ANGIN laut Lovina di Bali utara berdesir lembut, memainkan helai rambut Claria yang tergerai. Ia tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Daniel, suaminya. Ombak di kejauhan memantulkan semburat oranye dari matahari terbenam yang sebentar lagi tenggelam sempurna. Ini adalah Hari Valentine pertama mereka sebagai pasangan menikah, dan mereka memilih untuk melarikan diri dengan berlibur ke Bali, jauh dari keramaian kota.
“Aku masih tidak percaya kita ada di sini, Dan,” bisik Claria, suaranya sedikit serak karena haru. “Bali… Lovina… Rasanya seperti mimpi.”
Daniel mengeratkan pelukannya. “Aku tahu, Sayang. Sejak awal, aku ingin Valentine pertama kita jadi sesuatu yang spesial. Bukan cuma makan malam di restoran mahal, tapi petualangan.”
Claria tertawa kecil. “Dan petualangan ini sungguh luar biasa. Lumba-lumba tadi pagi… Aku tidak akan pernah melupakannya.”
Pagi itu, mereka menyewa perahu nelayan tradisional dan berlayar di laut lepas. Matahari terbit menyinari lautan yang tenang, dan tak lama kemudian, puluhan lumba-lumba melompat dan berenang di samping perahu mereka, seolah menyambut. Sebuah pengalaman magis yang membuat Claria menitikkan air mata bahagia.
“Lumba-lumba itu sepertinya tahu kita sedang merayakan cinta,” komentar Daniel. “Mereka jadi saksi bisu.”
Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati keindahan lanskap yang terbentang di hadapan mereka. Langit berubah dari oranye ke ungu gelap, dan bintang-bintang mulai berkelip.
“Apa kamu bahagia, Claria?” tanya Daniel, suaranya pelan.
Claria mengangkat kepalanya, menatap mata suaminya yang memantulkan cahaya bintang. “Sangat. Lebih dari kata-kata yang bisa aku ucapkan. Bersamamu, di sini… Ini adalah Valentine terbaik dalam hidupku.”
Daniel tersenyum, mengusap pipi Claria dengan ibu jarinya. “Dulu, aku selalu berpikir Valentine itu hanya tentang membeli barang. Tapi kamu… kamu mengubah perspektifku. Kamu menunjukkan padaku bahwa yang paling berharga itu adalah waktu dan pengalaman yang kita bagi.”
“Sama halnya denganmu,” balas Claria, menggenggam tangan Daniel erat. “Kamu selalu membuatku merasa aman dan dicintai, di mana pun kita berada. Tapi sejujurnya, di Bali ini, rasanya jauh lebih intens.”
Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk menyewa skuter dan menjelajahi pedesaan. Jalanan berkelok-kelok melewati sawah hijau yang membentang luas, dengan para petani bekerja di kejauhan. Aroma dupa dan bunga kamboja tercium di udara, bercampur dengan bau tanah yang lembap.
Mereka berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan untuk makan siang. Sebuah warung sederhana yang menjual nasi campur dengan lauk-pauk tradisional Bali.
“Wow, ini enak sekali!” seru Daniel, setelah suapan pertama. “Rasa rempahnya kuat, tapi segar.”
“Aku setuju,” kata Claria, mengangguk-angguk. “Kadang, makanan terbaik itu justru yang paling sederhana dan otentik, ya?”
Saat mereka sedang menikmati hidangan, Daniel mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak kecil berbahan kayu ukiran Bali.
“Aku punya satu kejutan lagi untukmu, Sayang,” katanya, menyerahkan kotak itu pada Claria.
Claria membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, ada sepasang anting perak kecil berbentuk bunga kamboja, persis seperti bunga yang banyak mereka lihat di Bali.
“Oh, Daniel… Ini cantik sekali!” seru Claria, matanya berkaca-kaca. “Tapi… kamu tidak perlu repot-repot.”
“Aku tahu,” Daniel tersenyum tulus. “Tapi aku ingin kamu punya sesuatu yang bisa mengingatkanmu pada perjalanan kita ini. Setiap kali kamu memakainya, ingatlah Lovina, lumba-lumba, dan nasi campur enak ini.”
Claria memeluk Daniel erat, tak peduli dengan orang-orang yang melihat di warung itu. “Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu, Claria,” balas Daniel, mengecup puncak kepala istrinya. “Selamanya.”
Mereka tahu, Valentine di Bali ini bukan hanya tentang cinta mereka, tetapi juga tentang menemukan kembali diri mereka sendiri, bersama-sama. Di bawah langit Bali yang membentang luas, di tengah semilir angin laut dan aroma bunga kamboja, janji hati mereka terasa semakin kuat, tak terbatas, dan abadi. (*)







