3 Pemuda Mengintip Aktivitas ‘Night Life’ di Kuburan

  • Whatsapp
Ilustrasi aktivitas 'menari malam'
Ilustrasi aktivitas 'menari malam' di kuburan.
banner 468x60
  • MALAM Kajeng Kliwon, di Bali, dianggap sebagai waktu yang ‘angker’ karena sering dikaitkan dengan aktivitas mistis.
  • Oleh karena itu, kalau bisa, hindari bepergian pada malam tersebut yang melewati tempat angker bila tidak terlalu penting, atau lakukan lebih awal

Malam Kajeng Kliwon menurut keyakinan masyarakat Bali amat angker atau paling tidak, cukup menakutkan, karena sering dikaitkan dengan kegiatan dunia mistis. Walau zaman kini sudah berubah, hal-hal seperti itu masih saja ada, namun intensitasnya tidak seramai dulu ketika listrik belum masuk ke desa-desa.

Maklumlah, hal ini adalah bagian dari rwa bhineda atau dualisme dan akan selalu ada dalam kehidupan di dunia seperti halnya pasangan baik-buruk, siang-malam dan sebagainya. Cuma di zaman moderen ini intensitasnya mungkin tidak sebanyak atau sesering pada zaman dulu.

***

Di sebuah bale banjar ketika menjelang kegiatan ulang tahun organisasi pemuda, para pemudanya mengadakan latihan pentas seni drama calonarang. Kegiatan itu diadakan setiap malam Minggu. Kira-kira mereka hanya perlu latihan 5 kali sebelum pentas sudah cukup. Rata-rata latihan mereka berlangsung hingga dini hari, namun semuanya tidak ada masalah. Mereka tetap senang, bersemangat dan berjalan lancar.

Pada suatu malam, Ketut Doe, seorang anggota organisasi pemuda tersebut tidak bisa hadir seperti kawan-kawan lainnya. Maklumlah, ia harus bekerja di bidang pariwisata, yang menyediakan jasa angkutan wisata atau mengantar wisatawan. Sebagai kompensasinya, ia dengan senang hati membelikan camilan berupa gorengan untuk kawan-kawannya yang sedang berlatih dan begadang.

Sekira pukul 11:45 malam itu, langit tidak gelap-gelap amat namun cukup diterangi cahaya rembulan karena bulan purnama jatuh dua hari sebelumnya. Sesekali awan yang dihembus angin tenggara menyelimuti sang rembulan. Begitu mendekati kuburan desanya dalam perjalanan pulang mengantar tamu ke bandara, bulu kuduknya berdiri. Tidak tahu entah apa yang terjadi. Namun ia tetap membawa kendaraan seperti biasanya karena ia sudah terbiasa pulang larut malam membawa kendaraan.

“Wah ada apa itu kok seperti ada orang rame-rame di kuburan, ada tiga orang, malam-malam begini?” gumamnya sembari memelankan laju kendaraannya.

“Sepertinya mereka sedang menari???”

O… ya .. ya sekarang aku mengerti sekarang.”

Ketut Doe pun melajukan kendaraannya dengan lebih cepat lagi. Ia berharap bisa segera sampai di bale banjar atau balai pertemuan desa untuk mengabari kawan-kawannya di sana yang sedang berlatih. Setibanya di bale banjar, Ketut bergegas turun dan menghampiri kawan-kawannya yang sedang berlatih. Ia pun dua orang memanggil temannya.

“Man…Man, coba kesini dulu ada hal penting yang ingin kuceritakan,” kata Ketut kepada Nyoman Toyo sembari melambaikan tangannya.

“Ada apa ya… Tut? Kok kayaknya begitu penting. Ada apa ini, katakan!”

“Gini….gini, barusan ketika lewat di depan kuburan aku melihat sekitar tiga perempuan yang sedang menari sambil mengikuti irama tetabuhan kita di sini.”

“Ah masak, di kuburan ada orang menari? Ehmm… ya..ya, aku tahu sekarang, baru ingat. Gini, sekarang kan Kajeng Kliwon. Mereka pasti berlatih ilmu magis atau ngeleak…atau night life di kuburan apakah rambut mereka terurai?” tanya Wayan.

“Tidak jelas kulihat, karena hanya nampak dari kejauhan. Bagaimana kalau kita intip mereka rame-rame?” kata Ketut.

Nampaknya mereka akhirnya bertiga bersepakat dan berangkat ke kuburan, sementara yang lainnya tetap melanjutkan latihan drama mereka. Harapannya, seiring alunan musik di bale banjar ketiga perempuan itu juga akan tetap menari di kuburan.

***

Pada malam yang semakin dingin itu, mereka bertiga melakukan ‘petualangan’ yang tidak biasa. Sambil merokok, mereka terus saja bercakap-cakap namun dengan suara setengah berbisik. Ketika sampai di pojok Pura Dalem, mereka serempak berhenti sejenak.

“Man, kok begini ya, bulu kudukku terasa berdiri semua?” tanya Ketut Doe kepada Nyoman Toyo.

“Ya, ya, aku juga merasa demikian,” sahut Nyoman Toyo.

“Wah ini pastilah mereka sudah memasang pembatas niskala, ya semacam alarm-lah di zaman sekarang. Begitu ada orang memasuki radius itu, mereka yang sedang menari di kuburan itu pasti akan merasakan dan mengetahui kehadiran kita. Jadi bisa saja, mereka sudah siap-siap kabur,” ditimpali Wayan.

“Teruss, bagaimana caranya agar kita bisa berhasil Yan?” tanya Nyoman.

“Kita telanjur masuk ke wilayan mereka. Ya, kita lanjutkan namun Dengan pelan-pelan dan penuh kehati-hatian.”

Benar saja, apa yang para pemuda itu perkirakan. Mereka berhenti menari. Dari kejauhan, wajah mereka memang tidak kelihatan dengan jelas karena terhalang tangan mereka yang menutupi wajah. Tampaknya, mereka sudah mencium kedatangan ketiga pemuda tersebut.

Seperti layaknya sebuah tim sepak bola, ketiga pemuda itu berhenti sejenak dan berkumpul mengatur strategi bagaimana cara menyergap agar bisa tahu siapa saja mereka. Ada yang dari depan dan kedua sisi samping dengan aba-aba.

“Satu, dua, tigaaa…,” bisik Ketut agar tidak mudah kentara.

“Waduuh, kok mereka sudah menghilang dalam sekejap ya? Tadi mereka semua kan berdiri di sini,” kata Nyoman.

“Tidak apa-apa. Ya, biarkan saja mereka pergi, memang kita ini yang usil. O ya, tempat berlatih mereka kan memang di sini dan waktunya memang juga jam segini. Lebih baik kita pulang,” ajak Ketut Doe.

“Yaah, sia-sia deh usaha kita. Maunya agar kita bisa mengungkap siapa mereka. Itu saja,” kata Wayan sambil mengungkapkan kekesalannya.

“Kalau mau, semestinya cukup mengintip saja, jadi tidak usah menggerebek begini. Mereka kan tidak mengganggu kita dan kita juga tidak boleh mengganggu mereka,” nasihat Nyoman.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60