“SEORANG wanita karier yang skeptis menemukan bahwa canang sari atau sesajen yang ia letakkan di desa neneknya bukan sekadar ritual, melainkan ‘suara’ dari masa lalu yang mengungkap rahasia kelam misteri leluhur keluarganya yang telah terkubur puluhan tahun.”
—————-
Mentari pagi di Jakarta adalah alarm paling brutal bagi Sekar. Suara bising kendaraan, klakson yang memekakkan telinga, dan aroma knalpot yang menyesakkan adalah santapan hariannya. Tiga bulan terakhir, semuanya terasa lebih berat. Email tak berujung, presentasi yang tak pernah sempurna di mata atasan, dan target yang terus melambung tinggi. Ia ingat betul malam di mana ia memandangi laptop dengan mata kosong pukul dua pagi, kemudian menangis tanpa suara, menyadari dirinya burnout total.
Keputusan pulang ke Tabanan, Bali, adalah pilihan terakhirnya. Neneknya, Luh Menek, dengan sabar menawarkan kedamaian desa. Sekar, dengan kemeja flanel kebesaran dan celana jins yang sudah lusuh, kini duduk di balai desa, memandangi hamparan sawah hijau yang memeluk erat rumah neneknya. Tak ada suara klakson, hanya kicauan burung dan gemericik air irigasi. Sebuah ironi, pikirnya. Ia, yang tumbuh di beton Jakarta, kini mencari ketenangan di tanah yang dulu ia anggap kuno dan membosankan.
“Sudah enakan badanmu, Cening (Nak)?” suara Luh Menek lembut, menyentuh pundaknya. Wanita tua itu meletakkan sepiring pisang goreng dan teh jahe hangat.
Sekar tersenyum tipis. “Lumayan, Nek. Udara di sini beda. Tapi… kenapa Nenek harus bangun sepagi ini untuk bikin sesajen setiap hari?” Ia menunjuk ke arah canang sari berisi bunga warna-warni dan jajanan kecil yang diletakkan neneknya di beberapa sudut halaman rumah.
Luh Menek tertawa kecil, kerutan di sudut matanya semakin dalam. “Ini tradisi, Cening. Bentuk bakti kita pada Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan) pada leluhur, pada alam. Kita meminta keseimbangan, juga menyampaikan terima kasih.”
Sekar mengernyit. “Tapi, kan, cuma ditaruh begitu saja. Apa benar ada yang menerima?” Skeptisisme ala kota besar masih melekat kuat dalam dirinya.
“Bukan soal siapa yang menerima, Cening. Tapi soal niat dan keyakinanmu,” jawab neneknya. “Coba saja kau yang meletakkan canang sari besok pagi. Siapa tahu ada pesan yang ingin disampaikan.”
Sekar hanya mengangguk, setengah acuh tak acuh. Pesan dari sesajen? Itu terlalu mistis bagi otaknya yang terprogram logika dan data.
Keesokan harinya, Sekar bangun sebelum matahari terbit, sebuah kebiasaan yang terpaksa ia lakukan di Jakarta. Ia melihat Luh Menek sudah sibuk menyiapkan canang. Tanpa banyak bicara, Sekar mengambil beberapa keranjang kecil berisi bunga kamboja, daun pandan harum yang diiris rapi, dan jajanan pasar.
Ia meletakkan canang sari pertama di pelinggih (tempat sembahyang kecil) di halaman. Wangi bunga bercampur asap dupa langsung menyeruak, menenangkan paru-parunya. Ia meletakkan canang kedua di bawah pohon kamboja tua. Saat tangannya menyentuh tanah, sebuah sensasi aneh menjalar. Bukan dingin, bukan panas, melainkan seperti getaran halus, seolah ada sesuatu yang berbisik.
“Rumah lama… di balik pohon… di balik nama…”
Sekar tersentak. Ia menarik tangannya, mengira hanya imajinasinya. Ia menertawakan dirinya sendiri. Pasti karena kurang tidur, atau efek udara desa yang terlalu tenang.
Hari-hari berikutnya, ia tetap membantu neneknya menyiapkan sesajen. Setiap kali ia meletakkan canang di tempat-tempat tertentu, bisikan itu muncul lagi, lebih jelas, lebih mendesak.
Di ambang pintu, saat meletakkan canang untuk penjaga rumah: “Pintu merah… kunci perak… suara tawa…”
Di dekat sumur tua: “Bayangan air… kalung permata… air mata…”
Bisikan-bisikan itu mulai membentuk fragmen-fragmen. Sekar yang awalnya skeptis, kini mulai penasaran. Ia mulai menuliskan semua bisikan itu di buku catatannya. “Nek,” tanyanya suatu sore, “kita punya rumah lama di desa ini?”
Luh Menek menoleh, wajahnya menunjukkan sedikit keterkejutan. “Dulu, Cening. Jauh sebelum Nenek lahir. Rumah besar di ujung desa, dekat sungai. Tapi sudah lama ditinggalkan. Katanya… ada sejarah kelam di sana.”
“Sejarah kelam?” Sekar merasa bulu kuduknya merinding. Bisikan dari sesajen itu seolah membenarkan cerita neneknya. “Apa yang terjadi, Nek?”
Neneknya menghela napas panjang. “Dulu, kakek buyutmu punya dua istri. Istri pertama meninggal misterius setelah melahirkan anak kedua. Anak itu… bayi perempuan, juga hilang. Lalu kakek buyutmu menikah lagi dan pindah rumah. Cerita itu… dilarang dibicarakan. Takut mengundang musibah.”
Mata Sekar membelalak. Bayi perempuan hilang? Kalung permata? Air mata? Bisikan dari sumur itu seadanya merujuk pada kisah ini. “Lalu… bagaimana dengan rumah lamanya? Ada yang tahu pintunya warna apa?”
Luh Menek berpikir keras. “Dulu katanya pintu utamanya dicat merah untuk menolak bala. Tapi itu cerita sangat tua, Cening. Tak ada yang tahu persis lagi.”
Pintu merah… kunci perak… suara tawa… Bisikan itu kembali terngiang. Sekar merasa jantungnya berdebar kencang. Ia mulai menyadari bahwa sesajen itu, bagi Luh Menek adalah bentuk bakti, namun baginya kini, adalah jembatan menuju masa lalu yang terkubur.
Keesokan paginya, Sekar tidak membantu neneknya membuat canang. Ia sudah menyiapkan sepasang pisau. Ia meminta neneknya untuk menunjukkan arah rumah lama yang dimaksud. Dengan langkah mantap dan diiringi tatapan bingung neneknya, ia berjalan menuju hutan kecil di ujung desa.
Di sana, ia menemukan reruntuhan sebuah bangunan yang tertutup semak belukar. Ia menyibak daun-daun tebal, tangannya gemetar. Di sana, di antara lumut dan akar, ia menemukan kusen pintu yang lapuk, namun sisa cat merahnya masih terlihat jelas.
Pintu merah.
Ia mencari-cari, mengikuti bisikan sesajen yang kini terasa lebih nyata. Di bawah pohon beringin tua, tak jauh dari sisa-sisa sumur yang kering, ia melihat sebuah gundukan tanah yang mencurigakan. Sekar mulai menggali dengan pisau. Tidak terlalu dalam, tangannya menyentuh sesuatu yang keras. Sebuah kotak kayu tua, ukiran Balinya sudah pudar.
Dengan napas tertahan, ia membuka kotak itu. Di dalamnya, terbaring sebuah kalung perak dengan liontin permata kecil yang berkarat. Di samping kalung itu, ada sebuah kunci kecil berwarna perak yang sudah menghitam. Dan sebuah surat yang sudah sangat usang, ditulis dengan aksara Bali kuno.
Sekar memandangi kalung itu, air matanya menetes. Kalung permata… kunci perak… air mata… Semua bisikan sesajen itu kini menjadi nyata, terpampang di hadapannya. Ini bukan sekadar penemuan, tapi seperti dialog dengan leluhurnya.
Ia membawa kotak itu kembali ke rumah neneknya. Luh Menek, melihat isi kotak itu, langsung terhuyung. “Ini… ini kalung Ni Luh Bulan. Anak kakek buyutmu yang hilang,” bisiknya, suaranya tercekat. “Kata keluarga, kalung ini hadiah dari ayahnya sebelum ia lahir.”
Sekar menggenggam kalung itu erat. Kelelahan yang ia rasakan di Jakarta, burnout yang mendorongnya kembali ke akar, kini terasa seperti takdir. Sesajen itu tidak hanya menenangkan jiwanya, tapi juga membukakan sebuah babak baru dalam sejarah keluarganya yang hilang. Sebuah babak yang, ia yakin, baru saja dimulai. Skeptisisme telah luntur, digantikan oleh sebuah keyakinan yang mendalam akan kekuatan tak kasat mata di tanah leluhurnya. (*)








