‘Perang Malam’ Nan Mencekam di Pohon Gebang

  • Whatsapp
Ilustrasi perang mistis
Ilustrasi perang mistis.
banner 468x60
  • TIDAK hanya di dunia nyata, ternyata ada juga perang malam atau perang mistis. Seperti namanya, perang di dunia malam itu dilakukan pada malam hari
  • Konon, dalam banyak kasus, mereka yang ditunjuk ‘penguasa malam’ adalah orang-orang pilihan

Langit kelihatan mulai gelap-gulita, petir pun menyambar dan menggelegar. Namun tidak turun hujan. Ketut Doe, seorang bapak berusia 70 tahun, berpesan kepada anaknya agar tak mengganggu atau membangunkan dirinya karena ia ingin tidur lebih awal sore itu. Ini adalah hal lazim yang dilakukan oleh Ketut Doe bila ia akan ikut berperang malam.

“Made, Bapak akan berangkat (berperang), mohon ya jangan bangunkan Bapak nanti,” pintanya kepada anaknya, Made Brata.

“Baik, Pak,” sahut Made karena sudah mengerti apa kebiasaan ayahnya.

Sekitar pukul 11 malam pucuk pohon gebang atau Corypha utan yang sudah uzur (berbuah pada akhir hidupnya) berlokasi di pinggir pantai, tidak jauh dari rumahnya, sudah bertaburan api. It menandakan jika perang malam sudah mulai. Api itu beterbangan di udara tak ubahnya seperti pesawat terbang dalam film kartun masa kini. Namun, tak satupun dari api-api itu menerangi tempat di sekitarnya.

****

Anehnya lagi, api-api itu kelihatan nyata sekali oleh mata biasa. Banyak orang yang sedang memancing, termasuk beberapa wisatawan yang menginap di dekat tempat itu, pernah turut menyaksikan peristiwa langka itu. Mereka merasa takut, jangan-jangan nanti mereka juga dilibatkan. Atau paling tidak, mereka kena imbas dari peperangan itu. Pada zaman itu, jumlah penginapan di kawasan wisata pantai itu bisa dihitung dengan jari.

Tidak ada suara terdengar dalam peperangan itu. Seperti perang bisu. Entah mereka menggunakan peredam atau apa karena mungkin merasa khawatir mengganggu kehidupan manusia di sekitarnya.

Made Brata hanya bisa mendoakan bapaknya agar bisa selamat keluar dari peperangan malam tersebut.

****

Keesokan harinya, Ketut Doe bangun pagi-pagi seperti biasanya. Akan tetapi, sekujurnya tubuhnya terasa sakit.

“De, tolong ambilkan Bapak satu sendok makan kopi dan sedikit merica bubuk,” pinta ayahnya kepada anaknya yang sedang melepaskan ayam-ayam dari kandangnya di belakang rumah.

“Baik Pak. Memangnya apa yang terjadi semalam?”

“Ini, Bapak ada sedikit luka dalam. Menurut petunjuk palang merah di sana, Bapak dianjurkan menggunakan ramuan tersebut.”

Made Berata segera pergi ke dapur setelah melepas semua ayamnya. Lalu membawakan ramuan permintaan Bapaknya ke halaman.

“Pak, ini ramuannya. Lalu diapakan ini Pak?”

“Cukup diaduk merata di piring ini lalu dimakan. Tidak usah pakai air. Petunjuknya memang demikian.”

“O ya Pak, kalau boleh tahu, gimana situasi perang malam di sana?”

“Tidak ubahnya seperti perang biasa, De. Tapi kita saling tidak mengenal satu sama lain. Entah dari mana mereka berasal. Semua seperti mengeluarkan kesaktian dan bisa terbang dengan gesit dan lincah.”

“Teruss….??”

“Ya mungkin bisa kita ketahui profesi mereka dari pakaian yang mereka kenakan. Di sana juga ada seorang pendeta atau orang suci.”

“Lho kok ada orang suci segala Pak?”

“Ya ada, sama seperti Bapak. Beliau juga dipilih sebagai prajurit. Katanya sih berdasarkan kelahiran gitu. Atau sudah ditunjuk dari sononya.”

“Kalau boleh tahu, siapa lawan tanding Bapak dalam perang itu?”

“Ya beliau, si orang suci itu.”

“Terus beliaunya gimana Pak, tewas ya?”

“Tidak. Beliau luka parah. Sudah dianjurkan berobat ke palang merahnya yang berada dua desa dari sini.”

“Bagaimana keadaan di lokasi, apakah ada ceceran darah juga seperti perang biasa Pak?”

“Tentu saja ada De. Untuk perang semalam Bapak tidak tahu. Tapi untuk peperangan beberapa waktu lalu, di sana konon ada gumpalan-gumpalan darah ditemukan di halaman rumah warga sekitar pohon gebang itu.”

“Lalu, diapakan itu Pak? Kan tidak baik bagi si pemilik rumah?”

“Kalau untuk peristiwa yang dulu, si pemilik rumah terpaksa harus mecaru (upacara pembersihan) katanya karena ada ceceran darah manusia.”

“Apa ada ‘prajurit’ yang sampai tewas dalam peperangan seperti itu Pak?”

“Tentu ada. Namanya juga peperangan.”

“Bagaimana kita bisa mengetahuinya ciri-cirinya?”

“Katanya sih, ketika memandikan, jenazah si korban bisa disiram dengan air kelapa muda. Nah, kalau ada memar atau luka akibat perang mistis itu akan kelihatan berwarna hitam.”

Ketut Doe kemudian mengakhiri ceritanya sampai di situ karena ia ingin tidur untuk memulihkan tenaga sehabis perang malan tersebut.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60