Melukat Waktu: Elegi Sang Fotografer

Fotografer
Ilustrasi fotografer Aris di sumur tua. (Image: Dibuat dengan AI)
banner 468x60

LENSA kamera Sony Alpha di leher Aris terasa berat saat ia menyusuri tebing curam di selatan Pulau Dewata. Cahaya Golden Hour sedang berada pada puncaknya—emas, kental, dan magis. Aris mencari sudut yang belum pernah diambil orang lain untuk pameran foto-nya bulan depan.

Ia melihat sebuah reruntuhan gapura batu yang tertutup akar beringin, tak jauh dari sebuah pura kecil yang menjorok ke laut. Di baliknya, ada sebuah sumur tua dengan ukiran relief yang sudah haus dimakan zaman. Penasaran, ia melangkah terlalu dekat ke bibir sumur yang rapuh.

Read More

Krak!

Tanah di bawah kakinya amblas. Pandangan Aris menggelap saat ia terperosok ke dalam kegelapan yang lembap.

————-

Saat terbangun, telinga Aris berdenging. Namun, yang pertama ia sadari bukanlah rasa sakit, melainkan aroma yang berbeda. Tidak ada bau knalpot motor atau aroma sunblock turis. Udara berbau kayu terbakar, tanah basah, dan dupa yang sangat murni.

Ia merangkak keluar dari sumur yang ternyata tidak sedalam itu. Namun, pemandangan di depannya membuatnya mematung. Hotel gergasi di kejauhan telah hilang. Sebagai gantinya, hanya ada hamparan sawah bertingkat dan hutan kelapa yang rapat.

Nyen ento… napi nika (Bahasa Bali: Siapa itu…. apa itu)?” sebuah suara berat mengejutkannya.

Aris menoleh. Seorang pria bertelanjang dada dengan saput (kain) kotak-kotak sederhana berdiri memegang sabit. Di sampingnya, seorang pria asing berkulit pucat mengenakan kemeja linen krem sedang memegang buku sketsa.

“Kau jatuh dari sumur tua itu, anak muda? Pakaianmu… aneh sekali,” ucap pria asing itu dalam bahasa Inggris dengan aksen Eropa yang kental.

Aris bangkit dengan gemetar. “Ini tahun berapa? Dan siapa Anda?”

Pria asing itu tersenyum tipis. “1932. Saya Walter Spies. Dan ini kawan saya, Wayan. Kau terlihat seperti baru saja jatuh dari masa depan.”

Aris tercekat. Walter Spies? Maestro yang mengubah wajah seni Bali? “Saya… saya fotografer. Nama saya Aris.”

“Fotografer?” Mata Walter berbinar. Ia melihat kamera digital di leher Aris yang untungnya tidak hancur. “Alat apa itu? Bentuknya sangat ringkas, tidak seperti kamera plat milik teman-teman saya dari Batavia.”

Wayan, sang petani, mendekat dengan wajah cemas. “Tuan Walter, anak ini pucat. Dia jatuh di tempat keramat (tenget). Jiwanya mungkin tertinggal di bawah sana.”

Wayan menatap Aris dengan tulus. “Gus (Nak), kamu harus melukat. Sumur itu bukan sembarang sumur. Itu penjaga batas. Mari ke pancuran suci di bawah pura, bersihkan diri sebelum kamu tersesat lebih jauh di zaman yang bukan milikmu.”

Aris mengikuti mereka dengan perasaan campur aduk. Sepanjang jalan menuju pantai, ia menyaksikan Bali yang murni. Para perempuan berjalan anggun membawa bakul di kepala tanpa merasa risi dengan dada yang terbuka, sebuah pemandangan yang kelak hanya akan ada di buku sejarah. Di sebuah Banjar yang mereka lewati, suara gamelan mengalun, namun ritmenya terasa lebih lambat dan sakral daripada yang pernah Aris dengar di YouTube.

“Bali sedang berubah, Aris,” gumam Walter sambil menunjuk ke arah pelabuhan jauh di sana. “Kapal-kapal uap mulai membawa lebih banyak orang seperti saya. Keindahan ini… saya takut ia akan menjadi barang dagangan.”

Tiba di pancuran suci dekat pura tebing, Aris dipandu oleh seorang pemangku setempat. Air suci (tirta) diguyurkan ke kepalanya. Dingin. Sangat dingin hingga menusuk sumsum tulang belakangnya. Saat matanya terpejam di bawah kucuran air, ia mendengar bisikan doa yang seolah menarik kesadarannya kembali ke permukaan.

———–

Byurr!

Aris tersentak. Ia terbangun di dasar sumur yang sama, namun kondisinya berbeda. Sumur itu kini dikelilingi pagar besi dan papan peringatan “Area Berbahaya”. Bau knalpot dan dentum musik beach club di kejauhan kembali merobek keheningan.

Ia berhasil memanjat keluar dengan sisa tenaga. Kamera di lehernya masih ada. Saat ia mengecek galeri fotonya, tidak ada foto Walter Spies. Namun, ada satu foto yang membuatnya merinding: sebuah foto top-down ke dalam sumur yang menampakkan bayangan dirinya sendiri, namun mengenakan kain tradisional tahun 30-an.

Keesokan harinya, masih dengan perasaan linglung setelah prosesi melukat yang ia lakukan secara resmi di Pura Tirta Empul untuk menenangkan jiwanya, Aris pergi ke perpustakaan Banjar setempat yang menyimpan dokumentasi lama.

Ia membuka sebuah album tua berisi foto-foto hitam putih karya fotografer asing tahun 1930-an. Tangannya bergetar saat melihat sebuah foto aktivitas warga Banjar yang sedang berlatih tari. Di pojok foto itu, di balik kerumunan penari, terlihat sesosok pria samar yang mengenakan kaos hitam modern dan memegang kamera digital—sosok itu sangat mirip dengannya.

Di bawah foto itu tertulis catatan kaki kecil: “Seorang pengelana misterius yang muncul di sumur selatan, 1932.”

Aris menyandarkan punggungnya di kursi kayu. Ia baru menyadari, ia bukan sekadar memotret Bali. Bali baru saja “memotret” dirinya ke dalam sejarah yang abadi.

————–

Aris tidak bisa tidur. Bayangan dirinya dalam foto hitam putih tahun 1932 itu terus menghantui pikirannya seperti butiran pasir yang masuk ke dalam mata—mengganjal dan tak bisa diabaikan.

Keesokan paginya, Aris kembali ke Banjar (subkelompok dari desa adat) tersebut. Kali ini ia tidak datang sebagai turis, melainkan sebagai detektif sejarah. Ia menemui Pak Wayan Sudira, seorang tetua Banjar yang juga pengelola arsip desa.

“Pak, foto ini,” Aris menunjuk lembaran usang itu. “Siapa yang mengambilnya? Di catatan tertulis fotografer asing, tapi tidak ada namanya.”

Pak Sudira mengenakan kacamata bacanya, mengamati foto itu lama sekali. “Ah, ini. Koleksi dari Lontar Library. Konon, ini diambil oleh asisten Walter Spies, seorang pria Jerman yang terobsesi dengan ‘bayangan’. Tapi ada cerita tutur di Banjar kami, Gus. Katanya, fotografernya sendiri ketakutan setelah mencuci film ini.”

“Ketakutan kenapa?”

“Karena dia merasa tidak pernah memotret orang itu. Orang berbaju hitam di pojok itu… warga desa dulu menyebutnya Sang Penunggu Waktu,” jawab Pak Sudira tenang sembari menyesap kopi pahitnya.

Aris merasa tengkuknya mendingin. “Di mana asisten itu sekarang? Atau keturunannya?”

“Dia tidak punya keturunan di sini. Tapi dia meninggalkan sebuah kotak kayu berisi plat film yang belum sempat dicetak di sebuah gudang tua milik puri (istana). Kalau kamu mau, pergilah ke Puri Kelod. Bilang saja aku yang mengutusmu.”

—————–

Puri Kelod adalah bangunan megah yang separuhnya sudah menjadi reruntuhan eksotis. Di sana, di sebuah ruangan gelap yang berbau apek dan kemenyan, Aris menemukan kotak kayu bertuliskan nama “Otto”. Di dalamnya, tersimpan klise kaca yang sangat rapuh.

Dengan bantuan alat pemindai (scanner) portabel yang selalu ia bawa, Aris mencoba mendigitalisasi salah satu klise yang paling utuh. Saat gambar itu muncul di layar laptopnya, jantung Aris seakan berhenti berdetak.

Itu adalah foto sumur tua di pantai selatan. Di samping sumur itu, berdiri Walter Spies, Wayan sang petani, dan… seorang pria yang memegang kamera plat tua.

Aris memperbesar (zoom) wajah fotografer dalam foto itu. Ia hampir terjatuh dari kursinya. Pria di tahun 1932 yang memegang kamera plat itu memiliki tahi lalat yang sama di bawah mata kirinya. Struktur rahangnya, sorot matanya… itu adalah Aris.

“Tidak mungkin,” bisik Aris. “Kalau yang di pojok banjar itu saya dari masa depan… lalu siapa pria yang memegang kamera plat ini?”

Tiba-tiba, sebuah surat terselip di dasar kotak kayu. Kertasnya sudah sangat rapuh, ditulis dalam bahasa Jerman dan terjemahan bahasa Bali kasar di baliknya.

“Kepada siapapun yang menemukan ini. Bali tidak pernah berubah, hanya kita yang berganti kulit. Aku terjatuh ke sumur itu tahun 2024, namun aku memilih tinggal di sini, di tahun 1932. Dunia di masamu terlalu bising, Aris. Aku lebih suka suara gamelan tanpa kabel listrik. Jangan cari jalan pulang, carilah alasan untuk menetap.”

— Otto (Aris)

Aris terduduk lemas di lantai puri. Jadi, perjalanan itu bukan sekali terjadi? Atau mungkin, ia terjebak dalam sebuah putaran waktu (time loop)? Otto adalah dirinya yang memilih untuk tidak kembali.

Ia teringat saran Pak Sudira untuk kembali melukat jika pikirannya kacau. Aris pun kembali ke sumur tua di tepi tebing itu saat matahari mulai terbenam—saat Golden Hour kembali menyapa.

Ia berdiri di bibir sumur. Di satu sisi, ada dunia modern dengan kebisingan dan kameranya yang canggih. Di sisi lain, di bawah sana, ada kesunyian tahun 1932 yang murni, di mana setiap jepretan kamera adalah sebuah keajaiban, bukan sekadar konten media sosial.

Aris menatap kamera Sony Alpha miliknya, lalu menatap ke dalam gelapnya sumur.

“Apakah aku harus memilih?” tanyanya pada angin laut.

Tiba-tiba, dari dalam sumur, sayup-sayup terdengar suara gamelan yang sama dengan yang ia dengar saat bertemu Walter Spies. Suaranya begitu nyata, begitu memanggil.

Aris melangkah maju satu kali lagi. Kali ini, ia tidak terpeleset. Ia melompat dengan sengaja.

——————

Penutup:

Cahaya matahari terbenam menghilang. Di atas tebing, hanya tertinggal sebuah kamera Sony Alpha yang tergeletak di tanah, menyala sebentar sebelum baterainya habis, menampilkan foto terakhir: Sebuah desa di Bali tahun 1930-an yang sangat indah, dengan resolusi 8K yang mustahil untuk zaman itu.

Beberapa jam setelah Aris melompat, keheningan di atas tebing itu pecah oleh suara langkah sepatu bot yang berat. Seorang vlogger petualang dengan lampu LED di atas kepalanya menemukan kamera Sony Alpha milik Aris yang tergeletak di dekat bibir sumur.

Guys, lihat ini! Aku menemukan kamera mahal di dekat tempat keramat,” serunya ke arah kamera ponselnya.

Ia memungut kamera itu, mencoba menekan tombol playback. Namun, layarnya mati total. Meski baterainya masih penuh, kamera itu seolah-olah kehilangan nyawanya tepat saat pemiliknya pergi.

—————-

Epilog: Jejak Digital yang Abadi

Kamera Aris akhirnya dibawa ke pusat servis di Denpasar, lalu berakhir di tangan seorang ahli forensik data karena laporan orang hilang atas nama Aris viral di internet. Saat teknisi berhasil menyalakan kembali mesinnya, mereka menemukan sesuatu yang mustahil secara teknis.

* Folder Foto: Di dalam kartu memori 128GB itu, hanya ada satu folder. Tanggal modifikasinya tercatat: 15 Agustus 1932.

* File Metadata: Saat dibuka, metadata foto menunjukkan kecepatan rana (shutter speed) dan ISO modern, namun objek yang tertangkap adalah upacara Ngaben besar-besaran di sebuah puri yang sudah runtuh sejak zaman penjajahan Jepang.

Foto itu sangat jernih. Begitu jernih hingga Anda bisa melihat butiran debu di udara dan ekspresi ketakutan seorang serdadu Belanda di sudut kerumunan yang menatap ke arah lensa—seolah ia melihat hantu dari masa depan.

————-

Warisan di Banjar

Sementara itu, di masa kini, Pak Wayan Sudira sedang membersihkan arsip di Banjar. Ia menemukan sebuah amplop tua yang terselip di balik lemari kayu jati yang tidak pernah dibuka selama puluhan tahun.

Di dalamnya terdapat sebuah cetakan foto kuno dengan kualitas kertas yang aneh—sangat halus, mirip kertas foto glossy modern namun sudah menguning. Foto itu memperlihatkan Aris (atau Otto) yang sedang tertawa bersama Walter Spies di sebuah beranda kayu. Di belakang foto itu ada tulisan tangan yang segar, seolah baru ditulis kemarin:

“Sudira, jika anak muda dengan kamera hitam kecil datang mencariku, katakan padanya: Terima kasih sudah meminjamkan ragamu. Di sini, waktu tidak pernah habis untuk memotret keindahan.”

Pak Sudira tersenyum kecil. Ia melipat kembali foto itu. Di luar, suara pembangunan hotel baru masih terdengar bising, tapi bagi Pak Sudira, ia tahu bahwa di suatu tempat di bawah sumur tua itu, Bali yang “asli” masih terjaga oleh seorang fotografer yang menolak untuk pulang.

————

Analisis Budaya dalam Cerita Ini:

Cerita ini mencerminkan konsep “Sekala Niskala” (yang terlihat dan yang tidak terlihat) dalam budaya Bali. Aris tidak hanya berpindah tempat, tapi berpindah dimensi ke sisi Niskala dari sejarah Bali. (*)

banner 300x250

Related posts