- BERAGAM produk unik atau khas Bali bertebaran di media promosi pariwisata Bali baik di online maupun cetak
- Begitu melihat benda-benda ikonik Bali tersebut, pembaca yang melihatnya akan dengan mudah mengasosiasikan dengan destinasi Bali
Sebagai destinasi wisata, Bali memiliki sejumlah produk budaya unik, baik berupa hasil seni patung, seni tari, seni arsitektur bangunan suci maupun aktivitas ritual. Dengan kata lain, begitu melihat benda atau entitas tersebut, orang akan langsung dapat merujuk atau mengasosiasikan dengan Pulau Bali.
Nah, unsur-unsur seperti disebutkan di atas ini sering diistilahkan dengan produk tengara ikonik (iconic landmark). Ikon sendiri berarti ‘tanda’ atau ‘gambar yang menyerupai obyek yang diwakilinya,’ dan ikon itu sendiri memiliki ciri-ciri yang sama dengan objeknya.
Menurut kamus Meriam-Webster: ikonik berarti (a) diakui secara luas dan mapan (2) dikenal luas dan diakui terutama karena keunggulannya yang khas.
Mulanya, makna dari kata ‘ikon’ kerap menggambarkan apa yang begitu dikagumi sehingga bisa menjadi subjek ikon. Dengan penggunaan tersebut, ikon kemudian menjadi bagian dari bahasa periklanan dan publisitas perusahaan, majalah, dan media massa lainnya.
Berikut ini adalah beberapa produk tengara ikonik dari budaya Bali yang sering digunakan sebagai gambar atau ilustrasi dalam promosi pariwisata Bali. Bahkan juga digunakan sebagai sumber inspirasi membuat logo perusahaan, lembaga atau kampanye promosi. Dengan kata lain, dengan mengambil salah satu ikon tersebut ia sudah memiliki asosiasi yang kuat tentang Bali.
- Meru—pelinggih bertumpang
Meru adalah salah satu jenis tempat pemujaan umat Hindu untuk Istadewata atau bhatara-bhatari yang melambangkan Gunung Mahameru. Secara filosofis, meru melambangkan gunung suci sebagai stana (tempat tinggal) para dewata dan roh suci leluhur.
Untuk kepentingan tempat pemujaan, kemudian gunung suci tersebut dibuatkan tiruan berbentuk bangunan berupa candi, prasada atau meru. Untuk meru, dibuatlah bertumpang yang jumlahnya bervariasi mulai dari 2 hingga 11 bergantung pada fungsinya. Pembangunan meru ini mengikuti standar arsitektur tradisional untuk bangunan suci sesuai dengan naskah Lontar Kosala-Kosali.
Candi bentar adalah bangunan pintu gerbang berupa candi yang terbelah secara sempurna tanpa penghubung pada bagian atasnya. Melihat dari jejak sejarahnya, gerbang ini sudah ada pada masa kerajaan Hindu-Budha atau Majapahit. Dalam perkembangan selanjutnya, ia mengalami perubahan dari segi desain dan ornamen.
Di Bali, candi bentar umum digunakan sebagai pintu gerbang masuk ke area rumah, kawasan perumahan, kawasan objek wisata serta kompleks bangunan suci.
Patung garuda atau patung Dewa Wisnu menaiki garuda sangat mudah ditemukan di ruangan kantor depan hotel hingga kantor pemerintahan di Bali. Salah seorang maestro pematung garuda yang sudah berkarya puluhan tahun adalah I Made Ada dari Pakudui, Tegallalang, Gianyar.
Jenis patung ini sudah terkenal sejak lama dan mudah ditemukan di toko-toko seni yang menjual hasil karya patung khas Bali. Karya patung Garuda Wisnu yang terbesar bernama GWK karya Nyoman Nuarta dan kini dipajang di Taman Budaya GWK, Bukit Ungasan, Jimbaran, Badung.
Tari Barong adalah salah satu seni tari Bali yang bersifat sakral dan profan. Yang sakral hanya dipentaskan untuk acara yang terkait dengan upacara keagamaan. Sedangkan yang bersifat profan, semata-mata dipentaskan untuk hiburan atau suguhan kepada wisatawan. Untuk yang bersifat hiburan, pentas diadakan setiap hari dan berlangsung di beberapa stage atau panggung yang tersebar di Denpasar dan Gianyar. Menonton tarian barong ini seperti sudah menjadi ‘menu wajib’ harian sebelum melakukan kunjungan ke objek wisata di Karangasem, Kintamani atau Ubud.
Bila pementasan tersebut dianalogikan dengan ‘halaman website,’ dengan banyaknya pengunjung setiap hari, dalam sebulan ia akan mendapatkan banyak ‘page view’ atau penayangan. Oleh karena itu, image barong itu menjadi ‘melekat’ di benak banyak wisatawan.
- Tari Baris
Tari Baris adalah salah seni tari tradisional Bali yang menggambarkan ketangguhan prajurit. Kira-kira ada 40 macam tari baris. Tergantung jenisnya, ada yang membawa senjata berupa tombak, perisai dan ada juga yang tidak membawa senjata. Pementasannya selalu diiringi musik gamelan.
Logo Denpasar Festival, misalnya, mengambil inspirasi tari baris, sebagai tari maskot Kota Denpasar yang melambangkan kedinamisan.
- Tari Kecak
Tari Kecak yang legendaris ini bercerita mengenai Penculikan Shita oleh Rahwana. Sepertinya pentas ini juga sudah menjadi ‘menu wajib’ dalam paket wisata yang ditawarkan di Bali.
Terinsipirasi oleh Tari Sanghyang, sebuah tarian sakral, I Wayan Limbak dan koleganya Walter Spies berkolaborasi menciptakan kreasi seni ini dengan melibatkan banyak penari yang melantunkan musik akapela atau vokal.
- Prosesi Melasti
Melasti adalah prosesi ritual sebagai pembersihan alat-alat upacara beserta benda-benda sakral sebagai perlambang para dewata menuju sumber-sumber air sebelum mengadakan upacara. Di samping itu, umat juga turut menyucikan diri mereka secara sekala dan niskala.
Ketika prosesi berlangsung, wisatawan dapat menyaksikan serombongan umat Hindu yang berpakaian sembahyang dengan warna dominan putih dan kuning. Kaum perempuan membawa sesajen, sementara kaum lelakinya menabuh gamelan, serta membawa tedung (payung), lelontek (umbul-umbul), senjata dewata nawa sanga (senjata dewata dari 9 penjuru angin) dan perlengkapan lainnya.
Dari samping, pemandangan ini amat indah berkat kehadiran barisan umat dengan balutan pakaian putih dan kuning, tedung dan lelontek putih-kuning yang berkibar dihembus angin. Dalam warna monokromatis, bentuk siluet dari iring-iringan umat ini juga kelihatan indah dan dinamis.