Janji Kekasih di Bawah Pohon Kamboja

Pasangan kekasih
Ilustrasi kekasih di Pantai Sanur. (Image: Dibuat dengan AI/Nusaweek)
banner 468x60

PANAS terik sore itu di Pantai Sanur, Bali, tidak menyurutkan semangat Intan. Ia duduk di bawah pohon kamboja yang rimbun, memandangi laut biru yang memantulkan cahaya keemasan. Di sebelahnya, Dion, sahabat karibnya sejak kuliah, sedang asyik memotret perahu-perahu nelayan yang berlabuh.

“Dion, kau sudah mengambil foto yang keseratus untuk travel blog-mu, kurasa. Simpan bateraimu untuk Pura Uluwatu besok,” canda Intan sambil menyesap es kelapa mudanya.

Read More

Dion menurunkan kameranya, tersenyum lebar. “Aku harus mendokumentasikan setiap detail, Tan. Ini kan janji kita! Liburan setelah lima tahun terjebak di kantor.” Ia menghela napas. “Sungguh, melihat laut begini saja sudah terapi. Lupakan deadline dan email sebentar.”

Tiba-tiba, seorang ibu paruh baya dengan caping lebar dan keranjang berisi kain pantai datang menghampiri mereka.

“Selamat sore, Bapak, Ibu. Kainnya bagus-bagus, lho. Ada motif bunga kamboja, asli tenunan sini,” ujar Ibu itu ramah, meskipun napasnya terdengar sedikit terengah.

Intan dan Dion saling pandang. Mereka sudah memutuskan untuk tidak membeli apa-apa hari ini, agar tas mereka tidak penuh.

“Terima kasih, Bu, tapi kami tidak tertarik membeli,” jawab Intan sopan.

Ibu itu tidak langsung pergi. Ia meletakkan keranjangnya sebentar di pasir.

“Tidak apa-apa, Nak. Tapi coba dilihat dulu. Harga khusus untuk turis Indonesia,” katanya sambil mengeluarkan selembar kain dengan warna biru laut yang indah. “Ini saya jamin adem sekali. Belum laku dari pagi. Anak saya sedang sakit di rumah, Nak. Butuh biaya untuk obatnya.”

Raut wajah Intan berubah. Ia tahu, di balik keramahan para pedagang asongan di tempat wisata, sering tersimpan kisah perjuangan hidup.

“Bu, maaf, tapi kami benar-benar…”

Dion, yang biasanya tegas, tiba-tiba memotong. “Berapa harganya, Bu?”

Intan menyikut lengan Dion. “Dion!”

Ibu itu terlihat lega. “Dua lembar Rp100.000 saja, Nak. Murah, sudah harga saudara.”

Dion mengeluarkan dompetnya. “Baik, Bu. Saya ambil yang biru dan yang ini, motif penyu,” kata Dion, menunjuk kain yang terlipat rapi. Ia menyerahkan uang dan menerima dua lembar kain pantai.

Intan menoleh ke Dion dengan alis terangkat. “Untuk apa dua? Kau bahkan tidak pernah pakai kain pantai!”

Dion menunggu Ibu pedagang itu berlalu agak jauh, lalu menatap Intan.

“Aku tahu kita tidak butuh, Tan. Tapi aku melihat kelelahan di mata Ibu itu. Dia menjual barang, bukan mengemis. Dan dia melakukan ini di bawah matahari terik.

Bukankah liburan ini tentang mencari kedamaian? Membantu sedikit, bahkan kepada orang asing, itu juga bagian dari kedamaian.”

Intan terdiam. Ia melihat kain biru yang dipegang Dion, lalu teringat lagi pada wajah Ibu itu.

“Kau benar. Aku terlalu cepat menghakimi,” kata Intan pelan. “Aku khawatir dompetku terkuras habis oleh pedagang asongan, sampai lupa bahwa mereka juga bagian dari ekosistem pariwisata ini.”

Dion menyampirkan salah satu kain itu di bahu Intan. “Anggap saja ini oleh-oleh paling berharga. Bukti bahwa kita pernah berjanji, menjejakkan kaki di Bali, dan pulang dengan hati yang sedikit lebih lembut.”

“Lalu yang satu lagi untuk siapa?” tanya Intan, tersenyum geli.

Dion mengangkat bahu dan menoleh Intan. “Untuk istriku kelak. Agar dia tahu, suaminya ini pernah menepati janji liburan dengan sahabatnya di Bali. Dan belajar satu atau dua hal tentang empati di bawah pohon kamboja.”

Mereka tertawa pelan. Matahari kini hampir tenggelam, menciptakan siluet indah di cakrawala. Intan merasa kehangatan yang ia rasakan bukan lagi dari matahari, melainkan dari pemahaman baru tentang sebuah perjalanan yang tidak hanya melibatkan destinasi indah, tapi juga interaksi kemanusiaan yang tulus.

Mereka tertawa pelan. Matahari kini hampir tenggelam, menciptakan siluet indah di cakrawala. Intan merasa kehangatan yang ia rasakan bukan lagi dari matahari, melainkan dari pemahaman baru tentang sebuah perjalanan yang tidak hanya melibatkan destinasi indah, tapi juga interaksi kemanusiaan yang tulus.

“Kau tahu, Dion? Saat kita di kantor, semua terasa seperti angka, efisiensi, dan target. Kita lupa ada cerita di balik setiap Rupiah yang kita belanjakan,” ujar Intan, melipat kain biru itu dengan hati-hati.

Dion mengangguk, memandangi laut yang kini berwarna ungu gelap. “Makanya kita harus sering-sering keluar dari kotak itu, Tan. Kita butuh perspektif lain. Ibu tadi… dia adalah wajah asli dari pariwisata. Bukan sekadar hotel mewah dan infinity pool.”

“Betul. Tadi kupikir dia hanya mengganggu momen santai kita, padahal dia sedang berjuang untuk momen sehat anaknya,” Intan bergumam. “Kadang, destinasi wisata yang paling berkesan bukanlah yang paling fotogenik, tapi yang paling menyentuh hati.”

Dion bangkit dan mengulurkan tangan. “Ayo, matahari sudah benar-benar mengucapkan selamat tinggal. Kita cari makan malam yang otentik. Bukan di restoran fancy, tapi di warung yang menjual cerita.”

Intan menyambut tangan Dion. Mereka berjalan meninggalkan pohon kamboja, meninggalkan jejak kaki di pasir yang sebentar lagi akan dihapus ombak.

“Bagaimana dengan janji kita untuk kembali ke sini lima tahun lagi, setelah kita berdua jadi orang sukses?” tanya Intan, melirik Dion.

Dion tersenyum penuh arti. “Kita sudah sukses, Tan. Sukses menemukan apa yang benar-benar penting. Kita kembali ke sini, tidak harus lima tahun lagi. Tapi pastikan, kita kembali dengan hati yang sama, yang selalu siap berbagi sedikit kedamaian dengan siapapun yang kita temui.” (*)

banner 300x250

Related posts