Arak Api, Boreh, dan Kakek Nyoman

Arak Api
Ilustrasi arak api dalam kemasan kaleng. (Image: GwAI/Nusaweek)
banner 468x60

UDARA dingin menyelimuti puncak Bukit Kamaligi, menusuk sampai ke tulang. Matahari senja yang memerah di ufuk barat perlahan menghilang di balik Gunung Batur, meninggalkan jejak jingga yang memesona. Di sebuah gubuk sederhana, Nyoman, seorang kakek tua dengan rambut memutih dan sorot mata teduh, duduk di depan tungku. Di hadapannya, Bayu, pemuda berbadan tegap yang sehari-hari bekerja di kebun, meringis menahan sakit di persendian lututnya.

“Nyeri ini sudah sebulan, Kek,” keluh Bayu, suaranya parau. “Sulit sekali untuk jalan, apalagi memanggul hasil panen.”

Nyoman menatap Bayu dengan penuh empati. Ia menyentuh lutut Bayu yang bengkak, merasakannya dengan jari-jemari tuanya. “Ini bukan lagi sekadar sakit biasa, Bayu. Ini rematik. Udara dingin di sini memang kadang jadi musuh bagi tulang.”

Bayu menghela napas pasrah. Ia sudah mencoba berbagai cara, dari memijatnya dengan minyak hangat hingga membalutnya dengan daun-daun herbal, tetapi rasa sakitnya tak kunjung reda. “Apa ada cara lain, Kek?”

Nyoman tersenyum tipis. “Ada. Tapi ini bukan untuk yang penakut.”

Bayu mengernyitkan dahi. “Apa itu, Kek?”

Nyoman bangkit dan mengambil sebuah kaleng berwarna hiijau dari rak kayu. Isinya cairan bening dengan aroma khas fermentasi. “Ini arak api, arak Bali yang sudah diolah khusus. Bukan untuk diminum, tapi untuk pengobatan.”

Ia meletakkan kaleng itu di samping sebuah mangkuk kecil berisi ramuan bubuk berwarna cokelat gelap. “Ini boreh. Campuran dari jahe, kencur, pala, cengkeh, dan berbagai rempah lain yang digiling sampai halus.”

“Lalu?” tanya Bayu, matanya tak lepas dari kedua bahan itu.

“Nanti malam, kita obati lututmu,” ujar Nyoman. “Sudah lama sekali aku tidak melakukannya. Tradisi ini sudah nyaris dilupakan.”

——–

Malam harinya, di halaman gubuk Nyoman, obor-obor bambu memancarkan cahaya kekuningan. Nyoman meletakkan borong (wadah dari tanah liat) di tengah-tengah. Ia menuangkan bubuk boreh ke dalam mangkuk, lalu menuangkan arak api sedikit demi sedikit sambil mengaduknya hingga menjadi pasta kental.

“Boreh ini akan membuka pori-pori dan meredakan peradangan. Arak api akan menembus jauh ke dalam persendian, mengusir dingin dan rasa sakit,” jelas Nyoman.

Bayu mengangguk, napasnya tertahan. Nyoman kemudian memintanya berbaring. Ia mengoleskan boreh yang sudah dicampur arak api ke seluruh lutut Bayu. Rasa dingin dan panas bercampur menjadi satu, membuat Bayu sedikit terkesiap.

“Jangan bergerak,” Nyoman mengingatkan. “Sekarang, bagian yang paling penting.”

Nyoman mengambil dua buah obor bambu. Ia menyulut api pada kedua ujungnya. Bayu menelan ludah. “Kek, apa yang akan kau lakukan?”

“Seni pengobatan api, Bayu,” kata Nyoman, suaranya tenang. “Ini warisan dari leluhur. Dengan api, kita menyalurkan energi panas yang murni untuk melawan energi dingin yang merusak. Ini bukan sekadar obat, ini doa. Ini tentang keseimbangan.”

Nyoman menggerakkan obor itu perlahan di atas lutut Bayu, tidak menyentuh kulitnya, hanya membiarkan nyala api menyalurkan hawa panas. Bayu merasa aneh, ada sensasi hangat yang menjalar dari lututnya, menembus sampai ke tulang. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang sedang menarik keluar semua rasa sakitnya.

Nyoman bersenandung pelan, melafalkan mantra-mantra kuno dalam bahasa Bali. Suaranya rendah dan penuh makna. Nyala api berkedip-kedip, seolah menari mengikuti irama suaranya.

“Nyawa arak api,” Nyoman melanjutkan. “Ini bukan sekadar alkohol. Ini adalah esensi dari alam. Dari tetesan air kelapa, dari tanah yang subur, dari rempah-rempah yang diberkati. Kita menggunakan kekuatan alam untuk menyembuhkan.”

Setelah beberapa menit, Nyoman memadamkan obor. Ia membiarkan boreh itu kering di lutut Bayu. Bayu memejamkan mata, merasakan sensasi hangat yang masih tersisa. Ia mencoba menggerakkan lututnya, dan untuk pertama kalinya dalam sebulan, ia tidak merasa nyeri. Ia bangkit perlahan, berdiri tegak.

“Kek,” ucapnya, matanya berkaca-kaca. “Sakitnya hilang.”

Nyoman tersenyum tulus. “Aku sudah bilang, ini bukan untuk yang penakut.”

Beberapa hari kemudian, Nyoman dan Bayu duduk di beranda gubuk, menikmati pemandangan matahari terbit. Bayu sudah bisa berjalan normal, bahkan memanggul sekarung hasil panen.

“Bagaimana, Bayu?” tanya Nyoman.

“Lututku sudah sembuh total, Kek. Aku tidak menyangka arak api bisa seajaib itu,” jawab Bayu, kagum.

“Itu bukan karena arak api saja, Bayu,” ujar Nyoman. “Itu karena keyakinanmu. Pengobatan tradisional ini tidak hanya tentang ramuan dan ritual. Ini tentang keyakinan, tentang harmoni dengan alam, dan tentang energi. Kita hanya membantu alam untuk menemukan keseimbangannya kembali.”

Nyoman memandang Bayu, tatapan matanya penuh harapan. “Seni pengobatan ini adalah harta karun yang tak ternilai, Bayu. Warisan leluhur. Jika kita tidak menjaganya, siapa lagi?”

Bayu terdiam sejenak. Ia menyadari sesuatu yang lebih besar dari sekadar kesembuhan fisik. Ia belajar tentang kearifan lokal, tentang warisan budaya yang nyaris punah.

“Aku akan belajar darimu, Kek,” kata Bayu, suaranya mantap. “Aku akan membantu menjaga tradisi ini agar tidak hilang ditelan zaman.”

Nyoman tersenyum, wajahnya berkerut. Ia menepuk pundak Bayu dengan penuh kasih sayang. “Nah, itu baru cucuku.”

Angin sejuk berhembus, menerbangkan aroma kopi dari cangkir di hadapan mereka. Di antara keindahan alam dan kehangatan persahabatan, Nyoman dan Bayu menemukan makna sejati dari seni penyembuhan: bukan hanya mengobati tubuh yang sakit, tetapi juga menyembuhkan jiwa, dan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup. Mereka berdua, di puncak bukit itu, menjadi penjaga tradisi yang tak lekang oleh waktu.

banner 300x250

Related posts