Barong Palawija: Ungkapan Rasa Syukur atas Anugerah Sang Pencipta

Barong palawija
Barong palawija atau barong sarwa pala yang dibuat dari aneka palawija dan buah-buahan. (Foto: Nusaweek)
banner 468x60

BARONG, sosok mitologis yang berwujud singa (barong ket) yang diyakini menjaga keseimbangan dan melindungi penduduk seperti di Bali, selalu memiliki tempat khusus dalam upacara keagamaan dan adat Bali. Selain barong sakral dan barong untuk seni pertunjukan, di beberapa daerah di Bali ada perwujudan Barong yang unik dan bermakna yang dirangkai dari aneka macam palawija. Nah, barong jenis ini dinamai barong palawija.

Barong Palawija atau barong sarwa pala ini bukan sekadar seni topeng, melainkan sebuah persembahan agung yang berkaitan erat dengan upacara-upacara besar sebagai ungkapan rasa syukur kepada Hyang Widhi, atau Sang Pencipta, atas limpahan hasil bumi. Barong yang satu ini tidak untuk dipentaskan.

Read More

Simbol Kesuburan dan Kelimpahan

Barong yang terbuat dari palawija—seperti jagung, padi, kacang-kacangan, buncis, ditambah umbi-umbian, pisang, dan hasil pertanian lainnya—mewakili rasa syukur kolektif masyarakat atas panen yang melimpah. Setiap biji-bijian dan buah yang membentuk Barong melambangkan berkah yang dianugerahkan. Pembuatan Barong Palawija ini biasanya dilakukan sebelum atau sebagai puncak upacara besar keagamaan.

Sesajen dalam Upacara Agung

Dalam konteks upacara, Barong Palawija berfungsi sebagai sesajen penting. Ia bukan sekadar hiasan, melainkan media ritual sakral yang melambangkan kemakmuran dan berkah. Kehadirannya menegaskan kembali ikatan spiritual antara manusia, alam, dan Tuhan (Sang Pencipta/Hyang Widhi).

Penting untuk ditegaskan: Pemilihan tanaman palawija sebagai bahan baku Barong menegaskan bahwa segala sesuatu yang dinikmati manusia berasal dari tanah dan berkah Sang Pencipta. Dengan mempersembahkannya kembali, masyarakat menunjukkan kerendahan hati dan pengakuan akan kekuatan yang lebih besar. Hal ini merupakan perwujudan filosofi Timur, yang mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan dengan alam (seperti konsep Tri Hita Karana dalam ajaran Bali) sebagai sumber kehidupan.

Tradisi Barong Palawija yang unik ini memberi pelajaran berharga: bahwa perayaan panen harus selalu diiringi dengan rasa syukur yang mendalam dan keinginan untuk berbagi. Ini adalah warisan budaya yang kaya, menyatukan seni rupa, ritual keagamaan, dan kearifan lokal dalam memandang kehidupan dan alam semesta. (*)

banner 300x250

Related posts