MATAHARI sudah sepenggalah di atas Pantai Jimbaran, Bali. Aroma ikan bakar dan semilir angin laut bercampur menjadi simfoni yang sempurna. Di Warung Ikan Bakar ‘Jaya Minaru,’ Pak Made, sang pemilik, sibuk bolak-balik melayani pelanggan. Warungnya memang sederhana, tapi masakan ikan bakar-nya sudah terkenal seantero Jimbaran.
“Pak Made, cumi bakar saya mana? Perut saya sudah demo ini!” teriak seorang pria berbadan tegap dengan topi pantai yang miring, tangannya sibuk mengipasi asap dari panggangan di depannya. Namanya Kapten Jaka, mantan nelayan yang banting setir jadi pemancing wisata. Dia punya julukan ‘Si Raja Mancing’ karena konon tak pernah pulang tanpa tangkapan besar.
“Sabar, Kapten! Cumi bakar terakhir sedang dalam perjalanan!” sahut Pak Made sambil tersenyum lebar. Ia menoleh ke arah panggangan. “Lho, mana cumi bakarnya, Komang?”
Komang, sang juru bakar yang biasanya cekatan, kini tampak pucat. “Pak Made… cumi bakarnya… hilang!”
Senyum Pak Made luntur. “Hilang? Bagaimana bisa hilang? Itu cumi paling besar yang baru kita dapat dari Kapten Jaka tadi pagi!”
Kapten Jaka mendengar percakapan itu dan langsung melonjak. “Apa?! Cumi bakar terakhir saya hilang?! Ini tidak bisa diterima! Ini lebih buruk dari gagal mancing seminggu!”
Suasana di warung mendadak hening. Semua mata tertuju pada Kapten Jaka dan Komang yang kini berkeringat dingin. Pak Made menghela napas. “Baiklah, Kapten. Tenang dulu. Kita akan cari tahu ke mana perginya cumi bakar itu. Ini bukan hanya soal cumi, ini soal reputasi Warung Jaya Minaru!”
Pak Made, dengan sigapnya mengambil posisi layaknya detektif profesional, meskipun hanya berbekal serbet di pinggang. “Komang, ceritakan apa yang terjadi.”
Komang tergagap. “Saya… saya sedang membakar ikan baronang, lalu saya menaruh cumi bakar itu di atas arang panas. Saya menoleh sebentar untuk mengambil kecap, dan ketika saya kembali… plof! Cumi itu sudah tidak ada!”
“Tidak ada bekas jatuh? Atau dimakan kucing?” tanya Kapten Jaka, matanya menyipit curiga.
“Tidak, Kapten! Kucing di sini tidak berani macam-macam kalau ada saya!” jawab Komang, mencoba membela diri.
“Hmm,” Pak Made mengelus dagunya yang ditumbuhi janggut tipis. “Misteri cumi bakar terakhir. Menarik.”
Ia mulai menanyai para pelanggan lain. Ada Bu Wayan, pedagang kain di pasar seni, yang asyik menggoreng tempe di pinggir warung.
“Bu Wayan, apakah Anda melihat sesuatu yang mencurigakan?” tanya Pak Made.
Bu Wayan menggeleng. “Tidak, Pak Made. Saya hanya fokus dengan tempe saya. Tapi, saya dengar tadi ada suara plof yang aneh dari arah panggangan.”
“Hanya itu?” Pak Made sedikit kecewa.
“Ya, dan Pak Tua itu,” Bu Wayan menunjuk seorang kakek tua yang sedang asyik menyeruput es kelapa muda. “Dia dari tadi melirik ke arah panggangan terus.”
Pak Made menghampiri sang kakek. “Permisi, Kek. Apakah Kakek melihat sesuatu yang aneh?”
Kakek itu tersenyum tanpa gigi. “Aneh? Oh, itu… Tadi ada burung camar besar sekali, terbang rendah sekali di atas panggangan. Warnanya putih bersih, tapi matanya tajam sekali. Dia melayang, lalu…” Kakek itu membuat gerakan menyambar dengan tangannya.
“Burung camar?” Kapten Jaka tertawa sinis. “Bajak laut tidak pakai burung camar, Pak Made! Mereka pakai perahu!”
Pak Made mengabaikan Kapten Jaka dan kembali ke Komang. “Komang, apakah ada sisa-sisa cumi di sekitar panggangan? Atau sesuatu yang jatuh dari langit?”
Komang memeriksa dengan teliti. “Tidak ada, Pak. Benar-benar bersih. Kecuali… ini. Ada setetes air asin di arang.”
Setetes air asin? Pak Made melihat ke atas. Langit cerah, tak ada awan. Tiba-tiba, ia teringat cerita kakek tadi tentang burung camar besar.
“Kapten Jaka,” panggil Pak Made. “Apakah Anda ingat kejadian aneh saat Anda memancing cumi tadi pagi?”
Kapten Jaka mengernyitkan dahi. “Aneh? Oh, itu! Tadi ada sekelompok burung camar yang sangat besar dan sangat berani. Mereka terus-menerus mengganggu umpan saya. Satu di antaranya bahkan mencoba menyambar cumi yang baru saja saya tangkap!”
Mata Pak Made berbinar. “Kapten, saya rasa kita tidak sedang berhadapan dengan bajak laut berjanggut, tapi bajak laut bersayap!”
Kapten Jaka dan Komang saling pandang, bingung.
“Maksud Bapak?” tanya Komang.
“Cumi bakar itu tidak hilang dicuri manusia. Tapi dicuri oleh burung camar raksasa!” Pak Made tersenyum penuh kemenangan. “Suara plof yang didengar Bu Wayan adalah suara camar yang menyambar cumi. Setetes air asin di arang adalah bekas cumi yang baru diangkat dari laut. Dan kakek itu melihat semuanya!”
Semua orang di warung tertawa. Kapten Jaka, yang tadinya marah, kini menggaruk kepalanya. “Bajak laut camar? Seumur-umur saya jadi pemancing, baru kali ini saya kalah sama burung!”
Pak Made terkekeh. “Itulah Bali, Kapten. Selalu ada kejutan. Sekarang, Komang, siapkan cumi bakar yang baru. Kali ini, panggangnya di dalam, jangan sampai ada ‘bajak laut bersayap’ lagi!”
Komang langsung berlari ke dapur, lega. Kapten Jaka akhirnya memesan ikan bakar lain, sambil berjanji akan membawa jaring anti-burung untuk kunjungan memancingnya yang berikutnya. Pak Made kembali ke bangku kasir, tersenyum puas. Di Warung Ikan Bakar Jaya Minaru, setiap hidangan adalah petualangan, dan setiap misteri pasti terpecahkan, meskipun pelakunya terkadang hanya seekor burung camar lapar. (*)







