Petualangan Sumo Bersama Penyu Kurmae

Penyu hijau
Ilustrasi Sumo bersama kawan-kawan penyunya. (Image: Dibuat dengan AI/Nusaweek)
banner 468x60

SEBUAH desa kecil nan indah bernama Pasir Putih memiliki pantai yang sangat indah. Di sana hiduplah seorang anak laki berambut ikal bernama Sumo. Ia sangat mencintai laut hingga bersahabat dengan keluarga penyu hijau. Setiap sore, ia membersihakan pantai. Kadang juga berlari ke pantai berpasir putih itu, tempat ombak bergulung-gulung seolah memanggil namanya. Namun, akhir-akhir ini, ada yang berbeda. Pantai Pasir Putih, yang dulu selalu bersih seperti lukisan, kini mulai terlihat kotor.

******

Suatu sore, saat Sumo sedang asyik mencari kerang, matanya menangkap sesuatu yang aneh di balik semak pandan. “Aduh, itu apa?” gumamnya. Sumo mendekat perlahan. Ternyata, itu adalah seekor penyu. Penyu itu besar sekali, dengan cangkang berwarna kehijauan yang cantik. Tapi penyu itu tampak tidak berdaya, terjerat dalam tumpukan sampah. Ada kantong plastik, botol bekas, dan jaring ikan yang kusut melilit kakinya.

Hati Sumo terasa perih. Ia segera berjongkok, “Kasihan sekali kamu, penyu,” bisiknya. Dengan hati-hati, Sumo mulai menarik sampah-sampah yang melilit kaki penyu. Ia menarik kantong plastik yang menyangkut di siripnya, lalu melepaskan jaring ikan yang melilit cangkangnya. Beberapa kali penyu itu meringis pelan, seolah berterima kasih. Setelah beberapa menit, penyu itu akhirnya bebas!

“Terima kasih, anak baik,” tiba-tiba penyu itu berbicara. Sumo terkejut. Matanya membulat sempurna. “Kamu bisa bicara?” tanyanya tak percaya.

Penyu hijau itu mengangguk. “Namaku Kurmae. Aku adalah penyu tertua di laut ini. Aku terjebak karena ulah manusia yang membuang sampah sembarangan. Plastik-plastik itu sangat berbahaya bagi kami, makhluk laut.”

Sumo menunduk. Ia merasa bersalah, padahal ia tidak pernah membuang sampah ke laut. “Maafkan kami, Kurmae,” kata Sumo tulus. “Aku janji akan membantumu. Aku akan membersihkan pantai ini!”

Sejak hari itu, Sumo tidak lagi hanya bermain di pantai. Setiap pulang sekolah, ia membawa kantong besar dan mulai memungut sampah. Mulanya, ia melakukannya sendiri. Lalu, teman-temannya yang melihat Sumo bekerja keras mulai penasaran.

“Sedang apa, Sumo?” tanya Made, teman sekelasnya.

“Aku membersihkan pantai. Kasihan penyu-penyu dan ikan-ikan di laut kalau banyak sampah plastik,” jawab Sumo sambil menunjuk ke arah tumpukan sampah yang baru ia kumpulkan.

Made dan teman-teman lain mulai merasa tergerak. Mereka tahu pantai adalah tempat favorit mereka bermain. Jika kotor, mereka juga tidak bisa bersenang-senang. Akhirnya, mereka bergabung dengan Sumo. Setiap sore, sekelompok anak-anak desa Pasir Putih terlihat sibuk memungut sampah di sepanjang pantai.

Ayah dan Ibu Sumo, serta para tetangga, melihat semangat anak-anak itu. Mereka merasa malu. Orang dewasa seharusnya memberi contoh yang baik. Akhirnya, mereka pun ikut serta. Pak Wayan, kepala desa, bahkan membuat peraturan baru: setiap hari Sabtu pagi, seluruh warga wajib kerja bakti membersihkan pantai.

Perlahan tapi pasti, Pantai Pasir Putih kembali bersih. Ombak kembali bergulung-gulung membawa pasir putih yang bersih. Sampah plastik sudah sangat berkurang.

Suatu sore, saat Sumo sedang duduk di tepi pantai yang bersih, Kurmae datang menghampirinya.

“Sumo, kamu dan teman-temanmu telah melakukan hal yang luar biasa,” kata Kurmae.

“Terima kasih telah mencintai alam dan menjaga rumah kami. Sekarang, kami bisa berenang dengan bebas, tidak ada lagi sampah yang menjebak,” tambahnya.

Sumo tersenyum lebar. Hatinya dipenuhi kebahagiaan. Ia tidak hanya mendapatkan teman penyu yang ajaib, tetapi juga melihat desanya kembali indah. Sejak saat itu, anak-anak desa Pasir Putih tahu bahwa menjaga kebersihan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk seluruh makhluk hidup, baik di darat maupun di laut.

Sumo, yang suka menyelam bersama bapaknya, kini diajak bermain bersama Kurmae dan melihat keindahan karang bawah laut. Sumo dan kawan-kawannya berjanji akan selalu menjaga Pantai Pasir Putih agar tetap menjadi surga bagi penyu-penyu hijau dan semua penghuni laut. Mereka belajar bahwa tindakan kecil, jika dilakukan bersama-sama, bisa membawa perubahan besar. (*)

banner 300x250

Related posts