UDARA subuh di Puncak Pancasari terasa dingin menusuk, namun secangkir kopi hitam di tangan Rendra terasa hangat, kontras dengan hatinya yang dipenuhi kecemasan. Ia duduk di beranda kayu rumah peninggalan kakeknya, memandang kabut tebal yang menyelimuti perkebunan stroberi.
“Kau sudah bangun?”
Suara lembut itu milik Arini, istrinya, yang berjalan keluar sambil memegang selimut tebal. Ia menyampirkannya di bahu Rendra lalu duduk di kursi rotan di sebelahnya.
“Sudah, tak bisa tidur. Pikiranku berkelana,” jawab Rendra, menyeruput kopinya perlahan. “Kau dengar, Arin? Kabut ini seperti selimut yang tak mau diangkat. Seolah menyembunyikan matahari.”
Arini tersenyum tipis. “Sama seperti yang kau rasakan, kan? Rasa takut menghadapi hari esok?”
Rendra menghela napas. Mereka sudah tiga tahun berjuang di Jakarta. Ia, yang semula idealis ingin jadi penulis besar, kini menjadi copywriter di sebuah agensi yang melelahkan. Arini, seorang perawat berbakat, harus rela mengambil kerja paruh waktu karena biaya hidup yang mencekik. Mereka pulang ke rumah tua ini untuk mencari jeda.
“Aku merasa… gagal, Arin. Aku tidak bisa memberimu ‘kemarin’ yang kau impikan. Dan ‘esok’ yang kita hadapi terasa kabur. Penuh ketidakpastian,” aku Rendra. “Seperti yang dinyanyikan Ebiet, “Mungkin, esok hari matahari tak terbit lagi’.”
Arini meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat. “Hei, dengar. Kau terlalu keras pada dirimu. Dulu, kita hanya punya cinta dan semangat, itu saja sudah cukup untuk memberanikan diri ke ibu kota. Kita tak pernah menjanjikan kemewahan, ‘hanya selembar janji yang tersisa’. Janji untuk selalu bersama.”
“Tapi janji itu harusnya berbuah kepastian, Arin. Bukan terus-menerus menguji kita,” sahut Rendra dengan nada getir.
“Kepastian itu bukan diukur dari seberapa banyak uang yang ada di rekening kita, Sayang. Kepastian adalah fakta bahwa saat kau terjaga di pagi hari, aku masih ada di sampingmu. Kau masih punya tempat untuk pulang, dan aku masih ingin mendengarkan cerita-ceritamu,” ucap Arini, menatap mata Rendra dalam-dalam.
Rendra terdiam. Matanya memandang jauh ke arah lembah yang perlahan mulai diterpa bias jingga. Kabut mulai menipis, memperlihatkan barisan pohon pinus yang menjulang.
“Kau ingat kita pernah naik gunung, Rendra?” tanya Arini, memecah keheningan.
“Saat badai datang, kita tidak lari. Kita berpegangan, mendirikan tenda sekuat yang kita bisa, dan menunggu. Kita percaya badai pasti berlalu.”
“Dan matahari pasti terbit,” sambung Rendra, senyum kecil mulai menghiasi wajahnya.
“Ya. Mungkin esok pagi memang akan membawa seribu tantangan baru. Mungkin juga harapan itu masih tersembunyi,” Arini berbisik. “Tapi kita tidak akan menghadapinya sendirian. Kita sudah melewatinya berkali-kali. Lihatlah! Sebentar lagi matahari akan muncul.”
Rendra mengangguk. Ia memutar tubuhnya, memeluk Arini erat. Kehangatan tubuh istrinya terasa nyata dan menenangkan.
“Terima kasih, Arin,” bisiknya. “Kau selalu tahu cara membuatku kembali berdiri.”
“Tentu. Aku adalah elegi yang menemanimu setiap subuh,” balas Arini, mencium pipi suaminya.
Mereka duduk berdua dalam diam, menunggu sepenuhnya cahaya pagi. Di kejauhan, senandung jangkrik perlahan digantikan oleh kicauan burung, seolah alam pun ikut merayakan datangnya hari baru, membawa harapan yang tak pernah benar-benar mati. (*)








