DI PULAU Bali, spiritualitas Hindu bukan sekadar aktivitas yang dilakukan di dalam tempat ibadah, melainkan nafas kehidupan yang mengalir dalam setiap gerak masyarakatnya. Salah satu manifestasi pengabdian yang paling megah dan penuh warna adalah Piodalan atau festival pura (temple festival). Upacara ini merupakan hari peringatan berdirinya sebuah pura, sekaligus momen suci bagi umat Hindu untuk menghaturkan rasa bakti dan syukur kepada manifestasi Tuhan Yang Maha Esa (Hyang Widhi Wasa).
Siklus Waktu: Pawukon dan Sasih
Keunikan festival pura di Bali terletak pada sistem penanggalannya yang kompleks dan sakral. Piodalan dirayakan berdasarkan dua jenis kalender yang berbeda, tergantung pada tradisi pura setempat:
Berdasarkan Pawukon (Siklus 210 Hari): Mayoritas pura di Bali menggunakan kalender Pawukon. Perayaan ini jatuh setiap 210 hari sekali, yang merupakan hasil pertemuan antara siklus Saptawara (minggu), Pancawara (pasaran) dan Wuku. Karena siklusnya lebih pendek dari tahun Masehi, sebuah pura dapat merayakan piodalan dua kali dalam satu tahun kalender Masehi.
Berdasarkan Sasih (siklus 1 tahun): Pura-pura besar atau pura yang memiliki ikatan sejarah kuno sering kali menggunakan kalender Sasih (bulan). Piodalan ini dirayakan setahun sekali, biasanya dipilih bertepatan dengan bulan purnama (Purnama), seperti Purnama Kadasa (Masehi: April) yang dianggap sebagai waktu paling suci dan penuh berkah.
Melasti: Penyucian Menuju Sumber Kehidupan
Sebelum puncak perayaan dimulai, ritual wajib yang dilakukan adalah Melasti. Ini adalah prosesi penyucian diri secara kolektif serta pembersihan alat-alat persembahyangan (Pratima dan Pralingga) yang dianggap sebagai stana atau simbol kehadiran Tuhan.
Umat Hindu akan berjalan dalam iring-iringan panjang menuju sumber air—baik itu laut, danau, maupun sungai—yang dianggap sebagai sumber Tirta Amertha (air kehidupan). Di sana, segala kekotoran spiritual (mala) dilarutkan ke alam, sehingga saat puncak piodalan tiba, seluruh umat dan sarana upacara berada dalam keadaan suci dan murni.
Persembahan yang Estetik dan Bermakna
Saat hari puncak tiba, pemedek (umat) akan menyaksikan pura sudah dihias dengan kain-kain wastra berwarna kuning, putih, hitam dan merah serta ornamen bernuansa religi lainnya. Umat Hindu datang berbondong-bondong membawa persembahan yang disusun dengan sangat rapi dan artistik. Sesajen utama biasanya berupa Gebogan, yaitu susunan buah-buahan, jajan tradisional, dan rangkaian janur yang menjulang tinggi di atas kepala para ibu ataupun di dalam sokasi (sederhana).
Selain buah dan kue, sering kali disertakan pula ayam panggang sebagai bagian dari pelengkap sesajen (opsional), yang melambangkan hasil bumi dan pengorbanan suci. Persembahan ini bukan sekadar simbol materi, melainkan wujud ketulusan hati untuk mengembalikan sebagian rezeki yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.
Semarak Seni: Gamelan, Tari Sakral, dan Kulkul
Suasana di dalam pura selama Piodalan adalah perpaduan antara keheningan doa dan keriuhan seni. Suara Kulkul (kentongan kayu tradisional) akan bertalu-talu sebagai tanda dimulainya tahapan upacara. Alunan musik Gamelan yang dinamis mengiringi setiap langkah prosesi, menciptakan getaran energi yang magis. Begitu pula suara genta dan kidung suci mengiringi jalannya upacara.
Di pelataran pura, secara bergiliran pada sesi lainnya dipentaskan berbagai tarian sakral seperti tari Rejang yang dibawakan oleh anak-anak dan para wanita dengan gemulai sebagai penyambutan bagi para dewa, serta tari Baris yang melambangkan ketangkasan prajurit suci. Tarian ini bukan untuk tontonan semata, melainkan bagian integral dari ritual yang dipersembahkan langsung ke hadapan Tuhan.
Daya tarik wisata
Kunjungan ke pura bagi wisatawan biasanya diatur oleh panitia atau pecalang dengan sudah menyiapkan kain dan selendang dan hanya boleh mencapai area tertentu. Piodalan merupakan salah satu magnet budaya yang menawarkan pengalaman sensorik tak terlupakan bagi wisatawan. Ketika ritual berlangsung dentuman suara kentungan dan merdunya kidung suci langsung menyelimuti atmosfer dengan kedamaian.
Mata akan dimanjakan oleh kemegahan penjor yang menjulang, serta tedung dan umbul-umbul aneka warna yang menari ditiup angin. Pesona visual mencapai puncaknya saat penari Rejang Dewa dan Pendet muncul dengan kostum putih kuning yang elegan, bergerak anggun mengikuti ritme gamelan yang dinamis.
Perpaduan tradisi dan estetika religi ini menciptakan harmoni yang magis, menjadikan piodalan sebuah jendela autentik untuk menyelami kekayaan jiwa Pulau Dewata.
Kesimpulan: Menjaga Keseimbangan Semesta
Festival pura atau piodalan bukan hanya tentang kemeriahan visual, melainkan sebuah upaya untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana). Melalui melasti, persembahyangan bersama, dan pementasan seni, umat Hindu diingatkan kembali akan asal-usul mereka dan kewajiban untuk menjaga harmoni di dunia. (*)








