Maunya Bercanda, Ternyata Digigit Buaya Beneran

  • Whatsapp
Ilustrasi muara sungai.
Ilustrasi muara sungai.
banner 468x60
  • BANYAK kisah atau kejadian di masa lampau terjadi di luar nalar. Kemanapun orang pergi, termasuk ke dalam hutan atau sungai, harus bilang permisi
  • Tidak demikian halnya dengan Made Kelor. Sesumbar ia menakuti teman-temannya dikatakan ada buaya, ternyata beneran.

Perjalanan menonton kesenian arja (opera tradisional) yang berlokasi jauh dari desa kelahiran tidak menjadi masalah. Kendatipun saat itu belum ada sepeda motor seperti sekarang, semangat pemuda tetap menyala. Maklumlah, sebagai desa di pesisir, masih ada jalan pintas yang bisa ditempuh kendatipun harus menerobos air muara sedalam lutut. Kalau lewat tegalan di belakang desa dianggap lebih jauh.

Made Kelor, sebutlah demikian, sangat bersemangat. Kala itu ia harus mohon izin kepada ayahnya untuk bisa istirahat kerja di sawah lebih awal. Janji sudah dibuat bersama teman-temanya untuk menonton kesenian tersebut.

Sebelum matahari memerah di ufuk barat, beberapa pemuda sudah berkumpul di depan bale banjar (balai pertemuan), bukan untuk mengadakan rapat. Namun mereka hanya menunggu teman-teman yang akan berangkat menonton.

“Gimana Man, jam berapa nanti kita berangkat,” kata Made Kelor kepada Nyoman Botor.

“Tunggu dulu teman kita si Kiyul. Mungkin sebentar lagi dia datang.”

“Baiklah, kita tunggu saja,” sahut Made.

Hari sudah mulai sore dan sebentar lagi senja akan menjelang dan langit memerah. Tidak seperti sekarang, di mana-mana hingga sudut-sudut desa pun sudah terang-benderang oleh penerangan lampu listrik. Paling istimewa dulu ada lampu petromaks. Itupun jarang sekali, hanya ketika ada acara-acara tertentu.

Ketika senja mulai merayap, sekira pukul 18:00, mereka tampak sudah semua datang dan berkumpul di depan bale banjar. Beberapa sudah membawa obor yang sudah dinyalakan, sementara tiga lainnya belum dinyalakan.

“Baiklah kawan-kawan,” sambut Made Kelor,” kita siap-siap berangkat. Kayaknya sudah semua datang ini.”

“Ya. Rombongan kita sudah lengkap, enam orang,” Nyoman Botor menimpali.

Mereka pun bersiap-siap berangkat. Hamparan jalan tanah dilalui tanpa ragu dan canggung. Tidak takut ada apa-apa. Berkat semangat dan kebersamaan, mereka mantap melangkah untuk menyaksikan hiburan kesukaan mereka.

Hembusan angin dingin sepoi-sepoi dari arah pantai sudah mulai terasa seiring berjalannya malam dan perlahan-lahan Suasana sudah mulai meredup. Sesekali serangga malam ada yang melintas di hadapan. Ada kelelawar kecil si pemakan serangga. Terdengar juga suara jengkrik di areal persawahan.

Tidak terasa perjalanan sudah semakin jauh. Mungkin sudah ada dua kilometeran. Pantai atau muara sudah semakin dekat. Semua anggota rombongan tampak masih bersemangat dan sesekali mengobrol diselingi tawa karena kelucuan mereka sambil bercanda.

Suara deburan ombak pun sudah mulai dekat. Itu menandakan pantai sudah dekat. Maklum pada malam hari, apalagi tidak ada cahaya rembulan. Suasana jadi demikian gelap, hanya ada kelap-kelip cahaya bintang gemintang.

“Kita berhenti di sini dulu. Coba periksa dan amati di mana kira-kira aliran paling dangkal untuk menyeberang,” kata Made Kelor.

“Coba di sebelah sini. Terangi dengan obornya,” sahut Nyoman.

“Wah, jangan di sini. Pasirnya agak labil. Kita bisa terjerembab nanti.”

“Begini saja, kita amati riak air, di situ pasti dangkal. Usahakan cari area berkerikil.”

Akhirnya mereka menemukan tempat menyeberang yang paling dangkal dari sekian lokasi yang ada. Mereka harus rela menyeberang dengan menerobos muara sedalam lutut.

Namanya juga anak muda, di mana mereka berkumpul pasti ada gurauan, candaan dan tawa. Demikian juga ketika menyeberangi muara sungai itu. Lebar muara itu ada sekitar 300 meteran. Yang paling suka bercanda di antara mereka adalah Made Kelor yang berjalan paling depan, sebagai pembuka jalan. Tiba-tiba ia memberi peringatan.

“Awas ada buaya, hati-hati!” serunya.

Mendengar peringatan itu, kawan-kawannya sontak berhenti dan merasa ketakutan. Namun ia juga pintar menenangkan kawan-kawannya. Dengan demikian perjalanan bisa dilanjutkan kembali.

Begitu kawan-kawannya tenang dan bergurau kembali, tiba-tiba di tengah perjalanan Made berteriak lagi.

“Awaass buayaaa………….,” serunya lagi sehingga mengagetkan kawan-kawannya.

Tentu saja kawan-kawannya kembali kaget mendengar seruan itu. Mereka pun berhamburan dari barisan dan berlarian tunggang langgang karena sudah dekat dengan pinggir sungai di seberang. Kendatipun harus berbasah-basahan karena harus menerobos muara dengan rasa takut.

Namun ternyata Made Kelor masih di lokasi semula, dalam muara. Nyoman Botor mencoba mendekati dan menanyakan.

“Ada apa De..? Kenapa masih berdiri di situ mematung?”

“Waduuh.. kakiku sakit. Ada sesuatu di pergelangan kakiku.”

“Coba bawa obornya kamari!”

Ternyata, setelah diterangi dengan obor, kakinya digigit buaya kecil. Mungkin anak buaya. Karena airnya jernih, kelihatan sekala ekornya berkibas. Ia pun ingat mencolok mata buaya itu. Kakinya pun dilepaskan.

Nyoman bilang, menurut cerita orang-orang tua, muara sungai itu cukup angker karena ada penunggunya dari alam gaib. Orang tidak boleh bicara sembarangan yang tidak sopan atau semacamnya. Intinya, di manapun harus menjaga kesopanan. Walapun tidak kelihatan, masih ada alam lain menurut keyakinan setempat.

Karena mengalami musibah seperti itu, rombongan menonton arja di desa sebelah dibatalkan. Mereka semua mengajak Made Kelor pulang untuk segera mendapat pertolongan dari dukun setempat.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60