Seekor Kucing Bernama Si Manis

  • Whatsapp
Seekor kucing bernama si manis
Ilustrasi seekor kucing yang manis. (Foto: Hao Shaw/Unsplash)
banner 468x60

SEORANG sopir ekspatriat, sebutlah namanya Made, sudah bekerja bersama seorang staf Jepang Takashi yang bekerja di sebuah biro perjalanan selama kurang lebih lima tahun. Ia sangat suka memelihara kucing dan anjing.

Karena Made seorang yang jujur, setia dan disiplin membuatnya tetap dipertahankan untuk mengantarkannya ke mana pun urusannya selama jam kantor. Kadang juga diminta bantuannya di luar jam kantor untuk urusan tertentu. Sebaliknya, sang ekspatriat juga sangat baik kepadanya.

Pada suatu sore setelah pulang kantor, ia diminta untuk membeli obat ke apotik. Selembar resep diserahkan oleh sang ekspatriat kepadanya. Made dengan senang hati membantunya. Paling tidak ia akan diberikan uang rokok atau tips karena jasa tambahan itu. Ketika tiba di apotek, resep itu pun diserahkan kepada petugas penerimaan.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan kira-kira sudah tiga jam lamanya menunggu, ia belum juga mendapat panggilan. Sambil mencolek-colek telepon genggamnya, ia melanjutkan membaca berita dan sesekali membuka akun media sosial miliknya.

Beberapa kali ia menoleh ke sekitarnya, pengunjung apotek sudah semakin sedikit namun ia belum mendengar ada panggilan atas nama bosnya. Kendati demikian, ia tetap bersabar dan melanjutkan bermain dengan telepon pintarnya.

Begitu menoleh kiri dan kanan sekitar pukul sepuluh malam, pengunjung lainnya tinggal satu. Ia pun memutuskan menghampiri pegawai apotek yang bertugas memanggil pemesan obat. Kepada petugas ia menanyakan apakah nama bosnya sudah ada di panggil sedari tadi.

“Maaf Pak, tidak ada atas nama Takashi,” kata pegutas apotek.

“Coba dilihat sekali lagi Mbak, siapa tahu ada yang terselip. Atau gimana gitu,” pinta Made.

“Hmm, o ya, tadi saya ada panggil-panggil atas nama Si Manis beberapa kali, tapi tidak ada yang menyahut.”

“Mana obatnya Mbak.”

“Ini Pak.”

“Ini obat apa ya Mbak, kalau boleh tahu?”

“Ini obat kucing Pak.”

“Kalo boleh, saya ingin lihat resepnya ya Mbak.”

“Sebentar Pak.”

Beberapa menit kemudian, pegawai apotek memperlihatkan resep yang dibawa oleh Made. Ia ingin mencocokkan apakah memang itu yang dimaksud.

“Ini Pak resepnya.”

“Wah ini punya bos saya Mbak. Berarti Si Manis tadi itu kucing kepunyaan bos saya Mbak.”

Petugas apotek cuma bisa tersenyum mendengar pengakuan Pak Made. Kasihan juga dia menunggu demikian lama. Dia mengira resep itu atas nama bosnya, tapi malahan atas nama kucingnya, Si Manis. Pantesan dia diam saja dan asyik dengan telepon pintarnya.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60