Chef Instan dan Misi Konten Viral

Kelas memasak
Ilustrasi kelas memasak. (Image: Dibuat dengan AI/Nusaweek)
banner 468x60

“OKE, siap semuanya? Hari ini kita akan menaklukkan Croissant Perfection!” seru Chef Renoza, seorang koki pastry terkenal dengan senyum semanis macaroon. Di depannya, kami – enam peserta kelas memasak yang semangatnya campur aduk antara ingin belajar dan ingin pamer di Instagram – menatap adonan croissant dengan tatapan penuh harapan.

Aku, Rian, sudah siap dengan ponsel di tangan. Misi utamaku bukan cuma membuat croissant sempurna, tapi juga konten stori Instagram yang viral. Namaku di media sosial adalah @Rian_FoodieExplorer, dan followers-ku butuh asupan estetika dapur hari ini.

Read More

“Pertama, perhatikan bagaimana saya melipat adonan ini. Ini fase tourage yang krusial,” jelas Chef Renoza sambil melipat adonan dengan gerakan luwes.

“Chef, bisa diulang pelan-pelan sambil saya rekam?” tanya seorang ibu di sampingku, ponselnya sudah menempel di wajah Chef Renoza. Namanya Bu Lastri, alias @Lastri_BikinLapar. Ia lebih obsesif dari aku.

“Tentu,” Chef Renoza tersenyum sabar. “Ingat, setiap lipatan harus presisi—”Flash! Sebuah kilatan cahaya menyambar. Itu dari Mas Toni, alias @Toni_JepretFood, yang sedang mencoba teknik food photography dengan flash eksternal. “Dapat! Cahaya pagi ini sempurna!” serunya bangga.

Chef Renoza hanya menghela napas tipis. “Baiklah, setelah tourage ini, adonan harus diistirahatkan di kulkas selama 30 menit. Kita bisa sambil membuat filling cokelat.”

Seketika, semua orang sibuk. Bukan dengan adonan, tapi dengan ponsel. Bu Lastri merekam dirinya sendiri mencoba melipat adonan, dengan filter mahkota bunga. Aku sedang mencari angle terbaik untuk adonan yang baru saja kulipat, agar terlihat flaky dan mengkilap di stori. Mas Toni sudah sibuk mengatur lampu portabel untuk memotret lelehan cokelat.

“Rian, adonanmu sudah diistirahatkan?” tegur Chef Renoza, tangannya bersedekap.

Aku mendongak, panik. “Eh, sudah, Chef! Baru saja mau masuk kulkas! Tadi fokus ke… keestetikaan permukaannya, Chef!”

Chef Renoza hanya menggelengkan kepala. “Baiklah. Sekarang, filling cokelat. Ini resep rahasia keluarga saya. Hanya—”

“Chef, nama resepnya apa? Biar caption Instagramnya bagus,” potong seorang mahasiswi di belakangku, bernama Gita, dengan akun @Gita_DoyanMakan.

Chef Renoza menghela napas lebih dalam. “Itu filling cokelat. Tidak ada nama dramatis, Nak. Oke, siapkan dark chocolate, krim kental—”

Tiba-tiba, ponsel Mas Toni berdering nyaring. “Halo! Oh, itu endorsement piring keramik baru saya. Bentar ya, Chef, saya harus live sebentar!” Mas Toni langsung keluar dari dapur, masih dengan flash kameranya yang sesekali berkedip.

Melihat kekacauan ini, Chef Renoza akhirnya menyerah. Ia mengambil ponselnya sendiri. “Baiklah. Karena kalian semua sibuk dengan followers dan caption, saya juga akan ikutan. Mari kita buat live tutorial Croissant Perfection versi Chef Renoza!”

Seketika, suasana berubah. Kami semua langsung berebut posisi terbaik di dekat Chef Renoza, memegang ponsel kami sendiri, siap menjadi cameo di live-nya. Bu Lastri sibuk membalas komentar, Gita sibuk mengintip resep di balik punggung Chef, dan aku? Aku berusaha keras agar croissant buatanku terlihat paling sempurna di antara yang lain, siap untuk diunggah dengan hashtag #CroissantGoals dan #ChefRenataAjarin.

Ketika croissant kami akhirnya matang – ada yang sedikit gosong, ada yang terlalu pipih, tapi milikku lumayan mendekati sempurna – kami semua berteriak girang. Bukan karena rasanya yang lezat (yang memang begitu), tapi karena hasilnya sangat instagrammable.

“Bagaimana, Chef?” tanyaku penuh harap, menyodorkan croissant-ku.

Chef Renoza mengambil sepotong, menggigitnya, lalu tersenyum. “Hmm, lumayan. Tapi ingat, Rian. Rasa itu yang utama. Konten hanya pelengkap.”

Aku mengangguk-angguk, sambil diam-diam sudah mengedit foto close-up croissant-ku dengan filter paling estetik. Rasa? Tentu. Tapi likes dan views? Itu adalah topping paling lezat. (*)

banner 300x250

Related posts