Penjual Itik Dikerjai Pesaing Secara Licik

  • Whatsapp
Ilustrasi Si Penjual itik dikerjai pesaing
Ilustrasi Si Penjual itik dikerjai pesaing
banner 468x60

MALAM sudah semakin larut, waktu hampir tengah malam. Pan Pandan tidak bisa tidur dan kelihatannya gelisah sekali. Ada yang mengganjal di dalam pikirannya. Hampir setiap hari, banyak itiknya yang tak laku dijual.

“Benar, aku ingin memberi pelajaran kepada Pan Kelor. Dia selalu laris jualannya. Pelanggannya banyak. Setiap hari upacara dan langganan rumah makan membuat itiknya tidak pernah tersisa.”

Read More

banner 300250

Demikianlah pikiran yang menghantuinya. Dia memutuskan tidak jualan keesokan harinya. Dengan ilmu hitamnya, ia ingin ‘mengerjai’ Pan Kelor. Diputuskan, ia akan mengubah dirinya menjadi bemo roda tiga. Mengapa? Karena setiap pagi (dini hari) Pan Kelor selalu ke pasar naik bemo.

Sekitar pukul 4 pagi, Pan Kelor sudah siap di depan rumah dengan dua keranjang itiknya. Seperti biasa ia menunggu bemo untuk mengantar ke pasar. Hari itu ia membawakan pesanan itik dari para pelanggannya.

“Pak saya ikut,” kata Pan Kelor menghentikan bemo yang melintas. Tanpa rasa curiga sedikitpun dia naik bemo. Pikirannya sudah membayangkan ia sudah di pasar dan melayani pelanggan.

“Mari pak, silakan naik. Hati-hati ya Pak,” kata pak sopir, Pan Pandan.

“Baik, tunggu pak. Saya mau menaikkan keranjang-keranjang saya ini dulu.”

Biasanya, Pan Kelor pasti dibantu menaikkan keranjang itiknya. Tapi kali ini tidak. Namun tidak apa-apalah. Yang penting ia bisa tiba di pasar pagi-pagi buta. Pelanggan pasti sudah mengunggu.

Sambil memanfaatkan waktu perjalanan dan kebetulan belum ada penumpang lain, ia memejamkan mata sejenak. Kalau sudah sampai di pasar, pasti ia akan dibangunkan.

“Wah dia tertidur rupanya. Sekarang akan kuhajar dia biar tidak bisa jualan ke pasar. Biar aku tidak dapat narik hari ini, gak apa-apa. ‘Wisata’ gratis ini akan menghantarmu ke pasar ‘antah berantah,’” demikian senangnya Pan Pandan yang menyamar menjadi sopir bemo.

Dengan kencangnya, ia menggeber bemonya ke arah persawahan. Sementara, di ufuk timur sudah mulai agak terang pertanda pagi segera menjelang.

“Sudah sampai di mana aku ini,” katanya dalam hati sambil membuka mata dan menoleh ke kiri dan kanan.

“Waduuh… kayaknya pak sopir tersesat ini. Pak..pak arah kemana ini?” Bemonya melaju di lembah persawahan yang banyak ditumbuhi pandan berduri.

Betapa kagetnya Pan Kelor karena ia tidak melihat sopir bemo ada di belakan stir. Pikirannya semakin kacau. Dia baru menyadari jika sedari tadi mungkin bemo yang ditumpanginya terbang di lembah persawahan.

“Byyurr,” ia pun memutuskan melompat ke areal persawahan yang sudah siap ditanami padi. Ia tidak peduli akan itik-itiknya entah di mana. Yang penting bisa menyelamatkan diri. Untunglah jalur bemo ‘malam’ itu melewati persawahan. Bayangkan, kalau lewat tebing atau sungai berbatu, pasti lebih berbahaya lagi.

Pan Kelor menyadari bahwa sekali pun ia berlaku jujur dalam berjualan, pasti ada juga rintangan atau cobaannya. Mereka yang tidak seberuntung dirinya pasti akan merasa iri. Nah, di sinilah pintu masuknya malapetaka itu bagi dirinya.

Dari kabar yang beredar, pedagang yang suka iri di pasar, jatuh sakit dan tubuhnya babak belur. Pan Kelor tidak mencurigainya sebagai dalang di balik musibah ‘bemo malam’ itu.

Sebagaimana halnya seleksi alam, karena kejadian tersebut pesaingnya akhirnya berkurang satu. Tanpa harus melakukan perlawanan, malahan si pelaku sendiri menjadi korban.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60