Air Terjun Penari dan Sumpah Dewi

Remaja penari
Ilustrasi seorang gadis penari muda belia merangkap pelestari tradisi di depan air terjun. (Image: Dibuat dengan AI/Nusaweek)
banner 468x60

KETENANGAN pagi di Desa Amanderu pecah oleh panggilan cemas dari Pak Wayan, kepala desa. Di bawah Air Terjun Manik Piturun yang menjulang, satu-satunya yang tersisa dari Ni Luh Sekarlita adalah sehelai selendang Pradakain sutra bersulam emas yang biasa ia kenakan untuk menari.

Sekarlita, penari Legong termuda di garis keturunan Amanderu, baru kembali setelah tujuh tahun belajar tari kontemporer di luar negeri. Kepulangannya adalah untuk mementaskan kembali Tarian Dewi Subali, sebuah ritual yang dilarang sejak tahun 1950-an karena dianggap terlalu kuat energinya.

“Dia pergi melukat subuh tadi,” ujar Made Murni, ibunda Sekarlita, suaranya bergetar. “Untuk menyucikan diri sebelum latihan besar. Air Terjun Manik Piturun adalah air suci keluarga kami. Sekarang, dia hilang!”

Di antara gemuruh air yang memekakkan telinga, detektif Ida Bagus Arya memeriksa tebing di belakang air terjun. Selendang Prada Sekarlita tersangkut rapi di celah batu, sekitar lima meter di atas permukaan kolam.

“Ini bukan kecelakaan biasa, Pak Wayan,” kata Arya, menunjuk ke arah selendang. “Kalau dia terpeleset, selendangnya pasti terkoyak atau hanyut. Ini seperti sengaja digantung.”

Wayan memejamkan mata, memegang erat tongkatnya. “Ada yang bilang, penunggu Manik Piturun marah. Sekarlita membawa pulang roh asing, roh modern yang mencemari kesucian air. Dewi ingin tumbal, Detektif.”

“Atau,” sela Jero Pasek, sesepuh adat yang berdiri di samping mereka, “Dia melanggar Sumpah Leluhur. Tarian Dewi Subali itu berat. Hanya boleh ditarikan saat desa dalam bahaya besar. Kami sudah memperingatkan Made.”

Arya menghela napas. Di desa tersebut, mitos selalu berjalan beriringan dengan realitas. “Made, tolong jelaskan lagi. Kapan terakhir kali Anda melihat Sekarlita?”

“Pukul lima pagi. Dia membawa sesajen kecil dan sebotol air. Katanya mau mengambil tirta (air suci) langsung dari titik jatuhnya air, tempat paling dalam.” Made terisak, “Dia berjanji akan kembali sebelum matahari meninggi.”

Saat tim evakuasi memulai pencarian, Arya memperhatikan Jero Pasek. Sesepuh itu tampak terlalu tenang.

“Jero Pasek,” panggil Arya dengan nada lembut. “Sehelai kain sutra sehalus ini, tersangkut di batu. Apa menurut Anda benar-benar roh yang melakukannya?”

Jero Pasek menatap Arya dengan mata tajam. “Roh tidak perlu menggantung, Detektif. Roh bisa mengambil jiwa tanpa jejak.”

“Saya dengar Anda paling menentang pementasan Tarian Dewi Subali. Kenapa?”

Jero Pasek berdehem. “Tarian itu menyimpan rahasia. Rahasia yang lebih baik terpendam di balik sumpah leluhur. Jika Sekar memaksa menarikan itu, Amanderu akan hancur, bukan terselamatkan.”

Saat itulah salah satu penyelam berteriak dari balik gemuruh air. Ia menemukan sesuatu. Bukan tubuh Sekar, melainkan sebuah kotak kayu kecil, terukir rumit, tersangkut di ceruk tersembunyi di bawah air.

Kotak itu dibuka di balai desa. Di dalamnya, terbaring sebuah kalung perak tua dengan liontin batu Giok hijau, berkilauan seperti air sungai. Artefak itu jelas sangat kuno dan berharga.

Made langsung mengenali perhiasan itu. “Itu… Kalung Dewi Gangga! Disebutkan dalam lontar kuno bahwa kalung itu hilang ratusan tahun lalu. Sekarlita sedang mencari tahu tentang kalung ini!”

Arya kembali menatap Jero Pasek. “Jero, Anda bilang tarian itu menyimpan rahasia. Apakah rahasia itu terkait kalung ini?”

Pak Wayan, sang kepala desa, akhirnya angkat bicara, wajahnya pucat. “Jero Pasek… dia tahu. Tiga hari lalu, dia memimpin rapat desa rahasia. Dia meyakinkan kami bahwa kalung itu adalah kunci kekayaan desa yang harus dijual untuk membangun hotel besar. Dia bilang, tarian Sekarlita akan mengungkap lokasi kalung itu.”

Jero Pasek membeku, kekompakannya runtuh. “Itu demi kemakmuran!”

Arya mengangguk. “Sekar tidak hilang karena roh, Made. Ia mungkin menemukan kalung ini saat melukat di ceruk itu, persis seperti yang Anda duga. Ia menyembunyikannya dan menolak menjualnya.”

“Lalu dia di mana?” tanya Made panik.

“Sekarlita tidak diambil penunggu air. Dia diambil penunggu harta. Pak Wayan, Anda bilang dia memimpin rapat rahasia. Siapa lagi yang ada di rapat itu? Siapa yang tahu Sekar pergi melukat pagi ini?”

Pak Wayan menelan ludah, menunjuk ke dua pemuda di kerumunan yang sejak tadi terlihat gelisah. Mereka adalah keponakan Jero Pasek. Sekarlita, yang mencintai desanya lebih dari apa pun, pasti diseret dan disembunyikan. Bukan oleh mitos, melainkan oleh keserakahan yang terbungkus rapi dalam kain sakral. Sumpah Dewi hanya menjadi tameng bagi rencana kotor mereka. Sekarlita tidak melanggar sumpah, justru mereka yang melanggar hukum.

Pencarian pun dialihkan. Bukan mencari di bawah air, melainkan di perkebunan terpencil yang dimiliki oleh keluarga Jero Pasek.

Ida Bagus Arya dan beberapa polisi segera menuju perkebunan cengkeh tua milik keluarga Jero Pasek yang terletak jauh di lereng bukit. Setelah hampir satu jam menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi semak belukar, mereka menemukan sebuah gubuk kayu yang tertutup rapat dan tersembunyi di balik pohon beringin raksasa.

Di dalamnya, Sekarlita ditemukan terikat dan tersumpal, tetapi selamat. Dia tampak pucat dan kelelahan, tetapi matanya memancarkan tekad yang sama kuatnya dengan karakter Dewi Subali yang akan ia tarikan. Dua keponakan Jero Pasek yang menjaganya berhasil diringkus tanpa perlawanan berarti. Di tengah desahan lega Sekarlita, Arya tahu bahwa kalung itu adalah beban sekaligus anugerah—sebuah artefak yang akan menentukan nasib desa.

Jero Pasek, melihat Sekarlita yang kembali tanpa cedera dan kalung itu berada dalam pengamanan Arya, hanya bisa tertunduk. Rencana besarnya untuk menjual warisan suci desa telah gagal. Beberapa hari kemudian, Sekarlita, dengan jiwa modern dan kearifan leluhurnya, berhasil mementaskan Tarian Dewi Subali. Ia tidak hanya menyucikan diri, tetapi juga menyucikan Amanderu dari niat buruk.

Kalung Dewi Gangga kini diamankan di Pura Agung desa, dan Air Terjun Manik Puturun kembali menjadi sumber tirta yang damai, tanpa perlu tumbal. Sekarlita telah membuktikan bahwa rahasia leluhur lebih berharga daripada kekayaan sesaat, dan bahwa bukan roh, melainkan hati manusia, yang paling rentan terhadap kegelapan. (*)

banner 300x250

Related posts