawa aroma melati yang asing, padahal di sekitar sana hanya ada pohon jati dan semak berduri.

Antara sadar dan tidak, Made melihat seorang wanita berdiri di tepian sawah dekat gubuknya. Gaunnya berwarna hijau lumut yang halus, kulitnya seputih pualam, bertolak belakang dengan perempuan desa yang ia kenal.

“Bli Made… lelah sekali kelihatannya,” suara itu lembut, seperti gesekan daun bambu yang tertiup angin.

Made mengerjapkan mata. “Siapa kamu? Tidak pernah saya lihat orang sepertimu di desa ini.”

Wanita itu tersenyum, lesung pipitnya membuat jantung Made yang sudah berumur itu berdegup kencang. “Namaku Sari. Aku tinggal di balik dinding batu itu. Aku sering memperhatikanmu bekerja. Kamu rajin sekali.”

“Di balik batu? Mana mungkin ada rumah di sana,” gumam Made, suaranya parau.

Sari mendekat. Tangannya yang dingin menyentuh kening Made. “Istirahatlah. Dunia ini terlalu bising untuk orang sejujur kamu.”

Sejak hari itu, hari-hari Made berubah. Ia tak lagi merasa kesepian. Sari selalu datang membawa air kelapa yang manis atau sekadar menemani Made mengobrol tentang musim tanam. Made merasa muda kembali. Ia jatuh hati, sedalam-dalamnya. Meski di rumah ada Luh Mawar, istrinya yang setia menyiapkan kopi setiap pagi, hati Made telah tertambat di balik dinding tebing.

Pernikahan Dua Alam

Cinta mereka bukan sekadar tatapan mata. Sari mengajak Made masuk ke “rumahnya”. Di mata orang awam, Made mungkin terlihat berjalan menembus semak belukar dan menghilang di balik tebing. Namun di mata Made, ia memasuki sebuah gerbang megah menuju perkampungan yang sangat makmur.

“Aku ingin kamu di sini selamanya, Bli,” bisik Sari suatu malam di alam Wong Samar (mahluk gaib).

“Tapi aku punya keluarga di desa, Sari,” jawab Made bimbang.

“Di sini, waktu berjalan berbeda. Kamu bisa membagi dirimu. Tapi berjanjilah, suatu saat, setelah anak-anak kita lahir, kamu akan menetap di sini. Jangan kembali ke dunia yang penuh penderitaan itu.”

Terbuai oleh kecantikan Sari dan kemewahan alam itu, Made setuju. Mereka menikah secara gaib. Tahun demi tahun berlalu di alam sana, mereka dikaruniai tiga orang anak—dua laki-laki dan satu perempuan yang cantik jelita menyerupai ibunya.

Di dunia nyata, penduduk desa mulai berbisik. Made sering melamun. Ia sering membawa sesajen ke pinggir sungai. Meski ia tetap pulang ke rumah istrinya, Luh Mawar, tatapannya kosong. Tubuhnya ada di sana, tapi jiwanya melayang entah ke mana.

Ingkar Janji dan Kemurkaan

Masalah bermula ketika Made merasa rindu yang teramat sangat pada cucu pertamanya dari anak manusianya di desa. Ia teringat janji pada Sari untuk menetap selamanya di alam Wong Samar.

“Aku harus pulang, Sari. Hanya sebentar,” pamit Made suatu sore.

“Jangan, Bli. Kalau kamu pergi sekarang, kamu memutus ikatan. Keluarga besar kami akan murka,” Sari memohon dengan air mata yang tampak seperti mutiara.

Made bersikeras. Ia merasa sebagai kepala keluarga, ia berhak menentukan pilihannya sendiri. Ia melangkah keluar dari dinding tebing, kembali ke sawahnya yang nyata. Namun, begitu kakinya menginjak tanah desa, kepalanya terasa dihantam batu besar.

Sejak hari itu, Made Pasek berubah total. Ia menjadi pendiam. Bukan sekadar malas bicara, tapi mulutnya seolah terkunci. Ia berhenti ke sawah. Ia hanya duduk di pojok rumah, menatap dinding dengan mata melotot. Makanan yang disajikan Luh Mawar tak disentuhnya.

“Bli, bicara Bli! Apa yang salah?” tangis Luh pecah setiap malam.

Keluarga besar Made berkumpul. Mereka sadar ini bukan penyakit medis. “Ini bukan Made yang kita kenal. Jiwanya seperti disandera,” ujar salah satu tetua adat.

Ritual di Batu Lebar

Atas saran tetangga, mereka memanggil seorang Jero Dasaran yang bertindak sebagai medium. Jero Dasaran itu memejamkan mata sejenak, lalu tubuhnya bergetar hebat.

“Dia sudah ingkar janji,” suara Jero Dasaran berubah menjadi berat dan berwibawa. “Keluarga dari alam sebelah tidak terima. Mereka merasa dihina karena Made menganggap dunia manusia lebih berharga daripada dunia mereka. Sekarang, mereka menarik ‘kesadaran’ Made untuk menjadi budak di sana.”

“Tolong, Jero. Bagaimana caranya agar suami saya kembali?” mohon Luh bersimpuh.

“Kita harus melakukan ritual permohonan maaf. Siapkan sesajen lengkap. Kita akan pergi ke batu lebar di pinggir sungai itu. Itu adalah pintu gerbangnya.”

Esok harinya, Jero Dasaran meminta bantuan Jero Mangku pura keluarga untuk membawa dan menghaturkan persembahan ke batu lebar yang sering diduduki Made. Suasana sangat sunyi, bahkan burung-burung pun enggan berkicau.

Jero Mangku mulai merapal mantra. Ia menggunakan sebuah medium—sebilah keris kecil dan air suci. Dari jarak beberapa meter, Made duduk bersila, dipapah oleh kerabatnya. Matanya masih kosong.

“Sari… dengarkan aku,” Jero Mangku berbicara dalam bahasa yang halus, seolah-olah wanita itu ada di depan mereka. “Made adalah manusia tanah. Dia punya akar di sini, sebagaimana dia punya dahan di alammu. Jangan kau cabut akarnya, atau pohon itu akan mati bagi kedua alam.”

Melalui perantara Jero Mangku, terjadi negosiasi yang alot. Suasana di sekitar sungai tiba-tiba menjadi dingin mencekam. Angin berputar kencang di sekitar batu lebar.

Kesepakatan Dua Dunia

“Mereka menuntut tanggung jawab,” ujar Jero Mangku dengan keringat bercucuran. “Anak-anak Made di sana merindukan ayahnya. Tapi istrinya di sini juga butuh suaminya.”

Luh Mawar, dengan keberanian yang luar biasa, mendekat ke arah batu. “Wahai kamu yang mencintai suamiku… aku tidak tahu rupamu, tapi aku tahu rasanya mencintai Made. Biarkan dia hidup. Biarkan dia membagi waktunya. Kami tidak akan menghalanginya jika ia harus ‘berkunjung’ ke sana, asalkan jiwanya tetap utuh di sini.”

Tiba-tiba, Made tersedak hebat. Ia memuntahkan cairan hitam kental ke tanah. Matanya yang tadinya kosong perlahan mulai fokus. Ia melihat ke arah tebing, lalu ke arah istrinya, Luh.

“Luh…” bisik Made pelan. Suaranya serak seperti sudah bertahun-tahun tidak digunakan.

“Bli! Kamu sadar, Bli?” Luh memeluk suaminya sambil menangis sesenggukan.

Made mengangguk lemah. Ia menatap Jero Mangku. “Dia… dia mau memaafkan, tapi ada syaratnya.”

“Apa syaratnya, Made?” tanya Jero Mangku.

“Setiap bulan purnama, aku harus membawakan persembahan ke batu ini. Dan setiap tiga bulan, aku akan menghilang selama tiga hari untuk ‘menjenguk’ anak-anakku di sana. Jika aku melanggar lagi, mereka tidak akan mengambil jiwaku, tapi mereka akan membawa ragaku selamanya.”

Hidup dalam Dua Sisi

Kehidupan Made berangsur pulih. Ia kembali menjadi petani yang rajin, namun ada yang berbeda. Ia kini jauh lebih bijaksana dan lebih banyak bersyukur. Penduduk desa kini maklum jika pada hari-hari tertentu, gubuk Made kosong dan ia tidak terlihat di mana pun.

Luh Mawar pun belajar untuk menerima kenyataan pahit yang manis itu. Ia tahu, suaminya bukan hanya miliknya, tapi juga milik seorang wanita dari dimensi lain yang mencintainya dengan cara yang berbeda.

Suatu sore, Made duduk di gubuknya, menatap tebing yang kini tak lagi terlihat menyeramkan baginya.

“Bli, mau dibawakan kopi ke sawah besok?” tanya Luh Mawar yang datang menjemputnya.

Made tersenyum, lalu menatap ke arah semak perdu di tebing di mana ia seolah melihat bayangan Sari melambaikan tangan dengan lembut.

“Boleh, Luh. Tapi buatkan dua gelas ya. Satunya taruh di atas batu lebar itu.”

Luh mengangguk paham. Cinta memang terkadang tidak masuk akal, ia bisa melintasi batas-batas yang tidak bisa dilihat mata, menembus dinding tebing, dan menyatukan dua dunia dalam satu detak jantung yang sama. (*)

banner 300x250

Related posts