JACK, seorang backpacker asal Australia, punya satu misi besar selama liburannya di Bali: merasakan trekking melintasi persawahan hijau yang indah, seperti yang sering ia lihat di Instagram. Setelah mencari-cari informasi, ia menemukan satu jalur trekking di desa terpencil yang katanya belum banyak dikunjungi turis.
“Ini pasti pengalaman autentik!” pikirnya.
Berbekal peta digital dan semangat tinggi, Jack tiba di desa tersebut pagi-pagi sekali. Ia melihat sekelompok orang dengan topi caping dan celana menggantung berjalan bersama-sama.
“Pasti ini rombongan trekking!” katanya dalam hati. Tanpa ragu, ia langsung bergabung dengan mereka.
Tidak ada satu pun dari kelompok itu yang berbicara bahasa Inggris dengan lancar, tetapi mereka menyambut Jack dengan senyuman.
“Mungkin mereka memang bukan pemandu profesional, tapi ini pasti bagian dari pengalaman lokal!” pikir Jack senang.
Perjalanan dimulai, dan Jack menikmati pemandangan sawah hijau, burung-burung yang terbang rendah, serta angin sepoi-sepoi. Namun, setelah sekitar satu jam berjalan, sesuatu mulai terasa aneh. Alih-alih berhenti di titik pemandangan indah seperti dalam brosur wisata, mereka malah turun ke sawah dan mulai bekerja.
Jack berdiri terpaku. Salah satu bapak-bapak desa menepuk pundaknya dan menyerahkan cangkul. Jack tersenyum kaku.
“Oh, mungkin ini bagian dari atraksi!” pikirnya.
Dengan percaya diri, ia mencangkul… hanya untuk merasakan lumpur menyedot kakinya hingga hampir jatuh. Warga desa tertawa melihatnya, tetapi mereka tetap sabar mengajarinya bagaimana cara mencangkul dengan benar. Jack, yang masih berpikir bahwa ini bagian dari ‘wisata edukasi’, berusaha sebisa mungkin mengikuti gerakan mereka.
Lima belas menit berlalu. Keringat mulai mengucur, punggungnya pegal, dan tangannya mulai lecet.
“Gila, kenapa tidak ada sesi istirahat dengan kelapa muda atau yoga sawah seperti di Instagram?” batinnya.
Saat istirahat, Jack mengambil ponselnya dan selfie dengan wajah penuh lumpur. Ia mengunggahnya di Instagram dengan caption: “Authentic Rice Farming Trekking Experience in Bali! Must Try! #RealBali #LocalExperience”.
Tak disangka, unggahannya langsung viral. Dalam hitungan jam, banyak turis lain yang penasaran dan mulai berdatangan ke desa itu, ingin mencoba “wisata pertanian” seperti Jack.
Warga desa awalnya bingung. Sehari sebelumnya, mereka hanya punya satu buruh dadakan dari Australia, tapi keesokan harinya, ada lima turis dari berbagai negara yang ikut mencangkul di sawah.
Beberapa bahkan bertanya, “Di mana tempat daftar paket wisatanya?”
Pak Wayan, salah satu petani senior, hanya bisa mengangguk-angguk heran. “Orang bule memang aneh. Sudah jauh-jauh liburan, malah mau kerja di sawah…”
Tapi mereka tetap membiarkan para turis ikut serta, bahkan mulai memberikan upah berupa air kelapa segar dan pisang goreng.
Jack, yang tadinya hanya ingin trekking, kini dikenal sebagai Duta Besar Buruh Sawah Bali. Para turis mengikuti jejaknya, berpikir bahwa menjadi petani sehari adalah bagian dari pengalaman wisata yang ‘Instagramable’.
Kini, setiap pagi, warga desa menyambut turis-turis dengan cangkul di tangan dan senyum lebar. Mereka tidak lagi khawatir kekurangan tenaga kerja. Dan Jack? Dia akhirnya sadar bahwa dia bukan sedang trekking, tapi bekerja. Tapi karena videonya sudah telanjur viral, ia hanya bisa pasrah dan ikut mempromosikan “Authentic Rice Farming Trek” sebagai tren wisata baru. (*)