RIZAL, sang pelayan restoran, berdiri dengan punggung basah keringat. Di depannya duduk Nyonya Kirana, seorang influencer dengan kacamata berbingkai besar dan ekspresi keagungan yang permanen.
“Jadi, Pasta Aglio Olio, Nyonya,” ulang Rizal, tangannya gemetar memegang notes.
“Tanpa cabai, tentu saja. Tapi…” ia ragu, melihat catatan di tangannya. “Minyak zaitun-nya harus extra virgin, dari kebun yang baru dipanen saat bulan purnama, dan didengar… musik klasik?”
Nyonya Kirana mengangguk pelan, seolah Rizal baru saja menanyakan hal yang sangat mendasar. “Mozart, untuk lebih spesifik. Biar molekulnya tenang. Dan, Rizal—pastikan hanya satu helai daun kemangi. Tidak boleh lebih. Potongannya harus diagonal, 45 derajat. Kalau Koki Anda tidak bisa melakukan itu, beri tahu dia saya akan menandai restoran ini di ulasan saya.”
Rizal menelan ludah. “Baik, Nyonya. Saya akan konsultasikan ke Dapur.”
Di dapur, kekacauan sudah mencapai tingkat orkestra. Asap mengepul, wajan berdentang, dan di tengahnya, Pak Galaksi, sang head chef legendaris yang tidak pernah tersenyum, berteriak pada asistennya.
Rizal menyelinap ke sudut. “Pak Galaksi, pesanan meja tujuh.”
“Cepat! Saya sedang menyeimbangkan pH pada vinaigrette ini!” seru Pak Galaksi, tanpa menoleh.
Rizal berbisik, takut didengar. “Aglio Olio. Satu helai daun kemangi, potongan 45 derajat. Dan… minyak zaitunnya harus dari pohon yang mendengarkan Mozart.”
Pak Galaksi berhenti. Perlahan, ia berbalik. Ia meletakkan sendok ladle dengan suara thunk yang tegas. Matanya yang biasanya hanya menunjukkan kelelahan, kini memancarkan api kemarahan yang dingin.
“Mozart?” tanyanya pelan.
“Iya, Pak. Kata Nyonya Kirana, biar molekulnya tenang.”
“Molekul,” ulang Pak Galaksi. Ia berjalan ke kulkas, mengambil selembar kertas memo, dan meraih pulpen. Ia menulis sesuatu dengan tekanan kuat.
“Ambil ini,” katanya, menyerahkan kertas itu pada Rizal. “Dan piring ini.”
Rizal melihat piring keramik putih bersih yang kosong. Di atasnya, hanya ada kertas memo. Ia membaca tulisan Pak Galaksi: “RESEP PASTA YANG HANYA ADA DI IMAJINASI ANDA.”
“Bapak… serius?”
“Serius. Sampaikan salam saya, dan katakan padanya, menu kami adalah sajian kuliner, bukan terapi musik pohon.”
Rizal kembali ke meja Nyonya Kirana dengan jantung berdebar kencang. Ia meletakkan piring kosong di depannya.
“Pesanan Anda, Nyonya.”
Nyonya Kirana menatap piring kosong itu, lalu ke kertas memo. Ia membacanya, dan wajahnya berubah warna, dari anggun menjadi ungu.
“Apa-apaan ini, Rizal?! Di mana Aglio Olionya? Saya akan menghancurkan reputasi restoran ini!”
“Maaf, Nyonya. Koki kami, Pak Galaksi, mengatakan ia tidak memiliki pohon zaitun yang telah menyelesaikan gelar sarjana musik. Namun, ia menawarkan solusi yang sama imajinatifnya dengan pesanan Anda.”
Nyonya Kirana menarik napas untuk meluncurkan makian, tetapi terhenti. Tiba-tiba, ia menyeringai.
“Menarik. Koki yang berani. Beri tahu dia… ulasan saya akan mendapatkan empat bintang. Satu bintang hilang karena dia tidak menggunakan font yang benar pada memo itu. Sekarang, tolong bawakan saya sup hari ini. Yang standar saja.”
Rizal menghela napas lega. “Tentu, Nyonya. Sup hari ini. Yang standar.” Ia buru-buru kembali ke dapur, meninggalkan piring kosong itu di tengah meja. Di dapur, Pak Galaksi sudah kembali ke wajannya, senyum tipis, hampir tidak terlihat, tersungging di bibirnya. Rizal tahu, di tempat ini, terkadang konflik konyol adalah cara terbaik untuk menjaga kewarasan. (*)








