MATAHARI 31 Desember sudah condong ke barat, tapi semangat Budi dan Rini justru membumbung tinggi. Mereka sedang berada di Bandara Internasional Ngurah Rai, siap untuk “Misi Tahun Baru Menaklukkan Dunia”, atau setidaknya, Tabanan.
“Rin, kau yakin semua sudah beres? Tiket, hotel, sunscreen SPF 500, semua aman?” tanya Budi sambil merapikan ranselnya yang terlihat terlalu besar untuk short trip 3 hari.
Rini, yang selalu lebih tenang, mengangguk. “Tenang saja, Bud. Aku sudah cek tiga kali. Bahkan aku sudah menyiapkan daftar tempat makan sate bulayak paling top di sana!”
“Nah, itu baru istriku yang baik!” Budi terkekeh. “Ini kan Tahun Baru, momen untuk meninggalkan beban masa lalu dan menyambut petualangan baru! Pokoknya, kita harus fully present di Bali!”
Mereka pun naik pesawat dengan antusias. Setelah menempuh perjalanan darat, mereka tiba di vila tepi Pantai Kedungu yang sudah dipesan. Langit sudah gelap, dan suara ombak mulai terdengar syahdu.
“Wah, ini dia surga dunia! Betul-betul healing banget,” seru Rini sambil menarik napas dalam-dalam. “Aku mau langsung bersih-bersih dan siap-siap untuk makan malam.”
Budi mengangguk setuju, sambil mulai membongkar isi ranselnya. Satu per satu baju kaus, celana pendek, kacamata hitam, topi pantai, hingga kamera canggihnya keluar. Tiba-tiba, wajah Budi berubah pias.
“Rin… Rin… kau tahu tidak, ini ada yang kurang,” kata Budi dengan suara bergetar.
Rini menoleh, “Kurang apa, Bud? Jangan bilang kau lupa bawa charger ponsel lagi.”
“Lebih parah dari itu, Rin!” Budi memutar ranselnya lagi, mengaduk-aduk isinya. “Aku… aku lupa bawa celana panjang! Atau celana pendek! Pokoknya, semua celana selain yang aku pakai sekarang!”
Rini melongo. “Apa?! Bagaimana bisa?! Kau kan sudah bilang semua sudah beres!”
“Aku tahu, aku tahu! Mungkin aku terlalu semangat tadi pagi memikirkan petualangan, sampai lupa detail penting ini,” Budi menunjuk celana jeans lusuh yang melekat di kakinya. “Ini satu-satunya celanaku, Rin! Kita mau Tahun Baru di pantai dengan aku pakai jeans tebal ini?”
Tawa Rini pecah. Bukan tawa pelan, tapi tawa terbahak-bahak yang menggema di seluruh kamar. “Ya ampun, Budi! Fully present katamu! Bagaimana bisa kau lupa bawa celana! Kau mau ikut pesta Tahun Baru seperti orang mau mancing ikan di kota?!”
“Jangan mengejek! Ini situasi darurat!” Budi mencoba menahan senyumnya sendiri. “Oke, oke. Apa solusinya sekarang? Toko sudah pasti tutup kan?”
Rini menyeka air mata tawanya. “Sebentar, sebentar. Aku ingat, ada toko kecil di dekat sini yang katanya buka sampai malam. Mungkin saja masih buka, tapi kita harus buru-buru.”
Mereka pun bergegas keluar. Udara malam Lombok terasa hangat dan beraroma laut. Setelah bertanya ke beberapa warga lokal, mereka akhirnya menemukan sebuah toko kecil dengan lampu remang-remang yang masih buka.
“Alhamdulillah!” seru Budi. “Ada celana pendek, Mas?”
Penjaga toko, seorang bapak tua dengan senyum ramah, menunjuk ke rak di sudut. “Ada, Mas. Tapi ini sisa-sisa. Pilih saja mana yang cocok.”
Budi memeriksa pilihannya. Ada celana pendek motif bunga-bunga oversized, celana pantai warna neon, dan celana pendek kain sarung yang agak kebesaran.
“Ya ampun, Rin. Ini lebih parah dari jeans,” bisik Budi.
“Pilih saja, Bud! Daripada kau pakai celana itu besok di pantai!” Rini mendesak.
Akhirnya, dengan pasrah, Budi memilih celana pantai motif bunga kamboja warna merah muda yang terlihat mencolok.
“Nah, itu baru semangat Tahun Baru!” Rini mencibir. “Kau pasti jadi pusat perhatian di pesta nanti.”
Malam Tahun Baru itu, Budi memang jadi pusat perhatian. Bukan karena celana bunga kamboja merah mudanya, melainkan karena ia dan Rini berdansa riang di tepi pantai, merayakan pergantian tahun dengan tawa yang tak ada habisnya. Budi bahkan berani mengajari beberapa turis asing tarian poco-poco dengan celana “kebesaran”nya.
“Kau tahu, Rin,” kata Budi sambil menatap kembang api di langit. “Mungkin ini bukan tahun baru yang sempurna, tapi ini yang paling tak terlupakan. Dan aku belajar satu hal penting.”
“Apa itu?” tanya Rini sambil menyandarkan kepalanya.
“Petualangan sejati bukan hanya tentang pergi ke tempat baru, tapi juga tentang belajar beradaptasi dan menertawakan diri sendiri saat menghadapi hal-hal tak terduga. Dan juga… selalu cek ulang isi ransel,” Budi terkekeh, melirik celana motif kamboja merah mudanya.
Rini tersenyum, “Betul, Bud. Karena kadang, kekonyolan tak terencana adalah bumbu terbaik dalam setiap perjalanan.” Mereka pun menutup tahun dengan tawa yang hangat, menyadari bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan di luar rencana, di tengah momen-momen paling konyol sekalipun. (*)







