BREM, minuman tradisional khas Bali, telah lama dikenal sebagai bagian integral dari upacara adat dan budaya masyarakat Hindu Pulau Dewata. Namun, seiring perkembangan zaman, minuman fermentasi ini menemukan cara baru untuk memikat lidah wisatawan dan kaum muda: disajikan dingin dengan es kristal, dan perasan jeruk lemon, mengubahnya menjadi minuman penyegar yang sempurna di tengah cuaca tropis Bali.
Dari Apa Brem Dibuat?
Brem cair (berbeda dengan brem padat dari Jawa) adalah minuman beralkohol yang dibuat melalui proses fermentasi yang cermat. Bahan dasarnya adalah beras ketan, baik ketan putih maupun ketan hitam, yang dicampur dengan ragi tape.
Prosesnya dimulai dengan mengukus beras ketan, lalu didinginkan dan dicampur dengan ragi. Campuran ini kemudian difermentasi selama beberapa hari hingga menghasilkan tape ketan. Cairan yang dihasilkan dari proses fermentasi dan pengepresan tape inilah yang dikenal sebagai brem. Brem memiliki rasa unik, perpaduan antara manis, sedikit asam, dengan jejak rasa alkohol yang khas (biasanya berkisar antara 5% hingga 14%).
Khasiat Minuman Tradisional
Meskipun dikenal sebagai minuman beralkohol, brem secara tradisional dipercaya memiliki khasiat tertentu jika dikonsumsi dalam jumlah wajar. Sebagai produk fermentasi, ia mengandung bakteri baik yang dapat mendukung sistem pencernaan dan berfungsi sebagai sumber probiotik alami.
Selain itu, secara turun-temurun, brem sering dijadikan penghangat badan, terutama bagi masyarakat agraris di daerah pegunungan Bali. Kandungan alkoholnya dipercaya dapat membantu melancarkan peredaran darah dan memberikan rasa kebugaran, menjadikannya bagian dari warisan pengobatan tradisional lokal.
Daya Tarik Wisata yang Menyegarkan
Kombinasi antara Brem Bali dengan es kristal adalah perpaduan sempurna antara warisan budaya dan kebutuhan wisatawan modern. Dengan es kristal yang jernih dan dingin, rasa brem yang manis-asam menjadi lebih ringan dan menyegarkan, sangat cocok untuk dinikmati sambil bersantai di pantai atau kafe.
Inovasi penyajian ini meningkatkan daya tarik brem di mata wisatawan, mengubahnya dari sekadar minuman upacara menjadi citarasa autentik Bali yang harus dicoba. Restoran dan bar di Bali kini sering menyajikan brem sebagai koktail khas lokal, atau sebagai minuman pembuka yang otentik.
Hal ini memperkaya pengalaman pariwisata gastronomi, di mana wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga mencicipi kekayaan rasa budaya Bali yang disajikan dengan sentuhan yang modern dan menyegarkan. Brem, dalam balutan es kristal, menjadi oleh-oleh rasa yang membangkitkan kenangan tentang liburan tropis di Pulau Dewata. (*)







