ZEBULON, seekor zebra muda yang hipster dari Savannah, sedang berlibur ke kawasan wisata di pinggiran taman nasional. Ia telah mendengar banyak tentang peradaban manusia, terutama penemuan paling ajaib mereka: zebra cross.
“Ah, sebuah penghormatan untuk spesiesku,” gumam Zebulon bangga saat ia mendekati persimpangan jalan yang ramai. Lampu pejalan kaki menyala hijau.
Dengan gagah, Zebulon melangkah ke atas garis putih dan hitam itu. Seketika, ia berhenti total. Matanya melebar, dan ia memiringkan kepalanya, menatap ke bawah ke jalanan.
“Tunggu sebentar… Apa-apaan ini?”
Seorang bapak-bapak yang buru-buru menyeberang di belakangnya berdeham. “Hei, Zebra! Jalan!”
Zebulon tidak menggubris. Ia mulai clingak-clinguk, membandingkan garis-garis tubuhnya dengan garis-garis di jalan.
“Ini… ini plagiat!” teriak Zebulon, suaranya sedikit melengking. “Ini adalah desain motif original milik klan Zebridae! Apakah kalian mencurinya? Apakah kalian mencoba meniru estetika elegan kami?”
Bapak-bapak itu menggaruk kepalanya. “Nak, itu cuma tempat penyeberangan. Namanya memang begitu.”
“Nama? Nama?!” Zebulon melompat ke satu garis putih dan berputar-putar. “Lihatlah! Garis hitam di tubuhku, garis hitam di jalan! Garis putih di tubuhku, garis putih di jalan! Ini adalah penyamaran sempurna!”
Sebuah mobil taksi berhenti, sopirnya membunyikan klakson. “Tiiiiiit!”
Zebulon terlonjak. Ia menatap mobil itu dengan panik. “Oh tidak! Mobil itu tidak bisa melihatku! Aku telah berintegrasi dengan alam penyeberangan! Aku telah menjadi satu dengan aspal!”
Ia buru-buru berlari bolak-balik di atas garis putih, semakin bingung.
“Aku hilang! Aku kamuflase! Aku tidak tahu mana diriku dan mana jalan!” Zebulon menghela napas dramatis. “Katakan padaku, Tuan! Apa aku ini? Seekor zebra yang menyeberang? Atau… sebuah penyeberangan yang men-zebra-kan dirinya?!”
Bapak-bapak tadi akhirnya menyerah, mengambil ponselnya, dan mulai merekam. “Saya rasa Anda butuh kopi, Kawan.”
“Kopi tidak akan membantu krisis identitas ini!” balas Zebulon, lalu ia tersandung kakinya sendiri dan terjatuh di antara dua garis.
“Ah! Gelap dan terang! Sekarang aku benar-benar tidak bisa membedakan mana celana dan mana trotoar!”
Semua orang di persimpangan tertawa terbahak-bahak, sementara Zebulon, yang sudah berguling-guling kebingungan, memutuskan bahwa Kawasan wisata terlalu banyak mengandung garis-garis, dan ia merindukan hijaunya Savannah. (*)







