8 Orang Asing Yang Berjasa Memromosikan Bali (Bagian I)

  • Whatsapp
Tari Kecak
Ilustrasi Tari Kecak. (Foto: Steffen Zimmermann/Pixabay)
banner 468x60
  • KUNJUNGAN turis ke Indonesia, termasuk Bali, sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda
  • Beberapa di antara mereka mempelajari dan mendokumentasikan kebudayaan dan sejarah Bali

Ketika Indonesia masih dalam masa penjajahan Belanda pada tahun 1930-an, sejumlah turis asing berkunjung ke Indonesia. Mereka berlalu lalang dan berfokus pada tujuan mereka masing-masing.

Beberapa dari mereka adalah seniman dan budayawan yang turut membantu menggali potensi tersembunyi yang dimiliki Indonesia, termasuk di Pulau Dewata. Mereka berbaur dan berkolaborasi dengan seniman lokal yang kemudian menghasilkan beberapa karya dan menjadi tonggak penting dalam sejarah perkembangan kebudayaan dan pariwisata Bali.

Berikut ini adalah beberapa dari mereka yang sudah berkiprah dan menjalin kerjasama erat dengan warga lokal yang kemudian melahirkan sejumlah seniman terkenal. Di sisi lain, mereka memperkenalkan budaya Bali di luar negeri. Dan ini menjadi awal promosi wisata di luar.

Walter Spies (1895-1942)

Seniman Jerman ini berkunjung ke Bali untuk pertama kalinya pada tahun 1925 dan kemudian menetap di pulau mungil ini setelah kedatangan berikutnya pada tahun 1927.

Seorang sahabat dari keluarga kerajaan Ubud, Cokorda Gede Agung Sukawati, yang berpengaruh, memberi tawaran untuk membangun rumah di dekat Campuan, sebelah barat Ubud. Kediaman ini dengan cepat menjadi tempat pertemuan para seniman yang mengikutinya. Ia berinteraksi secara pribadi dalam setiap aspek budaya dan kesenian Bali.

Walter Spies juga bekerjasama dengan Wayan Limbak untuk menggarap Tari Kecak yang konon berakar dari ritual kuno Bali yang bernama Tari Sanghyang. Tarian ini berfungsi mengusir roh jahat ketika penari mengalami kesurupan. Tarian ini diciptakan pada tahun 1930. Mereka menciptakan versi pertunjukan dramatis Sanghyang dengan memasukkan kisah kepahlawanan Ramayana. Inovasi tersebut kemudian dibawa pentas keliling dunia. Akhirnya tarian tersebut menjadi populer hingga kini. Wisatawan pun dapat menyaksikan kesenian tersebut dalam pertunjukan reguler setiap berkunjung ke Bali.

Pada tahun 1932, ia menjadi kurator Museum Denpasar. Bersama Rudolf Bonnet dan Cokorda Gede Agung Sukawati, ia mendirikan koperasi seni Pita Maha pada tahun 1936. Di samping itu, ia ikut menulis buku Dance & Drama in Bali dan menerbitkannya, serta menciptakan kembali tari kecak untuk film Jerman The Island of Demons.

Rudolf Bonnet (1895-1978)

Seniman Belanda ini berfokus pada aspek manusia dan kehidupan sehari-hari masyarakat di Pulau Bali. Bonnet banyak menghasilkan karya lukisan klasik yang bertema pasar atau sabung ayam. Ia kembali ke Bali pada tahun 1950-an untuk mengerjakan pendirian Museum Puri Lukisan di Ubud, kemudian pada tahun 1973 membantu mendirikan koleksi permanen museum.

Miguel Covarrubias (1904-1957)

Seniman asal Meksiko ini mengunjungi Bali dua kali pada awal tahun 1930-an, sebelum tertarik pada penciptaan teater dan teknik pencetakan. Dia adalah penulis buku The Island of Bali yang masih dipakai sebagai referensi sejarah Indonesia tentang Bali hingga kini. Buku ini memperkenalkan Pulau Bali dan budayanya.

Collin McPhee (1900-1965)

Musisi Kanada Collin McPhee memiliki peran yang cukup besar dalam membawa musik tradisional Bali ke dunia Barat. Di samping itu, ia juga mendorong para pemain gamelan untuk melakukan perjalanan ke Amerika Serikat. Pada tahun 1944, ia menerbitkan buku yang berjudul A House in Bali, satu dari ribuan tulisan tentang Bali.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60