Perempuan Misterius di Teras Belakang Hotel

  • Whatsapp
Ilustrasi perempuan di beranda.
Ilustrasi perempuan di beranda (Image: Siyuan on Unsplash).
banner 468x60

BULAN purnama bersinar terang di sela-sela bintang gemintang yang tiada hentinya berkedip seolah memberi isyarat jika malam itu sangat indah dan romantis. Lagi pula wajah langit kelihatan amat cerah dan bersih walau malam baru saja merayap.

Sebuah hotel beberapa lantaa dengan teras menghadap tepian sungai yang tenang sedang menghelat acara makan malam yang disertai pentas budaya yang memikat dan luar biasa di restoran dekat lobi. Menurut bagian penjualan, itulah paket acara yang paling sukses karena bertepatan dengan liburan panjang wisatawan asing.

Read More

banner 300250

Seorang tamu domestik, sebut saja namanya Iwan, amat senang dan puas dengan paket makan malam yang ia beli. Ada masakan Bali dengan bumbu rempah yang pas seperti betutu ayam, sambal matah, kacang tanah goreng, plecing kangkung, satel lilit, ayam suwir sambal kecicang (kecombrang) dan lain-lain.

Setelah acara makan malam di restoran tersebut, pemuda lajang ini terlibat obrolan mengasyikkan di beranda belakang yang menghadap ke jurang dengan seorang perempuan cantik.

Tanpa perkenalan ‘normatif,’ percakapan mereka mengalir begitu saja, benar-benar menyenangkan. Waktu tidak terasa berlalu. Kamarnya berada di sebelah kamar Iwan sama-sama di lantai dua. Sesekali juga diselingi tawa kecil.

“Bagaimana kesan Mbak tentang hotel ini?” tanya Iwan.

“Bagiku, ini adalah hotel terindah Mas. Sepertinya sudah menjadi rumahku juga. Aku sangat senang datang ke sini, suasananya adem. Apalagi gemericik air di bawah sana menambah romantisnya suasana,” sahutnya.

Mendengar perkataan itu, Iwan merasa antara merinding dan hatinya melambung. Ditatapnya terus perempuan itu sambil mengobrol.

“Wah, aku juga demikian Mbak. Setiap liburan, aku pasti menyempatkan diri menginap di sini. Sisanya kuhabiskan di hotel tepi pantai. Lingkungan di sini amat menyenangkan dan menyegarkan. Jauh dari keramaian namun dekat dengan aneka pusat atraksi menarik.”

“Maaf, Mas ke sini berlibur bersama keluarga ya?”

“Ooh… ndak Mbak. Saya masih single,” kata Iwan sambil malu-malu.

“Mmm. Kalo Mbak?”

“Aku juga sendirian. Aku meninggalkan keluargaku tiga tahun lalu.”

“Maaf… tidak sengaja membuat Mbak jadi sedih. Saya turut prihatin.”

“Gak apa-apa kok Mas. Gimana acara makan malamnya tadi. Asyik kan?” kata perempuan itu mengalihkan pembicaraan.

“Waahh… menyenangkan sekali. Aku suka sekali makanan lokal. Tapi setelah menonton satu pertunjukan seni, aku kembali ke kamar. Dalam kesunyian aku menemukan kedamaian. Aku salut sama Mbak bisa tegar begini. Tidak banyak perempuan bisa menjalani kesulitan seperti ini.”

“O ya Mas, kini sudah larut malam kita sudahi ngobrolnya dulu ya. Sampai besok ya!”

“Sampai ketemu Mbak. Selamat beristirahat.”

Iyesss…Iwan sangat senang bisa mengobrol dengan perempuan cantik itu. Walau malam itu sinar rembulan tidak begitu terang atau seterang lampu di lobi, ia dapat melihat kecantikannya. Hatinya berbunga-bunga. Sepertinya ada peluang untuk mendekati perempuan itu.

Ia berharap bisa bermimpi indah malam itu. Apalagi bisa bersama perempuan yang baru diajaknya ngobrol barusan. Perlahan-lahan malam merayap kian jauh dan larut. Iwan merebahkan badan di tempat tidur setelah menutup korden begitu menutup pintu dan meninggalkan beranda di belakang kamarnya.

Keesokan paginya ia bangun jam tujuh ketika burung-burung sudah berkicau di luar kamar sana. Mukanya tampak berseri-seri. Tadi malamnya ia tidak bermimpi. Ia tidak ingin hal itu terjadi, namun ingin mewujudkannya menjadi kenyataan. Setelah cuci muka dan gosok gigi, ia bergegas ke kantor depan mencari informasi tentang perempuan tadi malam.

“Selamat pagi Mbak.”

“Selamat pagi Mas. Ada yang bisa kami bantu,” kata resepsionis yang bernama Ayu.

“Begini Mbak. Saya mau minta informasi tentang tamu yang tinggal di sebelah kamar saya itu lho Mbak.”

“Berapa nomor kamar Mas?”

“Nomor 206.”

“Ooh itu berarti yang nomor 208. Itu kosong Mas.”

“Nggak Mbak. Yang benar aja. Kemarin saya dapat ngobrol seusai makan malam Mbak. Sumpah … dia berdiri di beranda belakang!”

“Begini Mas…”

“Maksudnya gimana to Mbak. Tolong ceritakan.”

“Kamar itu memang benar-benar kosong. Kalau Mas lihat ada perempuan di situ. Itu bukan manusia Mas.”

“Lho Mbak ini ada-ada saja. Masak itu bukan manusia, lalu apa?”

“Dengarkan saya dulu Mas. Ia pakai gaun putih panjang nggak?”

“Ya betul. Mbak.”

“Berambut panjang kan?”

“Betul…lalu…. Kok Mbak tahu semuanya?”

“Maaf ya Mas… itu roh yang memang selalu datang ke sini setiap bulan purnama. Dia sama sekali tidak mengganggu. Kalau diajak ngobrol pasti menyenangkan seperti manusia biasa. Ia meninggal tiga tahun lalu saat liburan bersama keluarganya di daerah ini.”

“Waduuh… ini berarti pupus sudah harapanku mendekatinya,” ungkap Iwan dalam hati sambil memperlihatkan wajah cemberut.

Karena kenyataannya memang seperti itu, ia pun berupaya mendamaikan perasaannya dengan melupakan kisah yang baru saja terjadi dan membuka hatinya. Iwan pun balik ke kamar untuk mandi guna melanjutkan acara karena ada janji jam 9 untuk menonton pertunjukkan seni dengan kendaraan sewa langganannya setiap kali berwisata ke Pulau Dewata.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60