UDARA asin dan aroma kamboja yang lembut tidak mampu meredakan ketegangan di wajah Risa. Di balik backdrop acara MICE nan megah bertuliskan “Asia Otan Digital Summit” di ballroom The Grand Kamaligi, ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis. Sebagai Kepala Logistik, Risa (27 tahun) bertanggung jawab atas kelancaran acara, dan segalanya, mulai dari mikrofon yang berfungsi hingga jadwal shuttle bus para CEO global. Ini adalah puncak kariernya, sebuah batu loncatan menuju posisi direktur di ibukota.
“Risa, keynote speaker dari Silicon Valley sudah tiba. Pastikan suite VIP-nya sudah fully wired,” ujar Bapak Darto, Event Director-nya, tanpa menoleh, matanya terpaku pada tablet.
“Sudah beres, Pak. Akses internet cadangan juga sudah kami siapkan. Semua sesuai protokol ketat Mr. Halloway,” jawab Risa, suaranya berusaha terdengar profesional meski lelah.
Konferensi berjalan mulus selama dua hari, terlalu mulus. Segalanya serba mewah, serba terorganisir. Namun, Risa mulai memerhatikan keanehan kecil. Beberapa delegasi penting, yang seharusnya sibuk di sesi pleno, sering menghilang ke ruang rapat kecil yang tidak tercantum dalam jadwal resmi. Ruangan itu adalah Sabha Kinarya—sebuah ruang rapat kecil di sudut lantai dua yang dikunci aksesnya.
Puncaknya terjadi pada malam hari kedua. Saat ia memeriksa inventaris sound system di ballroom yang kosong, Risa menemukan dompet kecil terjatuh di bawah panggung. Itu milik Tuan Lim, Chief Financial Officer dari perusahaan properti besar negara tetangga, salah satu delegasi yang sering menghilang ke Sabha Kinarya.
Di dalamnya, Risa menemukan kartu identitas, uang, dan—yang menarik perhatiannya—sebuah flash drive hitam polos yang diselipkan di saku ritsleting tersembunyi.
Jantung Risa berdetak lebih cepat. Rasa ingin tahu, bercampur dengan intuisi profesionalnya, mendorongnya untuk bertindak. Ia bergegas kembali ke kantornya yang kecil di lantai dasar. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mencolokkan flash drive itu ke laptopnya.
Hanya ada satu file bernama “MASTER_PLAN_RESORT.pdf.”
Risa membuka file itu. Isinya bukan tentang teknologi digital. Itu adalah peta satelit yang sangat detail mengenai wilayah selatan pulau ini, khususnya area yang berdekatan dengan destinasi wisata ternama dan beberapa desa adat. Di atas peta itu, terdapat rencana pengembangan masif—sebuah mega resort yang diwarnai merah-produktif/adat melalui celah hukum badan usaha negara yang terlibat. Keputusan final. Di bagian bawah dokumen terdapat ringkasan: “Finalisasi akuisisi lahan nondisahkan di Digital Summit, Ruang Sabha Kinarya.”
Risa merasa mual. Konferensi teknologi ini hanyalah kedok untuk pertemuan yang jauh lebih gelap: kesepakatan ilegal untuk merampas tanah adat. Nama Bapak Darto dan Tuan Lim tercantum jelas di bagian persetujuan.
Pagi berikutnya, Risa memutuskan untuk menghadapi Bapak Darto. Ia menemukannya sedang menyeruput kopi di executive lounge yang sepi, tampak sangat santai.
“Pak Darto, bisa saya bicara sebentar?” Risa mendekat.
Darto tersenyum. “Tentu, Risa. Kerjamu luar biasa. Kamu pantas dapat bonus besar setelah ini.”
Risa mengambil napas dalam-dalam. “Saya menemukan flash drive ini. Dari Tuan Lim.” Ia meletakkan flash drive hitam di atas meja. “Dan saya sudah melihat isinya, Pak.”
Senyum di wajah Darto langsung hilang. Matanya menjadi dingin, menusuk.
“Oh, itu. Itu hanya dokumen sensitif internal, Risa. Kesalahpahaman,” kata Darto, suaranya serak. Ia meraih flash drive itu dengan cepat.
“Kesalahpahaman?” Risa tidak gentar. “Ini rencana untuk mengakuisisi lahan adat di luar batas hukum, Pak. Konferensi ini hanya kamuflase untuk negosiasi akhir.”
Darto bersandar di kursinya, tatapannya kini berubah menjadi mengancam. “Dengar, Risa. Kamu cerdas. Kamu tahu ini adalah uang triliunan. Ribuan pekerjaan. Sebuah ‘kesalahpahaman’ ini akan menjamin masa depanmu. Direktur di kantor pusat, gaji yang tak perlu kamu khawatirkan seumur hidup. Anggap saja kamu tidak pernah melihat file itu.”
“Tapi ini tanah kelahiran kami, Pak. Ini tanah adat. Ada harga yang lebih mahal dari karier saya,” bisik Risa, suaranya sedikit bergetar.
“Harga? Harga di sini adalah kemajuan, Risa. Turis membawa uang. Dan orang-orang di sana akan dibayar. Sekarang, ambil cuti. Nikmati pantai. Lupakan ini. Kalau tidak…” Darto berhenti, membiarkan ancamannya menggantung di udara. “Jika kamu mencoba mencampuri urusan ini, kariermu, dan mungkin keselamatanmu, yang akan ‘diakuisisi’.”
Risa merasakan adrenalinnya melonjak. Ia tahu Darto tidak main-main. Ia baru saja dihadapkan pada pilihan paling berat dalam hidupnya: kelancaran karier vs. kebenaran etika.
Saat ia meninggalkan lounge, ia berjalan melewati patung Ganesha yang anggun di lobi. Ia menyentuh patung itu sejenak, mencari kekuatan. Ia tahu ia tidak bisa membiarkan tanah kelahirannya dijual hanya karena keserakahan korporat.
Risa mengeluarkan ponselnya. Ia tidak akan melaporkan ke polisi lokal; itu terlalu berisiko. Ia memutar nomor kontak lama seorang wartawan investigasi di ibu kota.
“Halo, saya Risa. Saya ada di samping convention center dari resort Grand Kamaligi. Saya punya cerita yang sangat besar untukmu. Ini tentang Konferensi Teknologi Digital dan sebidang tanah yang sangat berharga…”
Di balik ketenangan resort mewah, Risa baru saja menyalakan sekering yang akan meledakkan skandal besar. Ia tahu jalannya akan sulit, tetapi di bawah langit tanah kelahirannya, ia memilih kebenaran. (*)








