UDARA asin yang lembut berembus masuk dari tirai akomodasi kapsul, membawa serta suara ombak pantai yang tak pernah lelah memukul pantai. Tiara, yang sedang menikmati liburan, menggeliat di kasur minimalisnya, aroma kayu basah dan garam laut mengisi indranya. Ia melirik kapsul di sebelahnya. Tirai linen krem itu sudah tersibak sedikit.
“Sudah bangun, Bu Content Creator?” sapa Tiara, suaranya serak.
Luna, dengan rambut bergelombang acak-akan dan cangkir kopi di tangan, menoleh dari balkon kayu kecil di ujung lorong. “Novelista kita akhirnya sadar. Sudah hampir jam sembilan, Rar. Tadi aku ambil kopi di lobby utama. Pemandangan di sini gila, sumpah. Kenapa kita enggak pernah ke sini, sih?”
Tiara bangkit, melipat selimut dan merapikan kapsulnya. Akomodasi kapsul yang mereka seinap, “Kapsul Samudra”, berkonsep minimalis dan ramah lingkungan, terletak persis di perbatasan antara hutan lindung yang rimbun dan pantai bermuara. Sangat kontras dengan pemandangan gedung-gedung Jakarta yang mereka tinggalkan.
Tiara berjalan keluar, menyusul Luna. “Karena kamu selalu overthinking soal sinyal dan aku terlalu sibuk dikejar deadline kantor, Lun. Eh, ralat. DULU sibuk dikejar deadline kantor,” koreksinya, menegaskan kata ‘dulu’ sambil menarik napas lega.
Luna menatapnya, ada sorot iba bercampur kagum di matanya. Mereka berdua, usia 28 tahun, telah bersahabat sejak kuliah. Luna adalah seorang freelancer penuh waktu—penulis lepas, ghostwriter novel, dan konten kreator untuk topik kesehatan mental. Sedangkan Tiara, seorang penulis novel yang bekerja penuh waktu sebagai editor, baru saja mengajukan surat pengunduran diri yang dramatis setelah dituduh menggelapkan dana kerjasama promosi oleh seorang rekan kerja yang iri. Fitnah itu membuatnya hancur dan mempertanyakan harga dirinya.
“Kamu yakin resign-nya benar-benar udah final, Rar?” tanya Luna. “Bukan cuma mood sesaat?”
Tiara menyandarkan punggung ke tiang kayu, menatap pepohonan yang merayap di tebing. “Lebih dari yakin. Enam tahun mendedikasikan diri, tapi sekali ada drama murahan, semua dibuang. Aku enggak mau lagi hidup di lingkungan toxic begitu. Toh, aku punya tabungan dan royalties novel pertama. Aku butuh ketenangan dan inspirasi baru, makanya aku turuti saranmu dari Instagram. Terima kasih, Lun. Tempat ini… mengubah perspektifku.”
“Sama-sama. Itu juga berkat followers yang ngasih recommendation waktu aku bikin polling tempat liburan tersembunyi. Ternyata worth it banget, ya?” Luna tersenyum, menyesap kopi. “Aku sendiri sudah dapat draft ide konten baru, nih. Tentang ‘The Art of Detachment’ dan ‘Finding Peace in Minimalism’. Tempat ini estetikanya kuat banget.”
“Aku juga,” ujar Tiara, matanya berbinar. “Aku sudah menulis sepuluh notes di ponselku. Tentang hutan yang menjaga pantai, tentang bagaimana ‘kapsul’ ini adalah simbol bagaimana kita enggak butuh banyak hal untuk bahagia. Ide buat novel keduaku makin mantap. Konflik batin dan setting-nya akan kuambil dari sini.”
Sisa hari itu mereka habiskan dengan meditasi di pinggir pantai, berjalan kaki di hutan, dan duduk di balkon sambil menulis. Tiara tidak lagi merasa tertekan; rasa marah karena difitnah perlahan terganti oleh tekad. Ia menyadari bakat dan keterampilannya sebagai editor dan penulis novel sangat dicari, bahkan di luar lingkungannya yang lama.
“Lun,” kata Tiara malam itu, saat mereka berbagi mi instan di teras bersama di bawah langit bertabur bintang, “aku mau jadi remote worker.”
Luna mendongak dari laptopnya. “Serius? Editor remote atau full penulis?”
“Keduanya, kalau bisa. Editor remote untuk mengisi keuangan, dan menulis novel sebagai passion utamaku. Kenapa enggak coba perusahaan luar negeri aja, ya? Dengan jam kerja yang lebih fleksibel?”
Luna tertawa. “Nah, gitu dong! Semangat yang hilang akhirnya kembali! Aku bantu carikan lowongan yang sesuai skill kamu, deh. Siapa tahu ada yang butuh editor freelance yang kerjanya bisa dari mana saja.”
Tiara mengangguk, hatinya dipenuhi harapan baru. Selama seminggu berikutnya, mereka menjadi duo digital nomad. Tiara menghabiskan waktunya melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan penerbitan dan media asing yang menawarkan posisi remote, dibantu Luna yang lihai dalam urusan digital dan networking.
Tepat di hari terakhir liburan mereka, saat matahari terbenam memulas langit dengan warna emas dan ungu di balik cakrawala laut, Tiara menerima dua email berturut-turut.
“LUNAAAA!” teriaknya, melompat dari tempat duduknya di tepi pantai.
Luna segera berlari menghampiri. “Kenapa? Ada review jelek dari klien?”
“Bukan! Aku… aku diterima! Dua-duanya!” Tiara gemetar, menunjukkan layar ponselnya. Satu tawaran dari sebuah perusahaan e-book di Irlandia sebagai Associate Editor Remote dan satu lagi dari majalah literasi di Kanada sebagai Proofreader dengan jam kerja paruh waktu yang sangat fleksibel.
Luna langsung memeluknya erat. “Aku bilang juga apa! Talenta bagus enggak akan pernah tenggelam! Selamat, Rar! Kamu resmi remote worker!”
“Kita!” koreksi Tiara, air mata haru membasahi pipinya. “Semua berkat rekomendasi healing dari kamu, Lun. Malam ini, kita rayakan! Kita booking meja di kafe seafood terbaik. Biar aku yang bayar! Sebagai tanda terima kasih dan perayaan atas babak baru hidup kita!”
Mereka tertawa lepas, suara mereka bersahutan dengan debur ombak. Dua wanita, yang satu freelancer sukses dan yang satunya ex-editor yang baru bangkit dari keterpurukan, kini siap menghadapi dunia dengan ritme mereka sendiri. Kapsul di tepi rimba itu bukan sekadar akomodasi, tapi tempat lahirnya kembali impian dan kemerdekaan. (*)








