Beji Terlarang dan Roh Penari yang Bergentayangan

Penari di Pura Beji
Ilustrasi penari di Pura Beji. (Image: GwAI/Nusaweek)
banner 468x60

SENJA HARI di Desa Batu Karang, Bali, memang berbeda. Suara gamelan yang biasanya riuh rendah setiap senja, kini digantikan oleh bisik-bisik ketakutan. Udara yang seharusnya harum dupa dan bunga kamboja, terasa berat oleh kecemasan. Penyebabnya hanya satu: Beji Sandyakala. Mata air suci yang selama ratusan tahun menjadi jantung spiritual desa, kini menjadi sumber teror.

Semua bermula saat seorang turis asing berambut pirang, dengan sombongnya melompat ke dalam air beji, mengabaikan papan peringatan dan teriakan Pak Balik, pemangku adat desa. Keesokan harinya, munculah penampakan. Seorang penari wanita, dengan kain putih lusuh dan selendang merah melambai, menari tak henti di tepi beji. Matanya menyala merah darah, dan tatapannya selalu terpaku pada anak-anak kecil yang kebetulan lewat.

Putu Ayu, seorang jurnalis muda yang dulunya adalah penari kondang di Denpasar, pulang ke desa. Ibunya menelepon, suaranya bergetar. “Putu, kamu harus pulang. Ada yang tidak beres di desa.”

“Maksud Ibu, soal penampakan itu?” tanya Putu, mencoba menyembunyikan nada skeptisnya. Ia tidak percaya hal-hal mistis. Baginya, itu hanya khayalan warga desa yang terlalu lekat dengan takhayul.

“Ini bukan main-main, Putu! Beberapa anak sudah demam tinggi setelah melihatnya. Salah satunya Wayan, putranya Kadek penjual sate di sudut jalan itu,” suara ibunya terdengar putus asa.

Setibanya di Batu Karang, Putu disambut oleh hawa dingin yang menusuk, padahal matahari masih terik. Desa itu terasa seangker kuburan. Beji Sandyakala, yang dulunya selalu ramai dengan warga yang melukat, kini sepi. Bahkan anak-anak pun dilarang mendekat.

“Selamat datang, Putu,” sapa Pak Balik, pemangku adat desa, saat Putu mengunjunginya di bale banjar. Wajah keriputnya menyiratkan kelelahan. “Kau sudah dengar?”

Putu mengangguk. “Saya dengar, Pak. Tapi, roh penari? Dengan mata merah? Kedengarannya seperti cerita horor, bukan kenyataan.”

Pak Balik menghela napas panjang. “Kadang, kenyataan memang lebih mengerikan dari cerita, Nak. Roh itu… dia adalah Dewi, bibimu.”

Jantung Putu serasa berhenti. Dewi? Bibi Dewi adalah penari legendaris desa, yang menghilang secara misterius puluhan tahun lalu tanpa jejak. Keluarganya selalu percaya Dewi pergi merantau dan tak pernah kembali. “Tidak mungkin, Pak. Bibi Dewi sudah meninggal, atau setidaknya, dia menghilang. Bukan jadi hantu!”

“Dia meninggal, Putu. Di beji itu,” Pak Balik menunjuk ke arah mata air dengan jarinya yang gemetar. “Bukan karena sakit, bukan karena kecelakaan. Dia meninggal karena sebuah perjanjian.”

“Perjanjian apa, Pak?” Putu merasa kepalanya berputar.

“Perjanjian dengan roh penjaga beji. Sebuah ikatan kuno yang melindungi beji dan desa kita. Bibi Dewi adalah penari yang ditakdirkan untuk menjaga ikatan itu melalui tarian sakral,” jelas Pak Balik. “Tapi ada yang tidak beres. Perjanjian itu dilanggar. Makanya roh Dewi gelisah, marah, dan roh penjaga beji juga ikut murka.”

Pak Balik kemudian menyerahkan sebuah buku harian lusuh kepada Putu. “Ini, simpanan terakhir bibimu. Mungkin kamu bisa menemukan jawabannya di sana.”

Putu menerima buku itu dengan tangan gemetar. Ia tidak pernah tahu bibinya menyimpan buku harian. Sepanjang malam itu, Putu membaca setiap halaman.

Tulisan tangan bibinya rapi, namun penuh dengan kegelisahan. Dewi menceritakan bagaimana ia dipilih sebagai penari penjaga beji. Ia harus menari di beji setiap malam purnama, mempersembahkan gerakannya untuk menjaga kesucian mata air dan melindungi desa.

Kemudian, pada halaman-halaman terakhir, sebuah nama muncul berulang kali: “Pekak Made”. Pekak Made adalah sesepuh desa yang sangat dihormati, sekaligus seorang kolektor artefak kuno yang terkenal. Dewi menuliskan tentang kecurigaannya bahwa Pekak Made diam-diam mengambil beberapa permata suci yang tersembunyi di dasar beji, yang merupakan bagian integral dari perjanjian dengan roh penjaga.

“Dia bilang, untuk penelitian. Tapi aku tahu, ada yang salah. Aku bisa merasakan beji itu melemah. Para roh penjaga tidak senang,” tulis Dewi di satu halaman. Di halaman lain, ia menuliskan ketakutannya akan kemarahan roh penjaga. “Jika perjanjian ini rusak, mereka akan bangkit. Dan bukan hanya Pekak Made yang akan menanggung akibatnya. Seluruh desa akan merasakannya.”

Di halaman terakhir, ada tulisan tangan yang tergesa-gesa: “Dia tahu. Pekak Made tahu aku tahu. Dia…” Tulisan itu terputus.

Putu menutup buku harian itu. Matanya memanas. Bukan hanya roh bibinya yang bergentayangan, tapi juga sebuah kebenaran kelam yang terkubur puluhan tahun. Pekak Made! Dialah yang bertanggung jawab atas kematian bibinya dan kekacauan di desa. Dan turis asing yang mandi di beji itu, secara tidak sengaja memicu kembali kemarahan roh penjaga yang sudah lama terpendam.

Keesokan harinya, Putu menemui Pekak Made. Pria tua itu kini sudah sangat renta, duduk di teras rumahnya.

“Pekak Made, saya ingin bertanya tentang Beji Sandyakala dan Bibi Dewi,” kata Putu tanpa basa-basi.

Wajah Pekak Made yang keriput seketika pucat pasi. “Ada apa, Nak? Sudah lama tidak ada yang bertanya tentang hal itu.”

“Bibi Dewi meninggal di sana, kan? Karena Pekak mengambil permata-permata suci dari dasar beji?” tanya Putu, suaranya tenang namun menusuk.

Pekak Made terdiam, menunduk. “Saya… saya tidak bermaksud buruk, Putu. Saya hanya ingin mempelajarinya. Saya tidak tahu akan seberbahaya ini.” Air mata menetes di pipinya. “Saya minta maaf. Saya sangat menyesal.”

“Penyesalan tidak akan mengembalikan Bibi Dewi, Pekak,” kata Putu dingin. “Atau menghentikan rohnya yang sekarang meneror anak-anak desa. Apa yang harus saya lakukan untuk menghentikannya? Untuk menenangkan rohnya dan roh penjaga beji?”

Pekak Made mengangkat kepalanya, matanya berkedip putus asa. “Kembalikan permata itu, Nak. Aku menyembunyikannya di sumur tua di belakang pura desa. Dan… hanya penari keturunan Dewi yang bisa melakukan upacara melukat khusus di beji, untuk memohon pengampunan.”

Malam itu, Putu berdiri di tepi Beji Sandyakala. Bulan purnama bersinar terang. Di tangannya, ia memegang sebuah kantung kain berisi permata-permata suci yang baru saja ia ambil dari sumur tua. Rasa takut menyelimutinya, namun ia harus melakukannya. Untuk bibinya, untuk desanya.

Ia melangkah perlahan ke dalam air beji yang dingin. Roh penari itu muncul di depannya, menari dengan gerakan yang sama persis seperti yang dulu Putu pelajari dari bibinya. Matanya masih merah menyala, namun Putu bisa melihat gurat kesedihan di sana.

Putu mulai menari. Gerakan-gerakan klasik yang dulu ia anggap kuno, kini terasa penuh makna. Setiap gerakannya adalah doa, setiap putarannya adalah permohonan. Ia menari, membiarkan tubuhnya bergerak seiring irama tak terlihat, seolah-olah roh bibinya membimbingnya. Ketika tarian mencapai puncaknya, Putu melepaskan kantung permata, membiarkannya tenggelam ke dasar beji.

Secara bertahap, mata roh penari itu berubah. Merah yang membara memudar, digantikan oleh cahaya kebiruan yang lembut. Wajahnya yang tegang melunak. Roh itu tersenyum, senyum yang sama seperti senyum bibinya dalam foto lama. Perlahan, roh itu memudar, menyatu dengan cahaya bulan dan air beji.

Beji Sandyakala kembali tenang. Airnya kembali jernih, memancarkan aura damai. Putu tahu, ia telah berhasil. Ia telah menenangkan roh bibinya, mengembalikan kesucian beji, dan menyelamatkan desa dari kutukan yang mengancam. Misteri itu terpecahkan, dan Batu Karang kembali menemukan kedamaiannya. (*)

banner 300x250

Related posts